mitos tuyul
psikologi kecemburuan sosial dan hilangnya uang secara irasional
Pernahkah kita merasa yakin betul menaruh selembar uang seratus ribu di dalam dompet, tapi keesokan harinya uang itu lenyap begitu saja? Kita panik membongkar isi tas, merogoh saku celana, hingga mengecek laci meja. Hasilnya nihil. Lalu, entah dari mana asalnya, terlintas satu "tersangka" yang sejak dulu sering disalahkan oleh masyarakat kita: tuyul. Sosok anak kecil tak kasatmata, berkepala pelontos, dan konon hobi mencuri uang kertas. Lucunya, mitos ini bukan sekadar cerita horor usang. Kehadirannya adalah fenomena psikologis yang sangat menarik untuk kita bedah bersama. Mari kita telusuri mengapa makhluk fiktif ini begitu populer, dan apa sebenarnya yang terjadi dengan uang kita yang sering "hilang" tanpa jejak itu.
Sebelum kita buru-buru menyalahkan si hantu cilik, kita perlu mundur sejenak melihat lembaran sejarah. Para sosiolog dan sejarawan menemukan bahwa mitos tuyul mulai ramai dibicarakan di Jawa pada awal abad ke-20. Saat itu, masyarakat sedang mengalami masa transisi yang drastis, dari sistem pertanian tradisional menuju ekonomi uang ala kolonial. Tiba-tiba saja, ada tetangga di desa yang mendadak kaya raya. Mereka tidak terlihat belepotan lumpur di sawah, tapi anehnya bisa membangun rumah tembok yang megah. Bagi masyarakat yang memegang prinsip "kerja keras berarti memeras keringat di ladang", kekayaan instan semacam ini sangat tidak masuk akal. Di titik inilah otak manusia secara alami mencari rasionalisasi. Jika bukan karena kerja fisik, pasti ada campur tangan gaib. Mitos tuyul pun lahir sebagai alat pelipur lara untuk menjelaskan ketimpangan ekonomi yang mendadak muncul di depan mata.
Namun, ada sebuah pertanyaan yang menggelitik. Mengapa di era serba digital dan kecerdasan buatan seperti sekarang, bayang-bayang tuyul masih sering mampir di obrolan kita? Kita mungkin tidak benar-benar percaya ada yang memeliharanya. Tapi saat uang di laci warung berkurang, atau uang belanja ludes di pertengahan bulan, tuyul tetap jadi lelucon sekaligus kambing hitam yang paling mudah. Ada dua misteri besar yang belum terjawab di sini. Pertama, mengapa kita begitu mudah curiga melihat tetangga yang mendadak beli mobil baru? Kedua, ke mana sebenarnya perginya lembaran rupiah kita yang seolah menguap itu? Jawaban dari dua misteri ini ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan klenik. Jawabannya murni bersembunyi di dalam cara kerja otak kita sendiri.
Mari kita bongkar misteri pertama lewat kacamata ilmu psikologi. Ada sebuah konsep nyata yang disebut deprivasi relatif (relative deprivation). Ini adalah perasaan frustrasi atau cemburu sosial yang muncul saat kita membandingkan kondisi finansial kita dengan orang lain yang terlihat lebih sukses. Ketika tetangga mendadak kaya, ego kita diam-diam terluka. Untuk melindungi harga diri tersebut, otak kita segera menyusun narasi pertahanan. Jauh lebih ringan bagi batin kita untuk melabeli kesuksesan orang lain sebagai "hasil pesugihan", daripada harus mengakui bahwa mereka mungkin lebih cerdas berbisnis.
Lalu, bagaimana dengan uang kita yang hilang misterius? Ilmu ekonomi perilaku (behavioral economics) punya jawaban telaknya. Otak manusia dirancang sangat buruk dalam melacak pengeluaran tak kasatmata (phantom expenses). Kita sering amnesia pada biaya admin transfer, tarif parkir, langganan aplikasi streaming yang auto-debet, atau jajan kopi yang terasa sepele. Secara kolektif, kebiasaan impulsif ini menciptakan kebocoran besar. Kita merasa tidak pernah membelanjakan uang di dompet, padahal tangan kita sendiri yang memecahkan uang besar itu untuk hal-hal mikroskopis yang luput dari ingatan jangka pendek.
Pada akhirnya, menyalahkan tuyul adalah mekanisme pertahanan diri yang sangat manusiawi. Kita semua pasti pernah merasa kewalahan mengatur keuangan pribadi, dan kita semua sesekali pernah dihinggapi rasa iri. Mitos ini mengizinkan kita untuk rehat sejenak, mengalihkan rasa bersalah atas kecerobohan finansial kita kepada sosok tak berwujud. Namun, rasanya sudah saatnya kita berdamai dengan kenyataan. Uang kita tidak dicuri oleh entitas gaib berpopok. Uang itu mungkin habis oleh jempol kita sendiri saat asyik berbelanja daring di tengah malam. Dengan memahami bias kognitif dan psikologi kecemburuan ini, kita bisa belajar menjadi lebih empati. Empati kepada tetangga yang sedang berjuang meniti kesuksesan, dan yang terpenting, empati kepada diri kita sendiri yang kadang masih payah mengatur dompet. Jadi, sebelum teman-teman repot menaruh kaca atau jarum di dekat brankas untuk menakuti hantu, mari kita buka saja aplikasi catatan pengeluaran kita. Di sanalah kebenaran sesungguhnya berada.