neurobiologi adrenalin

cara hormon stres mengubah kita jadi pahlawan atau pelari

neurobiologi adrenalin
I

Pernahkah kita mengalami momen di mana waktu seolah melambat? Bayangkan skenario ini. Kita sedang berjalan santai di pinggir jalan. Tiba-tiba, dari sudut mata, ada motor melaju kencang ke arah kita. Kelakson berbunyi nyaring. Tanpa sempat berpikir panjang, tubuh kita melompat mundur. Jantung berdegup sangat kencang. Tangan kita gemetar, napas menjadi pendek, dan anehnya, pandangan kita menjadi sangat fokus pada motor tersebut. Semuanya terjadi hanya dalam hitungan milidetik. Setelah bahaya lewat, kita mungkin berdiri di trotoar sambil berpikir, "Bagaimana saya bisa bereaksi secepat itu?" Kita baru saja merasakan salah satu sistem pertahanan paling kuno dan paling canggih di dunia. Sebuah molekul kecil baru saja mengambil alih tubuh kita, mengubah kita dari pejalan kaki yang melamun menjadi ninja yang waspada. Molekul itu bernama adrenalin.

II

Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat momen kritis itu tiba. Di dalam otak kita, ada sebuah struktur kecil berbentuk kacang almond yang bernama amygdala. Anggap saja ini sebagai radar pendeteksi ancaman. Saat mata dan telinga kita menangkap sinyal bahaya—seperti suara kelakson motor tadi—amygdala langsung menekan tombol panik. Sinyal ini dikirim ke hypothalamus, pusat komando otak kita. Tanpa menunggu persetujuan dari bagian otak yang logis, hypothalamus langsung meneriaki kelenjar adrenal yang ada di atas ginjal kita. "Bahaya! Lepaskan pasukan sekarang!" Kelenjar ini kemudian menyemprotkan hormon epinephrine, atau yang lebih sering kita sebut adrenalin, langsung ke aliran darah. Efeknya instan. Pupil mata kita melebar agar bisa melihat lebih jelas. Saluran napas terbuka lebar untuk meraup lebih banyak oksigen. Darah ditarik dari sistem pencernaan dan dipompa deras ke otot-otot besar di kaki dan tangan. Tubuh kita, dalam sekejap mata, bersiap untuk dua pilihan purba: bertarung nyawa atau lari sekencang mungkin. Inilah respons fight or flight. Ini adalah warisan dari nenek moyang kita. Ratusan ribu tahun yang lalu, sistem inilah yang menyelamatkan mereka dari terkaman harimau gigi pedang.

III

Namun, ini memunculkan pertanyaan yang sangat menarik bagi kita. Mengapa respons ini bisa membuat seseorang menjadi pahlawan, sementara yang lain justru kaku tak bisa bergerak? Kita pasti pernah mendengar cerita epik tentang seorang ibu yang tiba-tiba mampu mengangkat mobil demi menyelamatkan anaknya yang terjepit. Di dunia medis, fenomena ini dikenal sebagai hysterical strength. Apakah cerita itu mitos belaka? Atau mungkinkah kita semua sebenarnya memiliki kekuatan super yang tersembunyi, menunggu tombol yang tepat untuk ditekan? Lalu, ada sisi lain dari koin ini. Bagaimana jika kita tidak bertarung, dan tidak juga lari? Bagaimana jika kita justru mematung, atau freeze? Dan yang lebih krusial lagi untuk kehidupan kita sekarang: apa yang terjadi jika sistem alarm purba ini menyala secara keliru? Harimau gigi pedang mungkin sudah punah, tapi bagaimana jika otak kita merespons notifikasi email dari atasan di malam hari sama persis seperti melihat predator liar?

IV

Di sinilah letak rahasia terbesarnya. Cerita tentang ibu yang mengangkat mobil itu bukanlah sihir, melainkan neurobiologi murni. Secara alami, otak kita memasang semacam "rem otomatis" pada otot kita. Rem ini berfungsi agar kita tidak menggunakan 100% kekuatan otot, yang justru bisa merobek tendon atau mematahkan tulang kita sendiri. Nah, saat adrenalin membanjiri otak dalam kondisi sangat ekstrem, hormon ini mematikan rem tersebut. Rasa sakit dibungkam. Kekuatan penuh dilepaskan. Tubuh kita mengorbankan keamanan jangka panjang demi kelangsungan hidup detik itu juga. Kita benar-benar berubah menjadi pahlawan demi orang yang kita cintai. Tapi, ada bayaran mahal untuk sistem yang luar biasa ini. Saat ini, ancaman yang kita hadapi kebanyakan bersifat psikologis, bukan fisik. Cicilan yang menunggak, deadline pekerjaan, atau komentar pedas di media sosial. Sayangnya, otak purba kita tidak bisa membedakan antara ancaman harimau dan ancaman tenggat waktu. Akibatnya, adrenalin terus-menerus dipompa. Jika adrenalin adalah percikan api, ia akan mengundang hormon stres lain bernama cortisol yang bertindak sebagai bahan bakar jangka panjang. Tubuh kita dipaksa bersiaga tinggi setiap hari, padahal kita hanya duduk di depan laptop. Kita tidak lari, kita juga tidak memukul siapa-siapa. Energi dari adrenalin itu tidak tersalurkan, berbalik merusak dinding pembuluh darah kita, mengacaukan pola tidur, dan memicu kecemasan kronis. Senjata pamungkas yang berevolusi untuk menyelamatkan nyawa kita, kini justru diam-diam menggerogoti kesehatan kita.

V

Menyadari hal ini seharusnya membuat kita lebih berempati pada diri sendiri. Saat teman-teman merasa kewalahan, jantung berdebar hanya karena bunyi smartphone, atau merasa lelah luar biasa setelah rapat yang tegang, jangan salahkan diri sendiri. Itu bukan berarti kita lemah. Itu hanyalah tubuh kita yang sedang bekerja terlalu keras mencoba melindungi kita di dunia modern yang membingungkan ini. Lantas, bagaimana cara kita menjinakkan alarm ini? Kita bisa menggunakan trik biologi sederhana. Tubuh kita memiliki kabel penenang yang disebut vagus nerve. Kita bisa mengaktifkan saraf ini lewat pernapasan. Tarik napas perlahan, dan hembuskan dengan durasi yang lebih panjang dari saat kita menarik napas. Hembusan napas yang panjang mengirim telegram langsung ke amygdala di otak kita, berpesan: "Tenang saja, tidak ada harimau di sini, kita aman." Adrenalin adalah teman lama yang sangat tangguh. Ia akan selalu siap membangkitkan kekuatan pahlawan dalam diri kita saat nyawa sungguh terancam. Namun untuk urusan sehari-hari, mari kita belajar menepuk bahunya dan berkata, "Terima kasih sudah menjaga saya, tapi hari ini biar saya yang pegang kendali."