Ubur-ubur Abadi

sains di balik makhluk yang bisa memutar balik usia

Ubur-ubur Abadi
I

Pernahkah kita berdiri di depan cermin, menarik lembut ujung mata, dan berharap kerutan halus di sana bisa menghilang? Jika iya, kita jelas tidak sendirian. Sepanjang sejarah, umat manusia selalu terobsesi untuk mengalahkan waktu. Ribuan tahun lalu, kaisar Tiongkok menelan racun merkuri karena percaya itu adalah ramuan keabadian. Hari ini, kita mungkin tidak se-ekstrem itu, tapi kita rela menghabiskan jutaan rupiah untuk krim anti-aging atau suplemen pelawan penuaan. Keinginan mendalam untuk menolak tua itu sangatlah manusiawi. Tapi, bagaimana jika saya beri tahu bahwa rahasia keabadian yang dicari-cari manusia sebenarnya sudah lama ditemukan? Hebatnya lagi, penemunya bukanlah ilmuwan di laboratorium bernilai miliaran dolar. Pemilik rahasia itu ternyata hanya mengambang pasrah, tanpa otak dan tanpa jantung, di lautan lepas. Mari kita bicarakan sesuatu yang terdengar persis seperti fiksi ilmiah, namun ini murni fakta biologi.

II

Pada akhir tahun 1980-an, seorang mahasiswa biologi kelautan asal Jerman bernama Christian Sommer sedang meneliti makhluk laut di perairan Italia. Ia mengumpulkan sampel plankton dan menyimpannya di dalam cawan petri. Di antara sampel tersebut, ada spesies ubur-ubur berukuran sangat kecil, tak lebih dari seukuran kuku kelingking kita. Hewan mungil tembus pandang ini bernama Turritopsis dohrnii. Beberapa hari kemudian, Sommer mengecek cawan petrinya dan merasa kebingungan. Ubur-ubur dewasa yang ia simpan hilang tanpa jejak. Sebagai gantinya, di dasar cawan itu justru menempel polip—fase bayi ubur-ubur yang wujudnya menyerupai anemon laut kecil. Logika biologi dasar mengatakan bahwa ubur-ubur dewasa akan mati perlahan setelah bereproduksi. Tapi kejadian di cawan petri itu sangat tidak masuk akal. Rasanya seperti kita memelihara seekor ayam jago, lalu keesokan harinya ayam itu berubah kembali menjadi sebutir telur. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

III

Rupanya, ubur-ubur kecil ini memiliki mekanisme pertahanan diri yang luar biasa mutakhir. Ketika mereka menghadapi krisis kehidupan—entah itu kelaparan parah, perubahan suhu air yang ekstrem, atau cedera fisik—mereka tidak menyerah dan mati pelan-pelan. Mereka memilih untuk mereset ulang kehidupannya. Pernahkah teman-teman merasa begitu lelah dengan tekanan hidup atau stres pekerjaan, lalu secara impulsif berkhayal ingin kembali saja ke masa kecil dan memulai semuanya dari nol? Kita mungkin hanya bisa menjadikannya status media sosial. Tapi Turritopsis dohrnii tidak perlu berkhayal. Saat stres berat melanda, ubur-ubur dewasa ini akan menyerap kembali tentakelnya. Tubuh loncengnya menyusut menjadi gumpalan sel yang menyerupai kista, jatuh ke dasar laut, lalu tumbuh kembali menjadi bayi polip yang sehat. Pertanyaan besarnya adalah: bagaimana cara kerja sihir biologis ini? Dan secara psikologis serta filosofis, apakah setelah "mereset" diri, ia masih tetap individu yang sama?

IV

Di sinilah sains garis kerasnya bermula. Rahasia ubur-ubur abadi ini terletak pada proses seluler sangat langka yang disebut transdifferentiation. Normalnya, sel tubuh makhluk hidup yang sudah punya tugas spesifik tidak bisa berubah profesi. Jika sel kita sudah menjadi sel otot, ya selamanya ia akan menjadi sel otot. Tapi, sel-sel ubur-ubur ini mampu memberontak dari takdir biologisnya. Saat krisis terjadi, sel otot ubur-ubur ini bisa membuang identitas lamanya. Sel itu kembali ke fase sel punca (stem cell), lalu memprogram ulang dirinya menjadi sel saraf atau sel apa pun yang dibutuhkan untuk membangun tubuh bayi polip. Ini adalah pencapaian genetika yang membuat para ilmuwan di seluruh dunia geleng-geleng kepala. Namun, di balik kehebatan ini, ada realitas yang menampar. Ubur-ubur ini abadi secara biologis, tapi mereka tidak kebal. Mereka tetap bisa mati jika dimakan penyu atau terserang penyakit mematikan. Selain itu, ada paradoks yang mengusik. Jika semua sel lama dihancurkan dan dibentuk ulang dengan identitas baru, apakah ubur-ubur yang lahir kembali itu memiliki kesadaran masa lalunya? Jawabannya tidak. Identitas fisiknya di-reset total.

V

Mempelajari Turritopsis dohrnii sering kali membuat saya merenung panjang tentang kehidupan kita sendiri. Hewan laut mungil ini memang bisa memutar balik waktu dan lari dari kematian akibat usia tua. Tapi, harga yang harus mereka bayar sangatlah mahal: mereka kehilangan semua jejak fisik dari eksistensi sebelumnya. Mereka terus hidup, tapi selalu terhapus menjadi selembar kertas kosong. Kita jelas berbeda. Tubuh kita mungkin menua, sel-sel kita pada akhirnya akan kehilangan daya regenerasinya, dan memori kita mungkin sesekali memudar. Tapi, bersama dengan proses penuaan yang tak terelakkan itu, kita mengumpulkan sesuatu yang tak ternilai: kebijaksanaan, bekas luka yang mendewasakan, dan tawa bersama orang-orang terkasih. Keabadian tanpa kenangan rasanya hanyalah sebuah pengulangan yang sepi. Pada akhirnya, menua bukanlah sebuah penyakit biologis atau kegagalan yang harus kita perangi mati-matian. Menua adalah sebuah privilese—sebuah bukti otentik bahwa kita telah hidup, bertahan melewati krisis, dan merasakan dunia secara penuh. Biarlah keabadian menjadi milik ubur-ubur kecil di dasar lautan sana, sementara kita merayakan setiap detik yang fana ini dengan bermakna di daratan.