mitos menanam pohon sawo

psikologi ruang dan kaitan dengan kenyamanan rumah

mitos menanam pohon sawo
I

Pernahkah kita ditegur kakek atau nenek saat berniat menanam pohon di pekarangan rumah? Apalagi kalau pohon yang mau ditanam adalah pohon sawo. "Jangan tanam di depan rumah, nanti jadi tempat tinggal hantu," begitu biasanya peringatan mereka. Jujur saja, waktu kecil saya sempat merinding mendengar hal ini. Mitos ini begitu melegenda di masyarakat kita. Pohon sawo berbuah manis, tapi kenapa selalu dihubungkan dengan makhluk halus yang menyeramkan? Apakah leluhur kita sekadar menakut-nakuti? Atau sebenarnya ada pesan tersembunyi yang gagal kita pahami? Mari kita bedah misteri ini bersama-sama.

II

Untuk memahaminya, kita harus melihat pohon sawo dari kacamata botani dan arsitektur kuno. Pohon sawo atau Manilkara zapota bukanlah tanaman perdu yang imut. Ia bisa tumbuh menjulang sangat tinggi. Tajuknya luar biasa rapat. Daunnya rimbun, tebal, dan berwarna hijau gelap. Saat ditanam persis di depan rumah, pohon ini akan bertindak layaknya payung raksasa. Terdengar sejuk? Memang. Tapi di sisi lain, payung raksasa ini menghalangi sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah. Fasad rumah seketika menjadi gelap. Sirkulasi udara bisa tertahan oleh tembok daun yang rimbun itu. Di sinilah insting purba kita mulai bermain. Selama ratusan ribu tahun, otak manusia berevolusi untuk merasa aman di tempat yang terang dengan jarak pandang luas. Ketika pandangan kita terhalang oleh bayangan gelap yang padat, amygdala di otak kita—pusat pengendali rasa takut—mulai menyalakan alarm waspada.

III

Lalu, apa hubungannya kegelapan buatan ini dengan kenyamanan rumah dan munculnya mitos hantu? Di sinilah konsep psikologi ruang atau spatial psychology mengambil peran. Otak kita secara tidak sadar merespons lingkungan fisik. Ruangan yang kurang cahaya dan pengap secara otomatis menurunkan produksi serotonin. Kita jadi lebih mudah lelah, murung, cemas, atau bahkan merasa sedang diawasi. Namun, pertanyaannya sekarang, apakah perasaan tidak nyaman itu murni cuma ilusi psikologis? Ataukah sebenarnya ada ancaman biologis yang sangat nyata di balik rumah yang terlalu teduh ini? Mengapa dari sekian banyak pohon besar, sawo yang jadi "kambing hitam" favorit cerita mistis Nusantara?

IV

Fakta ilmiahnya ternyata sangat luar biasa, dan ini adalah bagian yang paling menarik. Rumah yang tertutup bayangan pohon berdaun lebat akan kehilangan paparan sinar ultraviolet. Tanpa sinar matahari yang cukup, dinding dan lantai rumah menjadi sangat lembap. Kelembapan tinggi ini adalah surga bagi pertumbuhan jamur (mold) dan spora. Ketika kita menghirup udara yang penuh spora jamur setiap hari, sistem pernapasan kita terganggu. Kadar oksigen di dalam rumah yang pengap juga menurun drastis. Secara medis, kekurangan oksigen dan paparan jamur berlebih bisa menyebabkan pusing, halusinasi ringan, sesak napas saat tidur (sleep apnea), hingga perasaan berat di dada. Orang zaman dulu jelas tidak punya alat pengukur kelembapan atau mikroskop. Ketika mereka bangun tidur dengan dada sesak di rumah yang gelap, penjelasan paling masuk akal saat itu adalah: ada makhluk besar tak kasat mata yang menindih mereka. Ya, mitos hantu di pohon sawo sebenarnya adalah cara leluhur kita menjelaskan fenomena Sick Building Syndrome (sindrom bangunan sakit). Mitos adalah sains yang dibungkus dengan bahasa dongeng pada zamannya.

V

Sekarang teman-teman tahu bahwa larangan menanam sawo di depan rumah bukanlah sekadar takhayul usang. Ada kebijaksanaan tata ruang dan ilmu kesehatan lingkungan di dalamnya. Kita tentu tidak perlu memusuhi pohon sawo. Buahnya tetap enak, dan kayunya sangat kuat. Jika teman-teman ingin menanamnya, tanamlah di halaman belakang atau area terbuka yang cukup luas, bukan tepat di depan jendela kamar tidur. Memahami sejarah dan psikologi di balik sebuah mitos membuat kita bisa bersikap lebih cerdas. Kita jadi belajar bahwa kadang, ketakutan nenek moyang kita bukanlah pada hantunya. Mereka takut pada ancaman kesehatan yang belum mereka ketahui nama ilmiahnya. Mari kita rawat warisan cerita ini, tidak lagi dengan rasa takut, tapi dengan kacamata kritis yang penuh empati.