mitos babi ngepet

sejarah sosiologi tentang kecemburuan ekonomi pedesaan

mitos babi ngepet
I

Pernahkah kita melihat berita viral tentang warga sekampung yang heboh menangkap seekor babi hutan? Di tengah kerumunan itu, selalu ada satu atau dua orang yang berteriak dengan yakin bahwa itu bukanlah babi biasa, melainkan siluman pencuri uang alias babi ngepet. Rasanya agak absurd, bukan? Di era ketika kita sudah bisa memotret lubang hitam di tata surya dan AI bisa menulis puisi, mitos babi ngepet masih saja punya panggung di masyarakat kita.

Awalnya, kita mungkin hanya ingin tertawa dan menganggap ini murni kebodohan massal. Namun, mari kita tahan dulu tawa tersebut. Sebagai orang yang suka mengamati perilaku manusia, saya mengajak teman-teman untuk melihat fenomena ini dari kacamata yang sedikit berbeda. Bagaimana jika mitos babi ngepet sebenarnya sama sekali bukan tentang ilmu hitam? Bagaimana jika ini adalah salah satu rekaman sejarah paling jujur tentang luka psikologis dan kecemburuan ekonomi masyarakat kita di masa lalu? Mari kita bedah pelan-pelan.

II

Untuk memahami anatomi mitos ini, kita harus menyadari satu hal penting tentang otak manusia: otak kita sangat membenci ketidakpastian. Ketika ada kejadian yang tidak masuk akal, otak akan berusaha keras mencari pola atau alasan untuk menjelaskannya. Konsep ini dalam psikologi sering berkaitan dengan cognitive dissonance, sebuah rasa tidak nyaman ketika realita tidak sesuai dengan keyakinan kita.

Bayangkan kita hidup di sebuah desa agraris pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Di desa ini, rumus kehidupan sangat sederhana dan disepakati oleh semua orang: kalau mau kaya, ya harus kerja keras berkeringat di sawah dari matahari terbit sampai terbenam. Keringat adalah mata uang yang paling valid.

Namun, tiba-tiba ada satu tetangga yang jarang keluar rumah, tidak pernah terlihat mencangkul, tangannya bersih dari lumpur, tapi hartanya mendadak melimpah. Beli tanah baru, perhiasan emas, dan rumah besar. Otak masyarakat desa yang terbiasa dengan rumus "kerja fisik = uang" mendadak error. Karena mereka belum mengenal konsep investasi, saham, atau passive income, mereka harus mencari penjelasan lain. Di titik inilah, imajinasi kolektif mengambil alih logika.

III

Sekarang, teman-teman mungkin bertanya, kenapa harus babi? Kenapa bukan hewan lain seperti harimau atau kuda?

Jawabannya menyentuh aspek sosiologi dan sejarah yang sangat menarik. Pada masa kolonial, terjadi pergeseran ekonomi besar-besaran di Nusantara. Sistem uang mulai menggantikan sistem barter. Ekonomi kapitalis mulai masuk ke desa-desa. Ada orang-orang yang mulai kaya bukan karena bertani, melainkan karena berdagang, menjadi rentenir, atau bekerja sebagai perantara (tengkulak).

Bagi petani tradisional, kekayaan yang didapat dari mengumpulkan uang tanpa memproduksi pangan terasa kotor dan tidak wajar. Babi adalah simbol yang sangat pas untuk mewakili keresahan ini. Babi sering diasosiasikan dengan kerakusan, hewan yang memakan apa saja, dan suka mengendus-endus tanah orang lain. Ditambah lagi, ada ritual menjaga lilin yang identik dengan mitos ini. Seseorang harus diam di rumah menjaga nyala api agar si babi selamat. Tidakkah ini terdengar seperti sindiran tajam? "Kamu cuma duduk diam di rumah jaga lilin, sementara yang lain kerja keras di luar sana." Ini adalah satir sosial yang menjelma menjadi cerita horor.

IV

Inilah saatnya kita melihat rahasia besar di balik mitos tersebut. Dalam ilmu antropologi sosial, ada seorang ahli bernama George Foster yang mencetuskan teori brilian: Image of Limited Good (Sistem Kebaikan Terbatas).

Foster menemukan bahwa dalam masyarakat petani tradisional, kekayaan atau rezeki itu dianggap seperti sebuah kue tar yang ukurannya sudah tetap. Tidak bisa diperbesar. Jadi, kalau ada satu orang tetangga yang potongan kuenya mendadak jadi sangat besar, logika masyarakat desa akan langsung menyimpulkan: "Dia pasti mencuri potongan kue milikku!"

Padahal, mungkin saja si tetangga itu menemukan resep kue baru atau membuat kuenya sendiri. Tapi karena paradigma Limited Good ini sangat kuat, kecemburuan sosial menjadi tak terhindarkan. Mitos babi ngepet adalah mekanisme pertahanan psikologis masyarakat. Menuduh seseorang menggunakan pesugihan adalah cara paling efektif untuk menghukum mereka yang mendobrak tatanan ekonomi desa, sekaligus melegitimasi rasa iri hati (invidia) yang dirasakan oleh warga lainnya. Ini adalah bentuk perlawanan kelas ala masyarakat pedesaan.

V

Jadi, cerita tentang siluman babi ini sebenarnya adalah monumen kesedihan dari ketimpangan ekonomi dan kurangnya literasi finansial di masa lalu.

Sebelum kita merasa terlalu superior dan menghakimi leluhur kita, mari kita bercermin sejenak. Pernahkah kita melihat anak muda di era sekarang yang kerjanya cuma di depan laptop seharian, tahu-tahu bisa beli mobil sport mewah dari crypto atau saham? Lalu tanpa sadar kita bergumam, "Ah, paling dia nipu," atau "Paling itu hasil money laundry."

Tanpa sadar, perangkat psikologis kita masih bekerja dengan cara yang persis sama dengan warga desa seabad yang lalu. Kita masih sering memakai kacamata Limited Good. Bentuk babinya saja yang berubah menjadi kecurigaan di kolom komentar media sosial. Mempelajari sejarah mitos mengajarkan kita satu empati yang mendalam: bahwa setiap zaman memiliki ketakutannya sendiri terhadap hal yang tidak mereka pahami.

Mulai sekarang, ketika kita dihadapkan pada kesuksesan orang lain yang terlihat tidak masuk akal, mari latih pikiran kritis kita. Daripada sibuk mencari siapa yang menjaga lilin, lebih baik kita luangkan waktu untuk belajar bagaimana cara sistem ekonomi bekerja. Karena obat paling mujarab untuk menyembuhkan mitos bukanlah api obor warga, melainkan pengetahuan.