sains tentang jimat
psikologi objek transisional dan kepercayaan diri
Pernahkah kita mau ujian atau wawancara kerja, lalu sibuk membongkar lemari demi mencari "kemeja keberuntungan"? Atau mungkin teman-teman punya pulpen khusus, yang rasanya kalau menulis pakai pulpen itu, otak mendadak jadi jauh lebih encer. Tenang saja, kita tidak sendirian. Legenda basket Michael Jordan konon selalu memakai celana pendek kampusnya di balik seragam Chicago Bulls. Tiger Woods selalu memakai baju merah setiap bertanding di hari Minggu. Kok bisa orang-orang hebat, rasional, dan berpendidikan masih percaya pada hal-hal yang berbau "magis" pada benda mati? Mengapa kita merasa sebuah cincin, sepatu, atau baju bisa mengubah nasib? Mari kita bedah fenomena ini perlahan-lahan.
Sejarah mencatat manusia sudah menggunakan jimat sejak zaman batu. Mulai dari taring beruang, batu giok, ukiran kayu, hingga koin berlubang. Kalau dipikir menggunakan logika murni, ini jelas tidak masuk akal. Apa hubungannya sepotong batu dengan nasib baik? Tapi otak manusia ini sangat unik, teman-teman. Secara evolusioner, otak kita adalah mesin pencari pola atau pattern recognition machine. Di zaman purba, kalau nenek moyang kita mendengar suara kresek-kresek di semak, otak yang langsung berasumsi itu harimau akan lari dan selamat. Otak yang cuek, biasanya berakhir dimakan harimau. Nah, efek samping dari kecerdasan otak dalam mencari pola ini adalah, kita sering menghubungkan dua hal yang sebenarnya sama sekali tidak nyambung. Suatu hari saya memakai kemeja biru, lalu saya berhasil lolos wawancara kerja. Otak kita langsung mencatat dengan cepat: kemeja biru sama dengan kesuksesan. Namun, apakah fenomena jimat ini cuma sebatas otak kita yang salah sangka? Nanti dulu. Ada fakta biologis dan psikologis yang jauh lebih dalam dari sekadar salah menebak pola.
Coba kita mundur sedikit ke masa kecil kita. Pernahkah kita punya boneka butut, selimut kesayangan, atau bantal bau yang kalau tidak ada, kita tidak bisa tidur nyenyak? Dalam dunia psikologi, ada istilah yang disebut sebagai transitional object atau objek transisional. Konsep ini pertama kali dikenalkan oleh seorang psikoanalis bernama Donald Winnicott. Benda-benda usang ini memberikan kita rasa aman secara emosional saat kita harus mulai lepas dari pelukan orang tua dan menghadapi dunia luar yang asing. Nah, pertanyaannya sekarang, apakah saat kita dewasa, kita benar-benar berhenti membutuhkan rasa aman tersebut? Tentu tidak. Dunia orang dewasa itu penuh dengan ketidakpastian. Mulai dari tagihan cicilan, ekspektasi atasan, sampai nasib jodoh yang tidak jelas. Ketidakpastian yang tidak ada ujungnya itu melahirkan stres. Di titik krisis inilah, jimat versi orang dewasa mengambil peran. Entah itu berupa jam tangan peninggalan ayah atau sepatu lari favorit. Tapi, tunggu sebentar. Kalau barang-barang ini murni cuma soal menenangkan diri layaknya selimut bayi, kenapa para atlet yang memakai barang keberuntungannya bisa beneran menang dan mencetak rekor? Apakah benda itu secara ajaib mampu mengubah hukum fisika dan probabilitas di lapangan?
Di sinilah sains memberikan jawaban yang mungkin akan membuat kita merinding. Benda itu sama sekali tidak punya kekuatan gaib, tapi benda itu berhasil mengaktifkan potensi maksimal dari otak kita sendiri. Ada sebuah penelitian yang sangat terkenal dari psikolog Lysann Damisch. Dia membagi sekumpulan orang yang akan bermain golf mini menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberikan bola sambil dibilang, "Ini bola keberuntungan." Kelompok kedua hanya diberikan bola biasa tanpa embel-embel apa pun. Hasilnya sungguh mengejutkan. Kelompok bola keberuntungan berhasil memasukkan bola ke lubang jauh lebih banyak! Kok bisa? Sains menyebut mekanisme ini sebagai peningkatan self-efficacy, yaitu keyakinan mutlak pada kemampuan diri sendiri. Saat kita menggenggam "jimat" kita, level kecemasan di dalam otak kita turun drastis. Amigdala, bagian otak kita yang mengurusi rasa takut dan panik, mendadak jadi kalem. Karena paniknya hilang, fungsi kognitif tingkat tinggi dan memori otot kita bisa bekerja sangat optimal. Kita menjadi lebih fokus, lebih tenang mengeksekusi rencana, dan tidak gampang menyerah saat gagal. Jadi, keajaibannya bukan ada di batu, kemeja, atau pulpen itu. Keajaiban sesungguhnya ada di dalam jaringan neuron tengkorak kepala kita sendiri. Benda itu cuma sekadar tombol sakelar untuk menyalakannya.
Menarik banget, kan? Sains pada akhirnya membuktikan bahwa kadang, sedikit ilusi itu justru sangat berguna untuk kelangsungan mental kita. Jadi, teman-teman tidak perlu merasa konyol atau tidak rasional kalau masih menyimpan pulpen keberuntungan untuk tanda tangan kontrak penting. Atau mungkin menyemprotkan parfum tertentu saat kencan pertama agar merasa lebih percaya diri. Kita ini manusia, makhluk yang emosional sekaligus rasional di saat yang bersamaan. Menggantungkan rasa percaya diri pada sebuah objek transisional bukanlah tanda kelemahan mental. Itu justru cara cerdas dan pragmatis dari otak kita untuk mengelola stres di tengah dunia yang makin kacau balau ini. Jadi, besok-besok, teruslah pakai kemeja keberuntungan itu. Bukan karena serat kainnya bisa mengubah takdir semesta, tapi karena kita yang memakainya akan berubah menjadi versi diri yang paling berani.