sains tentang ramalan primbon

matematika pola statistik dan pengulangan sejarah

sains tentang ramalan primbon
I

Pernahkah kita diam-diam mengecek kecocokan pasangan lewat Primbon? Atau mungkin, kita pernah melihat orang tua atau kerabat yang sibuk menghitung weton sebelum menentukan tanggal pernikahan? Rasanya pasti campur aduk. Antara skeptis, penasaran, tapi mungkin juga ada sedikit rasa cemas kalau-kalau hasil hitungannya berujung buruk.

Saya yakin, banyak dari teman-teman yang menganggap Primbon itu murni mistis. Warisan klenik masa lalu yang gelap dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan nalar sehat. Pemikiran seperti itu sangat wajar di era modern ini. Tapi, mari kita tahan dulu kesimpulan tersebut. Mari kita duduk santai dan berpikir sejenak. Bagaimana jika buku lusuh penuh tabel yang sering dibaca eyang kita itu, sebenarnya adalah sebuah mahakarya sains kuno?

II

Coba kita putar waktu ke ratusan atau ribuan tahun lalu. Nenek moyang kita hidup di dunia yang sangat tidak pasti. Mereka hidup tanpa satelit BMKG, tanpa kalender digital, dan tanpa kalkulator. Ancaman ada di mana-mana. Gagal panen berarti kelaparan massal. Salah menebak cuaca saat melaut berarti kehilangan nyawa.

Dalam kondisi yang penuh tekanan itu, otak manusia purba berevolusi menjadi mesin pencari pola yang luar biasa. Kita mulai mengamati langit malam. Kita mencatat bahwa setiap kali rasi bintang tertentu muncul, musim penghujan pasti tiba. Otak kita secara biologis dirancang untuk menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lainnya. Dalam psikologi evolusioner, kemampuan mengenali pola ini adalah kunci utama untuk bertahan hidup. Kita menjadi makhluk yang sangat terobsesi dengan masa depan karena kita ingin memastikan semuanya aman terkendali. Dari rasa takut dan kebutuhan untuk survive inilah, benih-benih ilmu ramalan mulai ditanam.

III

Tentu, sebagai pemikir kritis, kita bisa dengan mudah menyalahkan bias psikologis atas keakuratan sebuah ramalan. Teman-teman mungkin pernah mendengar istilah Barnum Effect. Ini adalah kecenderungan psikologis di mana kita merasa bahwa sebuah deskripsi kepribadian itu "sangat akurat" dan "gue banget", padahal deskripsinya ditulis sangat umum dan bisa berlaku untuk siapa saja. Ramalan zodiak di majalah sering kali menggunakan trik ini.

Tapi, Primbon Jawa ternyata jauh lebih rumit dari sekadar tebak-tebakan kata bersayap ala zodiak pop. Ada sistem angka yang presisi di sana. Ada neptu, siklus pancawara (pasaran), dan perhitungan waktu yang dikonstruksi dengan sangat cermat. Pertanyaannya kemudian, dari mana angka-angka spesifik ini berasal? Mengapa orang zaman dulu bisa merumuskan perhitungan matematika untuk memetakan karakter manusia dan nasib suatu hari? Rahasianya ternyata tersembunyi jauh di dalam tumpukan memori kolektif umat manusia.

IV

Di sinilah sains keras dan sejarah bersatu. Primbon sebenarnya adalah bentuk paling awal dari ilmu statistika dan pengumpulan Big Data.

Bayangkan para pujangga, petani, dan tetua zaman dulu sebagai data scientist pertama di Nusantara. Selama ratusan tahun, dari generasi ke generasi, mereka mencatat kejadian demi kejadian. Mereka jeli melihat pengulangan sejarah. Mereka melakukan observasi empiris. Misalnya, mereka mencatat bahwa anak yang lahir di musim tertentu, dengan kondisi alam tertentu, ternyata secara statistik cenderung memiliki ketahanan fisik atau temperamen yang spesifik, dipengaruhi oleh gizi ibu saat hamil dan cuaca awal kehidupannya. Mereka juga mencatat siklus astronomi, pergerakan angin, dan wabah penyakit.

Semua data historis dan observasi alam yang masif ini kemudian dikumpulkan, dikompresi, dan diubah menjadi sebuah kode. Kode matematika itulah yang kita kenal hari ini sebagai weton. Angka-angka dalam Primbon pada dasarnya adalah nilai probabilitas.

Jadi, saat Primbon melarang kita mengadakan hajatan atau bepergian ke arah selatan pada hari tertentu, itu bukanlah sebuah kutukan mistis dari alam gaib. Kemungkinan besar, ratusan tahun lalu, data historis berulang kali menunjukkan bahwa pada siklus bulan dan hari tersebut, angin selatan sedang ganas-ganasnya, ombak sedang tinggi, atau sedang musim wabah tertentu. Primbon, pada kenyataannya, adalah algoritma keselamatan kerja dan mitigasi bencana versi kuno.

V

Menyadari fakta ini sungguh mengubah cara saya melihat warisan leluhur kita. Memahami matematika dan statistik di balik Primbon tentu tidak lantas membuat kita harus percaya buta pada ramalannya di era sekarang. Dunia sudah berubah drastis, variabel lingkungan sudah sangat berbeda, dan data historis dari abad ke-16 mungkin butuh banyak pembaruan (atau semacam software update).

Namun, membuang Primbon dan melabelinya murni sebagai omong kosong klenik rasanya juga kurang adil dan ahistoris. Saat kita membalik halaman Primbon, kita sebenarnya sedang membaca ketakutan, harapan, dan logika manusia-manusia yang hidup jauh sebelum kita. Kita sedang melihat rekam jejak kecerdasan mereka dalam membaca pola alam raya untuk melindungi keturunannya dengan alat ukur seadanya.

Pada akhirnya, hasrat umat manusia untuk meramal dan menebak masa depan adalah bukti nyata bahwa kita selalu peduli pada kelangsungan hidup satu sama lain. Dan bukankah itu sebuah fakta sains yang sangat indah untuk direnungkan bersama?