biologi rasa haus akan kepastian

mengapa ketidakpastian adalah sumber kecemasan utama

biologi rasa haus akan kepastian
I

Pernahkah kita menerima pesan singkat dari atasan atau pasangan yang isinya cuma begini: "Nanti siang ada waktu? Ada yang mau diomongin." Lalu, tiba-tiba status mereka offline.

Bagaimana rasanya? Perut tiba-tiba terasa mulas, napas menjadi lebih pendek, dan isi kepala kita langsung memutar puluhan skenario terburuk. Padahal, bisa saja atasan cuma mau mentraktir makan siang, atau pasangan ingin minta tolong dibelikan kopi. Tapi, mengapa tubuh kita bereaksi seolah-olah kiamat sudah dekat? Mengapa menunggu hasil wawancara kerja sering kali terasa jauh lebih menyiksa daripada menerima email penolakan itu sendiri?

Rasa mulas dan cemas itu bukanlah ilusi atau sekadar sugesti belaka. Ada proses biologis yang sangat nyata sedang terjadi di dalam kepala kita. Mari kita sepakati satu hal sejak awal: otak manusia itu pada dasarnya sangat benci dengan yang namanya ketidaktahuan.

II

Untuk memahami seberapa benci otak kita pada ketidakpastian, mari kita lihat sebuah eksperimen psikologi yang mungkin terdengar sedikit sadis.

Para peneliti dari University College London pernah mengumpulkan sekelompok relawan untuk bermain game komputer. Sambil bermain, para relawan ini diberi setruman listrik ringan di tangan mereka. Peneliti membagi mereka menjadi dua situasi. Di situasi pertama, relawan tahu persis 100 persen kapan mereka akan disetrum. Di situasi kedua, peluang mereka disetrum dibuat acak, hanya sekitar 50 persen.

Jika dipikir pakai logika matematika biasa, situasi kedua seharusnya lebih menenangkan, bukan? Peluang sakitnya kan cuma separuh. Namun, data dari alat pengukur stres menunjukkan hasil yang berkebalikan.

Tingkat stres para relawan justru melonjak drastis saat mereka berada di situasi yang tidak pasti, meski peluang disetrumnya lebih kecil. Detak jantung mereka lebih cepat dan keringat dingin mereka lebih banyak. Dari sini kita menemukan fakta yang unik: otak kita ternyata lebih memilih kepastian akan rasa sakit yang terjamin, daripada ketidakpastian yang berpeluang bebas dari rasa sakit. Pertanyaannya, mengapa biologi kita dirancang dengan cara yang tampak merugikan ini?

III

Untuk menjawabnya, kita harus mundur jauh ke zaman purba. Bayangkan leluhur kita sedang berjalan santai di padang sabana yang sunyi. Tiba-tiba, semak-semak di depannya bergoyang misterius.

Di titik ini, leluhur kita dihadapkan pada ketidakpastian. Apakah itu sekadar tiupan angin, atau ada harimau bertaring tajam yang sedang mengintai? Leluhur yang menebak itu angin, tapi ternyata harimau, akan mati dan tidak bisa mewariskan gennya. Sebaliknya, leluhur yang panik, langsung mengambil tombak, dan berlari sekencang mungkin—meski ternyata itu cuma angin—adalah mereka yang bertahan hidup.

Kita adalah anak cucu dari para manusia purba yang paranoid ini. Evolusi membentuk otak kita menjadi sebuah mesin prediksi atau prediction machine yang luar biasa canggih. Tugas utama otak bukanlah membuat kita bahagia, melainkan menjaga kita tetap hidup. Caranya adalah dengan mengenali pola, memprediksi masa depan, dan sebisa mungkin menghindari kejutan.

Namun, ada satu masalah besar. Apa yang terjadi ketika sistem alarm purba ini dibawa ke kehidupan abad ke-21? Di mana ancamannya bukan lagi harimau di balik semak, melainkan ceklis biru WhatsApp yang tak kunjung dibalas, fluktuasi harga saham, atau ketidakjelasan masa depan karier kita?

IV

Di sinilah sains keras (hard science) memberikan jawaban yang akan membuat kita lebih berempati pada diri sendiri.

Saat kita dihadapkan pada situasi yang tidak pasti, otak kita mengalami apa yang disebut oleh para ahli neurosains sebagai prediction error atau eror prediksi. Otak gagal menemukan pola masa depan. Akibatnya, area otak yang bernama amygdala—pusat deteksi ancaman dan rasa takut—langsung menyala terang benderang bak sirine ambulans.

Secara bersamaan, otak menahan pelepasan dopamine. Biasanya kita mengenal dopamine sebagai hormon kebahagiaan, tapi fungsinya lebih dari itu; ia adalah hormon antisipasi dan motivasi. Ketika pola tertebak, dopamine mengalir, kita merasa tenang. Ketika pola acak, aliran ini terhenti.

Lebih parah lagi, saat segala sesuatunya serba tidak pasti, otak harus memproses jutaan probabilitas sekaligus. Otak membakar glukosa dan energi dalam jumlah yang sangat masif hanya untuk menghitung segala kemungkinan terburuk. Itulah alasan biologis mengapa overthinking membuat kita merasa sangat lelah secara fisik, padahal kita cuma duduk diam di ujung kasur.

Kecemasan bukanlah tanda kelemahan mental. Kecemasan adalah bukti bahwa otak kita sedang bekerja terlalu keras mencari kepastian di dunia yang pada dasarnya memang acak. Bagi tubuh kita, ketidakpastian bukanlah sebuah konsep filosofis, melainkan sebuah ancaman fisik yang harfiah.

V

Jadi, sangat wajar jika teman-teman sering merasa cemas belakangan ini. Kita hidup di era di mana ketidakpastian disuapkan kepada kita setiap hari melalui layar ponsel. Berita ekonomi, pandemi, perubahan iklim, hingga drama media sosial; semuanya memicu sistem alarm purba di kepala kita tanpa henti.

Menyadari biologi di balik rasa cemas ini adalah langkah pertama yang krusial untuk berdamai dengannya. Kita memang tidak bisa membedah kepala kita dan mencabut amygdala tersebut. Namun, saat kecemasan itu datang menyerang karena email bos yang menggantung atau balasan chat yang lama, kita kini tahu apa yang sedang terjadi.

Kita bisa menarik napas panjang, menepuk pundak kita sendiri, dan berkata di dalam hati, "Tidak apa-apa, ini cuma otak purbaku yang sedang kebingungan dan berusaha melindungiku."

Alih-alih menyiksa diri dengan terus-menerus menuntut kepastian mutlak yang mustahil didapat, mari kita berlatih untuk duduk nyaman bersama ketidaktahuan. Karena pada akhirnya, sejarah dan sains mengajarkan kita satu ironi yang indah: satu-satunya kepastian yang paling absolut di alam semesta ini, hanyalah ketidakpastian itu sendiri.