mitos kembang wijayakusuma

botani mekarnya bunga malam hari dan penyerbukan

mitos kembang wijayakusuma
I

Pernahkah kita rela begadang sampai tengah malam, duduk diam di teras, hanya untuk menunggu sekuntum bunga mekar? Kalau kita besar di Indonesia, kemungkinan besar bunga itu adalah wijayakusuma. Sejak zaman kerajaan, bunga ini dibalut mitos yang sangat megah. Namanya saja bermakna "bunga kemenangan". Mitosnya, siapa pun yang berhasil melihat kelopaknya mekar sempurna akan mendapat rezeki nomplok. Di keraton-keraton Jawa zaman dulu, bunga ini bahkan dianggap sebagai pusaka, dan konon memegang kunci takhta seorang raja. Pertanyaannya, kenapa pikiran manusia begitu mudah terpikat pada mitos bunga ini? Secara psikologis, otak kita memang mencintai kelangkaan dan misteri. Sesuatu yang tersembunyi, yang hanya terjadi di tengah malam yang sunyi, otomatis memicu lonjakan dopamin di kepala kita. Kita merasa beruntung. Kita merasa sedang menyaksikan sebuah keajaiban yang tidak semua orang bisa lihat.

II

Mari kita ingat-ingat lagi momen magis saat menunggunya mekar. Menjelang pukul sepuluh malam, kuncup yang tadinya tertutup rapat mulai bergetar pelan. Kelopak putih bersihnya membuka perlahan, lapis demi lapis. Dan yang paling tidak bisa dilupakan tentu saja aromanya. Wanginya begitu semerbak, manis, dan sangat dominan, sampai-sampai menusuk hidung dari jarak beberapa meter. Di titik ini, sangat wajar kalau nenek moyang kita mengaitkannya dengan kehadiran entitas tak kasat mata. Bau harum yang tiba-tiba muncul di malam buta selalu sukses membuat bulu kuduk berdiri, bukan? Namun, mari kita kesampingkan sejenak kacamata mistis tersebut. Di balik selubung cerita keraton yang syahdu itu, sebenarnya ada sebuah pertunjukan biologi yang jauh lebih epik. Wijayakusuma sebenarnya sedang tidak mencoba memanggil makhluk halus pelindung harta karun. Ia sedang bekerja keras meneriakkan sebuah pesan darurat.

III

Tentu ini memunculkan sebuah teka-teki yang menggelitik logika kita. Teman-teman pasti tahu aturan dasar dunia botani. Bunga mekar dan memamerkan warna cerah untuk merayu lebah, kupu-kupu, atau burung agar datang membantu penyerbukan. Masalahnya, mayoritas agen penyerbuk itu adalah makhluk diurnal, alias sibuk bekerja di siang hari dan tidur nyenyak di malam hari. Lalu, untuk apa wijayakusuma menghabiskan begitu banyak energi untuk mekar di saat kondisi gelap gulita? Kenapa ia berdandan habis-habisan dengan mahkota putih pucat yang raksasa, menyebarkan parfum paling mahal yang ia punya, hanya untuk layu dan mati sebelum matahari terbit? Jika bukan kawanan lebah atau kupu-kupu cantik yang ia tunggu di siang hari, lalu siapa tamu misterius yang sebenarnya sedang diundang oleh bunga ini di tengah malam?

IV

Bersiaplah untuk sebuah fakta yang sedikit mengejutkan. Ternyata, "pangeran" yang ditunggu-tunggu wijayakusuma bukanlah dewa pembawa rezeki. Tamu VIP tersebut adalah ngengat elang (hawk moth) dan kelelawar pemakan nektar. Wijayakusuma, yang memiliki nama ilmiah Epiphyllum oxypetalum, faktanya bukanlah tanaman asli Nusantara. Ia adalah kaktus epifit yang leluhurnya berasal dari hutan hujan tropis di Amerika Tengah dan Selatan. Di habitat aslinya sana, persaingan berebut perhatian serangga di siang hari sangatlah brutal. Jadi, secara evolusioner, wijayakusuma mengambil strategi cerdas yang anti-mainstream: ia mengambil shift malam. Warna putih pucatnya bukanlah kebetulan belaka. Di tengah gelapnya hutan, warna putih adalah satu-satunya warna yang efektif memantulkan cahaya bulan. Bunga ini bertindak bak mercusuar bagi ngengat yang terbang di kegelapan. Aromanya yang sangat menyengat adalah sistem navigasi berbasis bau (olfactory cue) yang menuntun para penyerbuk nokturnal ini menembus gelapnya malam, tepat menuju sumber nektar. Mekar hanya dalam hitungan jam adalah bentuk efisiensi ekstrem. Begitu penyerbukan selesai dilakukan oleh si ngengat atau kelelawar, misinya tuntas. Ia tidak perlu membuang sisa energi untuk mekar lebih lama lagi.

V

Mengetahui fakta hard science ini sama sekali tidak merampas keajaiban wijayakusuma, bukan? Justru, menurut saya, ceritanya menjadi jauh lebih masuk akal sekaligus romantis. Kita sedang melihat sebuah mahakarya adaptasi. Bunga ini mengarungi samudra dari Amerika Latin, mendarat di tanah Jawa, dan tanpa sengaja berbaur dengan psikologi kebudayaan kita yang memang sangat mencintai hal-hal mistis. Kini, saat teman-teman kelak duduk menanti wijayakusuma mekar lagi di halaman rumah, kita tidak hanya sedang menunggu datangnya keberuntungan fana. Kita sedang menyaksikan sebuah tarian evolusi yang sudah dipoles selama jutaan tahun. Kita sedang melihat bagaimana sebuah makhluk hidup berjuang keras mencari pasangan di tengah pekatnya malam, menggunakan cahaya bulan dan aroma sebagai bahasa cintanya. Dan pada akhirnya, bukankah kita semua juga sering begitu? Kadang kala, keajaiban terbesar tidak datang dari hal-hal gaib, melainkan dari betapa gigih dan cerdasnya sebuah kehidupan mencari cara untuk terus bertahan dan terhubung satu sama lain.