mitos ikan keramat di telaga

ekologi pelestarian spesies lewat cerita rakyat

mitos ikan keramat di telaga
I

Pernahkah kita mengunjungi sebuah telaga sunyi di pelosok desa, lalu mendengar bisikan peringatan dari warga sekitar? Ceritanya biasanya seragam. Ada ikan raksasa penjaga telaga. Ikan itu keramat. Siapa pun yang berani memancing, apalagi memakannya, akan tertimpa kutukan, jatuh sakit, atau bahkan meninggal dunia secara misterius.

Sebagai orang modern, reaksi pertama kita mungkin tersenyum geli. Kita hidup di era internet. Kita tahu ikan hanyalah ikan, bersirip dan bernapas dengan insang, bukan makhluk astral. Kutukan terdengar seperti omong kosong dari masa lalu.

Namun, mari kita duduk sejenak dan berpikir bersama. Pernahkah teman-teman bertanya, mengapa cerita yang hampir identik ini bisa ditemukan di berbagai danau dan telaga terpencil di seluruh Nusantara? Apakah leluhur kita benar-benar hanya sekumpulan orang yang mudah ditakut-takuti oleh hal gaib? Ataukah ada sebuah pesan tersembunyi yang sedang mencoba mereka sampaikan kepada kita melintasi zaman?

II

Untuk menjawabnya, saya ingin mengajak teman-teman membedah hal ini dari kacamata psikologi evolusioner. Otak manusia purba didesain untuk satu tujuan utama: bertahan hidup. Dalam proses evolusi tersebut, otak kita mengembangkan apa yang disebut sebagai negativity bias. Kita lebih mudah mengingat dan merespons informasi yang mengandung ancaman atau bahaya dibandingkan informasi yang menyenangkan.

Leluhur kita sangat memahami cara kerja psikologi manusia ini, jauh sebelum buku teks psikologi ditulis. Bayangkan jika kepala suku zaman dahulu membuat aturan tertulis: "Dilarang memancing karena dapat merusak populasi ikan." Kira-kira, apakah warga akan patuh? Tentu tidak. Selalu ada orang serakah yang akan mencuri ikan di malam hari. Aturan logis sering kali kalah oleh hasrat perut.

Maka, diciptakanlah sebuah narasi penceritaan yang brilian. Mereka meminjam rasa takut. Mereka menciptakan mitos hantu, kutukan, dan makhluk keramat. Cerita seram ini menyebar dari mulut ke mulut. Menempel kuat di amigdala, pusat rasa takut di otak kita. Lewat cerita hantu, kepatuhan masyarakat bisa dijamin seratus persen, tanpa perlu ada polisi yang berjaga 24 jam di tepi telaga.

III

Sekarang, mari kita bermain dengan sebuah skenario imajiner. Bayangkan jika besok pagi, seluruh warga desa tiba-tiba disadarkan bahwa mitos ikan keramat itu seratus persen palsu. Tidak ada hantu. Tidak ada kutukan. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Tentu saja, pesta pora. Warga akan berbondong-bondong membawa jaring dan kail. Telaga itu akan dikuras habis-habisan demi lauk makan malam atau untuk dijual ke pasar. Dalam hitungan minggu, ikan-ikan berukuran besar lenyap.

Tapi krisis sesungguhnya baru saja dimulai. Air telaga tiba-tiba berubah menjadi keruh dan berbau busuk. Nyamuk berkembang biak tanpa kendali, membawa wabah penyakit mematikan ke desa tersebut. Tanaman di sekitar telaga perlahan mati. Sebuah bencana ekologis terjadi dengan sangat cepat.

Mengapa hilangnya satu spesies ikan bisa memicu efek domino yang menghancurkan seluruh kehidupan desa? Rahasia apa yang sebenarnya dijaga mati-matian oleh leluhur kita di dasar telaga tersebut?

IV

Inilah titik di mana hard science mengungkap kejeniusan masa lalu. Secara ekologi, sebuah telaga atau danau terpencil adalah ekosistem tertutup (closed ecosystem). Berbeda dengan sungai yang airnya mengalir atau laut yang luas, kehidupan di telaga sangat rentan terhadap perubahan kecil.

Ikan-ikan di telaga terpencil sering kali berevolusi menjadi spesies endemik. Artinya, mereka tidak ditemukan di tempat lain di muka bumi. Secara genetika populasi, spesies endemik di ruang sempit memiliki kelemahan fatal: jumlah mereka tidak banyak dan laju reproduksi mereka lambat. Jika ikan dewasa atau apex predator di telaga itu ditangkap secara massal (overfishing), populasi mereka akan kolaps tanpa bisa pulih kembali.

Ikan-ikan "keramat" ini biasanya memiliki peran ekologis yang sangat krusial, yang disebut sebagai keystone species atau spesies kunci. Mereka memakan jentik nyamuk pembawa penyakit. Kotoran mereka menjadi nutrisi bagi plankton. Gerakan mereka di dasar telaga memutar oksigen di dalam air.

Ketika ikan ini habis, jentik nyamuk meledak menjadi wabah demam berdarah atau malaria. Ledakan alga beracun akan menguras oksigen, membuat air membusuk. Pada akhirnya, manusia yang memakan ikan itu benar-benar akan "jatuh sakit" atau "meninggal", persis seperti isi kutukan mitos tersebut!

Leluhur kita mungkin tidak mengenal istilah population ecology atau genetik. Namun lewat observasi ratusan tahun, mereka mempraktikkan apa yang kini diakui oleh para ilmuwan modern sebagai Traditional Ecological Knowledge (TEK). Mitos gaib itu sebenarnya adalah undang-undang konservasi lingkungan yang disamarkan dalam bentuk dongeng.

V

Mempelajari semua ini membuat saya merenung. Betapa seringnya kita bersikap arogan karena merasa hidup di zaman modern. Kita menertawakan kearifan lokal masa lalu dan menganggapnya sebagai kebodohan, padahal sejatinya kita sedang menertawakan tameng pelindung kita sendiri.

Mitos ikan keramat bukan sekadar cerita pengantar tidur atau takhayul usang. Ia adalah bentuk cinta dan empati leluhur agar anak cucunya—yaitu kita—tidak mewarisi alam yang rusak. Lewat sebuah kebohongan fiktif, mereka menyelamatkan kebenaran biologis yang sangat nyata.

Hari ini, teman-teman dan saya mungkin tidak perlu lagi percaya pada hantu penjaga telaga. Kita sudah memiliki sains yang bisa menjelaskan rantai makanan dan keseimbangan ekosistem secara rasional. Namun, berpikir kritis tidak berarti kita harus menghilangkan rasa hormat. Mari kita jaga lingkungan kita, bukan lagi karena takut dikutuk oleh hal gaib, melainkan karena kita akhirnya mengerti betapa rapuhnya keseimbangan kehidupan di bumi ini.