Point Nemo
titik paling terpencil di bumi tempat sampah luar angkasa
Pernahkah kita merasa ingin kabur sejenak dari segala hiruk-pikuk kehidupan? Jauh dari rentetan notifikasi, beban pekerjaan, dan bisingnya ekspektasi sosial. Saat merasa kewalahan, pikiran kita mungkin membayangkan puncak gunung bersalju atau pulau kecil yang sepi. Tapi secara psikologis, membayangkan tempat pelarian adalah cara otak kita mencari kedamaian. Nah, jika kita benar-benar mencari level isolasi yang absolut, ada satu titik di Bumi yang tingkat kesepiannya melampaui imajinasi liar kita. Sebuah tempat di mana tetangga terdekat kita bukanlah sesama manusia di bumi, melainkan para astronaut yang sedang mengorbit di luar angkasa. Mari kita berlayar sejenak ke titik tersebut.
Titik ini tidak memiliki pantai berpasir putih, apalagi pohon kelapa untuk bersantai. Hanya ada hamparan samudra biru yang luar biasa luas, gelap, dan tak berujung. Pada tahun 1992, seorang insinyur bernama Hrvoje Lukatela menggunakan simulasi komputer canggih untuk mencari satu koordinat laut yang paling jauh dari daratan mana pun di planet ini. Hasilnya jatuh pada sebuah lokasi tersembunyi di tengah Samudra Pasifik Selatan. Ia menamainya Point Nemo. Nama ini meminjam karakter Kapten Nemo dari novel fiksi ilmiah klasik Jules Verne. Dalam bahasa Latin, "nemo" sendiri berarti "bukan siapa-siapa". Jaraknya benar-benar ekstrem. Daratan terdekat, yakni pulau-pulau karang kecil tanpa penghuni, berjarak sekitar 2.688 kilometer. Saking terisolasinya Point Nemo, jika kita mengapung di sana saat ini, manusia terdekat secara harfiah berada di atas kepala kita. Para astronaut di International Space Station (ISS) yang melayang pada ketinggian 400 kilometer di luar angkasa adalah entitas hidup terdekat dari kita.
Namun, keanehan tempat ini belum berhenti sampai di situ. Secara biologis, Point Nemo adalah sebuah gurun di tengah lautan. Sistem arus laut raksasa yang berputar melingkar, atau yang dalam oseanografi disebut South Pacific Gyre, menjebak air di area ini. Arus tersebut menghalangi nutrisi segar dari pesisir untuk masuk. Akibatnya? Hampir tidak ada kehidupan laut yang cukup besar yang mampu bertahan hidup di sana. Tidak ada hiu, tidak ada paus, hanya bakteri dan organisme renik yang melayang dalam diam. Lautnya mati, sepi, dan benar-benar kosong. Otak kita mungkin bertanya-tanya, untuk apa kita repot-repot memikirkan tempat mati yang tidak bisa dikunjungi ini? Ironisnya, justru kekosongan absolut inilah yang diam-diam memecahkan salah satu masalah paling berbahaya dalam sejarah modern umat manusia.
Inilah rahasia terbesar dan paling menakjubkan dari Point Nemo. Di bawah ombaknya yang sunyi, terbaring "kuburan" bagi teknologi paling canggih yang pernah diciptakan manusia. Ya, tempat ini adalah spacecraft cemetery atau kuburan wahana antariksa. Ketika kita takjub melihat roket meluncur ke luar angkasa, kita sering lupa bertanya: ke mana perginya benda raksasa itu saat masa tugasnya habis? Fisika mengajarkan kita bahwa benda yang kehilangan momentum di orbit rendah akan perlahan tertarik oleh gravitasi Bumi. Menjatuhkan mesin sebesar bus atau rumah bertingkat dari luar angkasa sangatlah berisiko. Saat menembus atmosfer, gesekan ekstrem memang akan membakar sebagian besar material. Tapi bongkahan-bongkahan logam berat seperti tangki bahan bakar berbahan titanium masih akan lolos dan menghantam Bumi dengan kecepatan mematikan. Badan antariksa dunia butuh tempat pembuangan sampah raksasa yang tingkat risikonya nol persen. Karena Point Nemo secara harfiah adalah titik terjauh dari peradaban dan sama sekali bukan jalur pelayaran komersial, tempat ini menjadi target pendaratan paling logis. Sejak tahun 1970-an, lebih dari 260 objek antariksa, mulai dari satelit usang, kapal kargo luar angkasa, hingga stasiun luar angkasa legendaris seberat 142 ton milik Rusia, Mir, telah diarahkan untuk jatuh dan tenggelam ke dasar laut ini.
Ada sesuatu yang sangat puitis sekaligus menyentuh hati dari kenyataan ini. Saat kita melihat ke atas, menatap langit malam yang bertabur bintang, kita melihat lambang dari ambisi, rasa ingin tahu, dan keberanian umat manusia untuk mendobrak batasan fisika. Kita menciptakan mesin untuk menyentuh langit. Namun, setiap ambisi yang menyala pada akhirnya memiliki batas waktu. Serpihan-serpihan baja yang dulu mengarungi hampa udara dengan gagah, kini beristirahat dalam keabadian di palung samudra terdalam dan tersepi di Bumi. Mengetahui keberadaan Point Nemo memberikan kita sudut pandang baru yang membuat kita rendah hati. Di satu sisi, ia adalah monumen atas kecerdasan matematis kita yang luar biasa presisi. Tapi di sisi lain, tempat itu adalah pengingat yang lembut. Bahwa pada akhirnya, bahkan mesin-mesin paling hebat dan berjasa yang pernah kita buat pun, membutuhkan tempat yang tenang, terasing, dan sepi untuk pulang dan beristirahat.