Dampak Overfishing

apa yang terjadi jika semua ikan di laut habis

Dampak Overfishing
I

Mari kita duduk sejenak dan membayangkan sepiring seafood atau ikan bakar hangat di atas meja. Pernahkah kita membayangkan, bagaimana rasanya kalau hidangan sesederhana ini suatu hari nanti berubah menjadi benda peninggalan sejarah? Sesuatu yang cuma bisa kita ceritakan ke anak cucu dengan nada nostalgia, "Dulu, kita sering makan ini di pinggir pantai, lho." Kedengarannya memang seperti naskah film distopia fiksi ilmiah murahan. Tapi hari ini, mari kita bicara tentang overfishing atau penangkapan ikan berlebih. Mari kita bedah sebuah skenario terburuk yang sangat mungkin terjadi: apa jadinya jika lautan kita benar-benar kosong melompong tanpa ada satu pun ikan yang tersisa?

II

Secara psikologis, kita sebagai manusia punya satu titik buta yang cukup fatal. Kita sangat sulit memahami sesuatu yang ukurannya terlalu besar. Lautan menutupi lebih dari tujuh puluh persen permukaan planet kita. Warnanya biru, sangat luas, dan tampak sama sekali tak berujung. Sejak zaman nenek moyang kita baru belajar berlayar dengan perahu kayu, kita mewarisi sebuah ilusi yang berbahaya: ilusi sumber daya tak terbatas. Kita merasa laut tidak akan pernah mungkin kehabisan isinya. Dari sanalah konsep sosiologi tragedy of the commons lahir. Karena laut dianggap milik bersama, seringkali tidak ada yang merasa benar-benar bertanggung jawab untuk merawatnya. Sejarah umat manusia mencatat pergeseran yang mengerikan. Dari yang awalnya kita sekadar memancing untuk makan malam keluarga, kini kita membangun kapal-kapal trawler raksasa sebesar lapangan bola. Kapal-kapal ini mengeruk dasar laut secara brutal, menyapu bersih apa saja yang dilewatinya. Kita sebenarnya tidak lagi memancing, teman-teman. Kita sedang menebang hutan di bawah air.

III

Lalu, mari kita putar waktu ke masa depan, ke detik di mana ikan terakhir di bumi berhasil ditangkap. Apa yang akan terjadi setelahnya? Mungkin kita berpikir dampaknya cuma sebatas nelayan yang kehilangan pekerjaan, atau harga sushi yang meroket jadi miliaran rupiah. Sayangnya, realitasnya jauh lebih gelap dari sekadar krisis kuliner dan runtuhnya ekonomi pesisir. Sebuah ekosistem pada dasarnya adalah permainan susun balok Jenga yang sangat rumit. Cabut satu balok penting, maka semuanya akan runtuh. Saat ikan predator besar seperti hiu dan tuna habis, populasi ikan kecil akan meledak tak terkendali. Mereka lalu kehabisan makanan, kelaparan, dan akhirnya ikut mati. Setelah mereka semua pergi, laut tidak lantas menjadi kolam air asin yang tenang dan damai. Laut yang kosong perlahan akan diambil alih oleh makhluk purba. Apakah teman-teman siap melihat lautan yang isinya didominasi oleh ubur-ubur raksasa dan lendir alga beracun? Tapi, tunggu dulu. Kiamat ekologi ini ternyata tidak berhenti di bibir pantai saja. Pertanyaannya, bagaimana mungkin laut yang kosong bisa mengancam kita secara langsung, kita yang hidup nyaman di daratan?

IV

Di sinilah sains memberikan jawaban dingin yang bisa membuat bulu kuduk kita berdiri. Kita sering kali lupa bahwa lautan adalah paru-paru utama bumi kita, bukan cuma hutan hujan Amazon. Di permukaan laut, berenang triliunan organisme mikroskopis bernama phytoplankton. Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa yang memproduksi lebih dari setengah oksigen yang kita hirup setiap hari. Mereka juga bertugas menyerap jutaan ton karbon dioksida dari udara. Tapi tahukah kita apa yang membuat phytoplankton ini bisa hidup subur? Jawabannya adalah kotoran ikan. Ya, sesederhana itu. Dalam sains, proses ini disebut biological pump atau pompa biologis. Ikan makan di kedalaman, bermigrasi ke permukaan, lalu membuang kotoran. Kotoran inilah yang menjadi pupuk raksasa bagi phytoplankton. Tanpa ikan, tidak ada kotoran. Tanpa kotoran, phytoplankton akan mati kelaparan. Ketika mereka lenyap, kadar oksigen bumi akan anjlok drastis. Suhu bumi akan melonjak tanpa kendali karena gas karbon tidak lagi diserap oleh laut. Jadi, jika laut mati, daratan pun tidak akan bertahan lama. Kita bukan hanya kehilangan lauk lezat di meja makan. Pada akhirnya, kita akan kehilangan udara untuk bernapas.

V

Membayangkan rentetan bencana ini memang terasa berat dan mungkin membuat kita lelah secara mental. Tapi, tujuan kita membedah realitas ini bukanlah untuk menyerah pada ketakutan. Justru sebaliknya. Sebagai spesies yang punya empati dan akal panjang, kita punya kemampuan luar biasa untuk memperbaiki arah sejarah. Kabar baiknya, lautan kita itu sangat tangguh. Ia punya daya sembuh yang sangat menakjubkan, jika saja kita mau memberinya sedikit waktu untuk istirahat. Solusinya sebenarnya sudah ada di depan mata kita. Mulai dari mendukung regulasi penangkapan yang tegas, berpihak pada nelayan lokal yang ramah lingkungan, hingga mendesak perluasan kawasan konservasi laut. Bahkan, memilih jenis boga bahari yang berkelanjutan di piring kita adalah langkah nyata yang berdampak besar. Teman-teman, laut bukanlah sekadar tempat singgah yang indah atau keranjang belanja raksasa tak berdasar. Laut adalah rumah pertama bagi kehidupan di bumi ini. Dan layaknya sebuah rumah, sudah saatnya kita berhenti merampok isinya, lalu mulai merawatnya bersama-sama. Kita masih punya waktu, mari kita gunakan sebaik-baiknya.