sains tentang fenomena dejavu
neuroscience memori yang tumpang tindih
Bayangkan situasi ini. Kita sedang duduk di sebuah kedai kopi yang baru pertama kali didatangi. Tiba-tiba pelayan menjatuhkan sendok. Teman di depan kita tertawa. Lalu, boom. Dunia seakan berhenti sedetik. Kita merasa sangat yakin bahwa momen persis seperti ini sudah pernah terjadi. Pernahkah teman-teman mengalami sensasi aneh ini? Perasaan familier yang merindingkan tengkuk ini punya nama yang sangat elegan: déjà vu. Dulu, fenomena ini sering dikaitkan dengan hal-hal mistis. Ada yang bilang itu memori dari kehidupan masa lalu. Ada juga yang mengira itu kilasan dari semesta paralel. Terdengar keren untuk plot film fiksi ilmiah, bukan? Tapi mari kita letakkan sejenak buku mantra dan teori konspirasi kita. Sains punya penjelasan yang jauh lebih memukau, dan percayalah, ini akan membuat kita semakin takjub pada gumpalan daging seberat 1,5 kilogram di dalam tengkorak kita.
Jauh sebelum mesin pemindai otak ditemukan, manusia sudah mencoba memecahkan misteri ini. Istilah déjà vu sendiri, yang dalam bahasa Prancis berarti "sudah pernah dilihat", pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf bernama Émile Boirac pada akhir abad ke-19. Selama puluhan tahun, para ilmuwan garuk-garuk kepala. Pada pertengahan abad ke-20, muncul sebuah teori psikologi yang cukup masuk akal. Namanya teori keterlambatan optik atau optical delay. Penjelasannya begini. Mata kanan dan mata kiri kita merekam informasi, lalu mengirimkannya ke otak. Nah, teori ini menduga salah satu mata mengirim sinyal lebih lambat sepersekian milidetik. Akibatnya, otak memproses gambar yang sama dua kali secara beruntun. Gambar kedua ini lalu terasa seperti ingatan lama. Kedengarannya sangat logis, kan? Tapi ada satu masalah besar. Orang yang tunanetra sejak lahir ternyata juga bisa mengalami déjà vu. Sontak, teori mata ini runtuh seketika. Kita harus mencari jawabannya lebih dalam lagi.
Kalau bukan dari mata, berarti asal-muasal sensasi ini murni dari dalam sistem saraf kita. Mari kita bayangkan otak kita sebagai sebuah perpustakaan raksasa yang sangat sibuk. Di sana ada pustakawan bernama hippocampus. Tugasnya adalah mencatat pengalaman baru dan menyimpannya ke rak memori jangka panjang. Di pintu keluar, ada satpam bernama korteks frontal. Tugasnya melakukan pengecekan fakta dan logika. Setiap detik, setiap hari, pustakawan dan satpam ini bekerja sama dengan sempurna. Sampai akhirnya, terjadi sebuah anomali. Sebuah "korsleting" kecil di dalam jaringan listrik otak kita. Bayangkan ada sebuah pengalaman baru yang baru saja masuk. Alih-alih melewati meja resepsionis untuk didaftarkan sebagai hal baru, pengalaman ini entah bagaimana menyelinap. Ia langsung melompat masuk ke dalam laci bertuliskan "Kenangan Masa Lalu". Apa yang terjadi saat otak kita membaca data masa kini dari folder masa lalu? Apakah ini pertanda otak kita mulai rusak? Ataukah justru sebaliknya?
Di sinilah neuroscience memberikan jawaban yang brilian. Ternyata, perasaan familier dan kemampuan mengingat adalah dua hal yang diproses di bagian otak yang berbeda. Rasa familier diurus oleh area bernama korteks rinal, sedangkan memori detail diurus oleh hippocampus. Saat déjà vu terjadi, korteks rinal kita tiba-tiba menembakkan sinyal listrik tanpa sebab yang jelas. Ia berteriak, "Hei, saya kenal tempat ini!" Namun, saat hippocampus membuka arsip memori, ia tidak menemukan data apa pun. Nol besar. Di titik inilah si satpam, alias korteks frontal, turun tangan. Ia menyadari ada ketidakcocokan antara sinyal familier palsu dan fakta di lapangan. Sensasi aneh, kebingungan, dan rasa "terhenti" sejenak yang kita rasakan? Itu adalah momen saat otak bagian depan kita sedang mengoreksi kesalahan sistem. Jadi, alih-alih tanda kerusakan saraf, déjà vu justru merupakan bukti bahwa sistem pengecekan fakta di otak kita masih bekerja dengan sangat prima. Otak kita pada dasarnya sedang melakukan debugging secara langsung.
Sangat melegakan, bukan? Kita bukan cenayang yang bisa melihat masa depan, dan kita juga tidak sedang terjebak di dalam Matrix. Kita hanyalah manusia biasa dengan sistem saraf yang kadang-kadang bisa sedikit tersandung oleh kabelnya sendiri. Mengetahui fakta ini tidak lantas membuat pengalaman déjà vu menjadi membosankan. Bagi saya pribadi, sains justru menambah lapis keindahannya. Saat fenomena ini terjadi lagi pada kita suatu hari nanti, kita tidak perlu panik atau sibuk mereka-reka kehidupan masa lalu. Cukup tarik napas, tersenyum kecil, dan beri apresiasi pada diri sendiri. Sadarilah bahwa pada detik itu, kita sedang merasakan langsung betapa rumit, rapuh, sekaligus luar biasanya mesin biologis yang kita bawa ke mana-mana ini. Bukankah belajar tentang cara kerja diri kita sendiri selalu menjadi petualangan yang menyenangkan, teman-teman?