neuroscience dibalik rasa percaya
mengapa memiliki teman membuat rasa takut jadi berkurang
Bayangkan skenario ini. Kita sedang berjalan sendirian di sebuah gang agak gelap pada malam hari. Lampu jalan berkedip-kedip muram. Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari arah tong sampah. Otomatis, jantung kita berdegup kencang, otot menegang, dan napas jadi lebih pendek.
Tapi sekarang, coba putar ulang skenario yang sama. Hanya saja kali ini, kita berjalan sambil tertawa lepas bersama sahabat karib kita. Saat suara gemerisik itu terdengar, reaksi kita sangat berbeda. Kita mungkin cuma saling tatap, lalu menertawakannya dan lanjut berjalan.
Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa kehadiran seorang teman bisa membuat hal yang menakutkan terasa jauh lebih biasa saja? Ini bukan sekadar ilusi psikologis atau sugesti belaka. Ada sihir biologis—sebuah mekanisme hard science—yang sedang bekerja secara diam-diam di dalam kepala kita.
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu untuk memahami mesin di kepala kita. Nenek moyang kita hidup di lingkungan yang sangat tidak ramah. Hewan buas, cuaca ekstrem, dan ancaman suku lain mengintai setiap saat.
Untuk bisa bertahan hidup, otak kita mengembangkan sebuah sistem alarm keamanan tingkat tinggi. Di pusat otak, ada sebuah struktur kecil berbentuk seperti kacang almond yang bernama amygdala. Ini adalah tombol panik kita. Saat mendeteksi bahaya, amygdala akan langsung menyuntikkan hormon stres ke seluruh tubuh agar kita siap lari dari kejaran bahaya atau melawannya.
Masalahnya, tombol panik ini sangat sensitif. Di dunia modern, kita tidak lagi dikejar harimau purba. Namun, amygdala kita tetap menyala liar saat kita cemas memikirkan tagihan, takut gagal saat presentasi, atau merasa dihakimi orang lain. Rasanya melelahkan sekali, bukan?
Namun, jangan khawatir. Evolusi tidak sekejam itu. Alam juga membekali kita dengan sebuah penawar yang luar biasa. Sebuah cheat code biologis yang bisa meredam alarm tersebut tanpa kita sadari. Dan uniknya, penawar itu tidak berada di dalam diri kita sendirian. Penawar itu bernama: orang lain.
Sekarang, mari kita masuk ke ruang laboratorium neurosains. Dr. James Coan, seorang psikolog ternama, pernah melakukan eksperimen yang sangat elegan namun berhasil membuka mata dunia tentang cara kerja rasa percaya.
Bayangkan kita berbaring di dalam mesin pemindai otak raksasa (fMRI). Di pergelangan kaki kita terpasang alat yang sesekali akan memberikan kejutan listrik kecil. Rasanya cukup bikin kaget dan tidak nyaman. Saat partisipan sendirian menunggu kejutan listrik itu, layar pemindai menunjukkan otak mereka menyala terang benderang. Area pemicu stres dan rasa panik berteriak histeris di dalam kepala mereka.
Namun, eksperimen ini punya babak kedua. Dr. Coan meminta partisipan memegang tangan seseorang saat menunggu datangnya kejutan listrik tersebut. Hasilnya benar-benar mengejutkan.
Saat mereka memegang tangan orang asing, rasa takut sedikit menurun. Tapi, saat mereka menggenggam tangan teman dekat atau pasangan yang sangat mereka percaya? Peta otak mereka berubah drastis. Area yang mengurus rasa sakit dan kecemasan tiba-tiba meredup dan menjadi tenang. Otak mereka merespons ancaman itu seolah-olah bahayanya sudah lewat.
Bagaimana bisa sebuah genggaman tangan sederhana meretas sistem keamanan paling purba di otak kita? Zat apa yang sebenarnya sedang bekerja sebagai "peredam suara" di balik layar kesadaran kita?
Di sinilah kita sampai pada bagian paling menakjubkan dari arsitektur otak manusia. Jawabannya terletak pada perpaduan sebuah molekul kecil dan sistem penghematan energi di otak kita.
Pertama, mari berkenalan lagi dengan hormon oxytocin. Selama ini, media sering menyebutnya sebagai hormon cinta atau hormon pelukan. Tapi di dunia neurosains, peran oxytocin jauh lebih tangguh dari sekadar pemanis romansa. Saat kita berada di dekat orang yang kita percaya, otak kita dibanjiri oleh zat ini. Oxytocin lalu berenang menuju amygdala dan bertindak layaknya rem cakram pakem. Ia secara harfiah menurunkan volume rasa takut di otak.
Kedua, ada fenomena yang dinamakan social buffering dan load sharing (berbagi beban). Otak kita pada dasarnya adalah mesin pemalas yang sangat ingin menghemat energi. Saat kita sendirian menghadapi dunia, bagian otak logis kita, yakni prefrontal cortex, harus bekerja keras sendirian memindai setiap sudut untuk mencari ancaman. Itu menguras sangat banyak energi mental.
Nah, ketika kita bersama teman yang kita percaya, otak kita secara otomatis membagi beban kewaspadaan ini. Otak kita seolah berbisik, "Oke, karena dia ada di sini, aku tidak perlu terus-terusan waspada 100 persen. Dia juga akan ikut menjaga punggungku."
Kepercayaan, secara neurobiologis, adalah kemampuan otak kita melakukan outsourcing rasa takut kepada orang lain. Kita menumpang pada ketenangan teman kita, dan begitu pula sebaliknya.
Mempelajari sains di balik ini semua rasanya mengubah total cara kita memandang makna persahabatan. Memiliki teman yang bisa diandalkan ternyata bukan cuma soal punya teman nongkrong di akhir pekan, atau sekadar tempat curhat saat putus cinta. Lebih dari itu, mereka adalah perisai biologis kita.
Di dunia modern yang bergerak serba cepat dan semakin individualis, kita sering kali diajarkan untuk menjadi superhero yang mandiri. Kita didikte bahwa menjadi kuat berarti mampu menelan semua ketakutan sendirian secara soliter. Padahal, sains membuktikan hal yang persis sebaliknya. Ketangguhan sejati kita sebagai manusia justru mekar saat kita berani terhubung dengan manusia lain.
Rasa takut, cemas, dan was-was itu sangat wajar. Dunia ini memang kadang menjadi tempat yang menakutkan. Tapi beruntunglah, anatomi otak kita sudah didesain sedemikian rupa agar beban seberat itu tidak perlu ditanggung sendirian.
Jadi, teman-teman, jika kehidupan hari ini terasa agak berat, menakutkan, dan membuat dada sesak, mungkin jalan keluarnya tidak selalu berupa strategi problem-solving yang rumit. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah menghubungi seorang sahabat, duduk minum kopi bersama, saling bercerita, dan membiarkan neurokimia purba di dalam otak kita melakukan keajaibannya.