sains tentang santet

psikologi psikosomatik dan efek stres ekstrem pada imun

sains tentang santet
I

Pernahkah kita mendengar cerita tentang tetangga atau kerabat yang mendadak sakit parah, muntah darah, atau merasa ada benda tajam di perutnya setelah berseteru dengan seseorang? Di Indonesia, diagnosis kulturalnya biasanya cuma satu: kena santet. Sebagai orang modern, insting pertama kita mungkin tertawa dan menganggapnya takhayul semata. Tapi mari kita tahan dulu tawa itu. Bagaimana jika rasa sakit itu 100 persen nyata? Bagaimana jika santet benar-benar bisa membunuh, namun pelakunya bukanlah jin atau setan, melainkan organ seberat 1,5 kilogram yang bersarang di dalam tengkorak kita sendiri? Hari ini, saya ingin mengajak teman-teman membedah misteri kelam ini dari lensa sains, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi saat pikiran manusia dipaksa berhadapan dengan ketakutan absolut.

II

Jauh sebelum dunia modern mengenal istilah medis untuk fenomena ini, kejatuhan fisik akibat "kutukan" sudah menarik perhatian para ilmuwan. Pada tahun 1942, seorang fisiolog perintis dari Harvard bernama Walter Cannon menerbitkan makalah medis yang sangat legendaris berjudul Voodoo Death. Cannon mengumpulkan laporan medis dari seluruh penjuru dunia. Dari suku Aborigin di Australia, pedalaman Afrika, kepulauan Pasifik, hingga Haiti. Ia menemukan pola klinis yang sama persis dengan fenomena santet di nusantara. Seseorang dikutuk oleh tetua atau dukun, korban percaya penuh pada kutukan tersebut, lalu ia berhenti makan, tubuhnya melemah drastis, dan akhirnya meninggal dunia hanya dalam hitungan hari. Cannon menyadari satu hal yang mengerikan. Korban tidak mati karena racun yang diselundupkan atau sihir gaib. Ada mekanisme biologis di dalam tubuh yang terpicu saat manusia mengalami ketakutan mutlak dan merasa tidak ada jalan keluar. Pertanyaannya, sakelar mematikan apa yang sebenarnya tidak sengaja ditekan di dalam tubuh sang korban?

III

Untuk menjawabnya, kita harus melihat bagaimana mesin tubuh kita merespons sebuah ancaman. Saat kita bertemu harimau di tengah hutan, otak bagian amigdala langsung menyalakan alarm bahaya. Alarm ini memicu respons fight or flight atau bertarung atau lari. Jantung kita berdebar keras, napas memburu, dan darah dipompa secara brutal ke otot. Tubuh kita berubah menjadi mesin superhero sesaat agar bisa selamat. Tapi, ada harganya. Untuk membiayai mode darurat ini, tubuh menonaktifkan sistem lain yang dianggap "tidak penting" saat krisis, seperti sistem pencernaan dan sistem imun. Nah, sekarang bayangkan jika ancamannya bukanlah harimau yang bisa kita tinggalkan berlari, melainkan "kutukan" atau santet yang kita yakini menempel di dalam jiwa. Alarm ketakutan ini menyala terus-menerus. Selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Sumbu biologis di otak kita yang bernama HPA axis (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal) terus memompa hormon stres bernama kortisol tanpa henti. Lalu, apa yang terjadi pada biologi manusia jika ia dipaksa berada di zona perang tanpa satu detik pun waktu untuk istirahat?

IV

Inilah momen di mana sains menjelaskan horor yang selama ini kita sebut santet. Ketika kortisol membanjiri aliran darah tanpa henti, sistem imun kita mengalami kolaps total. Tubuh kehilangan kemampuan untuk melawan bakteri peliharaan sendiri atau virus paling sepele sekalipun. Peradangan terjadi di mana-mana. Tidak berhenti di situ. Stres ekstrem membuat produksi asam lambung melonjak gila-gilaan, sementara aliran darah ke perut dihentikan sehingga lapisan pelindung lambung menipis. Hasilnya? Tukak lambung kronis yang bisa pecah kapan saja dan menyebabkan korban muntah darah. Persis seperti ciri-ciri orang kena santet. Rasa sakit seperti "ditusuk paku" di perut atau dada adalah kontraksi otot kejang dan peradangan saraf parah akibat korsleting pada sistem saraf otonom kita. Fenomena ini dalam dunia medis dikenal sebagai penyakit psychosomatic, di mana pikiran (psyche) secara literal menghancurkan fisik (soma). Kutukan sang dukun sebenarnya hanyalah sebuah sugesti (biasanya disebut nocebo effect). Korbannyalah yang tanpa sadar mengeksekusi sugesti tersebut menjadi kerusakan jaringan yang sungguhan fatal. Tubuh sang korban menghancurkan dirinya sendiri karena otaknya meyakini bahwa ia sudah pasti mati.

V

Mengetahui fakta keras ini seharusnya mengubah total cara kita memandang fenomena supranatural di sekitar kita. Saat kita melihat seseorang menderita dan mengklaim terkena santet, rasa empati kitalah yang harus maju pertama kali, bukan ejekan arogan. Rasa sakit yang mereka alami sungguh nyata, berdarah, dan bisa merenggut nyawa, meski pemicu awalnya berakar dari kondisi psikologis yang tertekan. Pikiran kita ternyata adalah senjata biologis yang luar biasa tajam. Jika keyakinan akan sebuah kutukan bisa membuat sistem imun bunuh diri, bayangkan apa yang bisa terjadi jika kita menggunakan kekuatan otak yang sama untuk tujuan penyembuhan dan ketahanan mental. Sains pada akhirnya telah menunjukkan kepada kita satu kebenaran yang indah sekaligus menakutkan: sihir yang paling kuat tidak berasal dari rapalan mantra di tengah malam yang gelap. Sihir paling berdampak, baik itu untuk menghancurkan maupun menyembuhkan, bersemayam dengan tenang di dalam cara kita mengelola pikiran kita sendiri.