pamali mencela makanan
psikologi rasa syukur dan kesehatan mental
Pernahkah kita duduk di meja makan, perut sudah berbunyi nyaring, tapi makanan yang tersaji sama sekali tidak mengundang selera? Rasanya gatal sekali lidah ini ingin menggerutu. "Duh, kok keasinan sih?" atau "Ayamnya alot banget kayak sandal jepit!". Di momen spontan seperti itu, biasanya nenek atau ibu kita akan langsung melempar tatapan tajam dan menegur. "Hush, pamali mencela makanan!"
Kita mungkin cuma bisa diam sambil cemberut saat mendengarnya. Bagi kita yang terbiasa hidup dengan logika di zaman modern, teguran pamali sering kali terdengar seperti mitos kuno. Terdengar usang dan tak ada hubungannya dengan sains. Apalagi kalau makanan itu hasil beli pakai uang kita sendiri. Masa iya kita tidak boleh melontarkan kritik? Tapi, coba kita jeda sejenak dan berpikir. Bagaimana kalau ternyata larangan ini bukan sekadar takhayul belaka? Bagaimana kalau teguran sederhana dari leluhur kita itu sebenarnya menyimpan rahasia besar tentang cara kerja otak manusia?
Mari kita melangkah mundur jauh ke masa lalu. Secara evolusioner, makanan adalah sumber daya yang sangat mahal dan langka. Nenek moyang kita harus berjalan puluhan kilometer, berburu berhari-hari, menghadapi cuaca ekstrem, dan menahan lapar hanya untuk mendapatkan sepotong daging keras atau umbi-umbian hambar. Dalam kacamata sejarah kelangsungan hidup manusia, membuang atau mencela makanan adalah sebuah kemewahan yang tidak rasional. Makanan adalah simbol absolut dari kehidupan itu sendiri.
Ketika budaya kita merawat konsep pamali mencela makanan, itu sebenarnya berawal dari sebuah mekanisme pertahanan sosial. Masyarakat zaman dulu tahu betul rasanya kelaparan. Namun, seiring berjalannya waktu, alasan historis ini mulai menguap. Kita kini hidup di era aplikasi food delivery. Makanan hangat dari berbagai belahan dunia bisa datang hanya dengan satu sentuhan jari di layar gawai. Kelimpahan yang serba instan ini diam-diam mengubah kita. Kita menjadi sangat mudah berubah menjadi kritikus dadakan. Kita lupa bahwa ada harga psikologis tersembunyi yang harus kita bayar setiap kali kita mengeluh tentang isi piring kita.
Di titik inilah sains mulai ikut bercerita. Pernahkah teman-teman mendengar istilah gut-brain axis? Ini adalah sebuah jalur komunikasi super cepat antara usus dan otak kita. Saat kita mencela makanan, kita sebenarnya sedang menciptakan sebuah respons emosional negatif di dalam kepala kita.
Bayangkan kita sedang menatap sepiring sayur lodeh yang kebetulan sayurnya agak layu, lalu kita mulai merutuk di dalam hati. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tengkorak kita saat kata-kata keluhan itu muncul? Apakah otak kita sedang bereaksi terhadap tekstur sayur lodeh itu, atau otak kita justru sedang meracuni dirinya sendiri lewat emosi yang kita buat? Coba kita pikirkan fenomena ini: mengapa orang-orang yang terbiasa berdoa dan bersyukur sebelum makan jarang mengalami masalah pencernaan psikosomatis? Ada sebuah rantai reaksi kimia yang masih menggantung di sini. Sebuah reaksi biologi yang membuktikan bahwa pamali zaman dulu sebenarnya adalah sebentuk ilmu pengetahuan yang pada saat itu belum ditemukan istilah medisnya.
Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di sirkuit saraf kita. Saat kita mengeluh atau mencela makanan, amigdala di otak kita memprosesnya sebagai sebuah bentuk ketidakpuasan dan ancaman ringan. Respons ini langsung memicu pelepasan hormon stres, seperti kortisol. Tingginya kadar kortisol ini langsung mengirim sinyal darurat ke gut-brain axis yang kita bahas tadi. Hasilnya sangat nyata. Sistem pencernaan kita menegang. Otot lambung menjadi kaku. Kita akhirnya mencerna makanan tersebut dalam kondisi mode fight or flight. Alih-alih terserap menjadi nutrisi, makanan itu malah memicu asam lambung atau rasa kembung.
Sebaliknya, mari kita lihat anatomi rasa syukur. Ketika kita menerima makanan dengan lapang dada—meskipun rasanya tidak sempurna—kita sedang melatih otot psikologis kita. Secara hard science, emosi bersyukur langsung memicu otak untuk memproduksi dopamin dan serotonin. Ini adalah senyawa kimia pembawa kebahagiaan dan ketenangan. Orang yang membiasakan diri untuk tidak mencela makanan sedang secara harfiah memprogram ulang otak mereka. Mereka sedang melawan apa yang dalam psikologi disebut sebagai negativity bias (kecenderungan otak untuk selalu fokus pada hal buruk).
Ketika kita berhenti mengeluh tentang hal paling dasar yang menopang hidup kita, yaitu makanan, kita sebenarnya sedang membangun fondasi kesehatan mental yang sangat kokoh. Orang yang bisa berdamai dengan makanan yang tidak enak, terbukti lebih tangguh menghadapi masalah hidup yang jauh lebih besar. Ternyata, leluhur kita sama sekali tidak sedang menakut-nakuti kita dengan pamali. Secara tidak sadar, mereka sedang berupaya menjaga kewarasan kita.
Tentu saja, memahami hal ini bukan berarti kita harus menyiksa diri menelan makanan basi. Bukan berarti juga kita harus diam saja saat pesanan di restoran langganan kita tertukar. Ada garis batas yang sangat jelas antara mengevaluasi secara objektif dengan mencela penuh emosi. Menyadari bahwa rasa masakannya kurang pas adalah hal yang sangat normal. Namun, menggerutu berlebihan dan merendahkan rezeki yang ada di depan mata adalah pilihan yang pada akhirnya hanya merugikan diri dan mental kita sendiri.
Jadi, lain kali jika teman-teman dihadapkan pada piring berisi makanan yang jauh dari ekspektasi, coba tarik napas sejenak. Sadari sensasi kecewa itu tanpa harus menghakiminya. Kita tidak perlu berpura-pura menyukainya, tapi kita selalu punya kekuatan penuh untuk memilih tidak mencelanya. Mari kita hargai makanan itu sebagai sebuah pengingat sederhana bahwa hari ini, kita masih diberi napas dan kesempatan untuk makan. Kadang kala, kedamaian pikiran dan perut yang tenang dimulai dari satu keputusan kecil: menutup mulut dari keluhan, dan membiarkan otak kita merayakan nikmatnya rasa syukur.