sains tentang sinar matahari
efek vitamin d dan cahaya terhadap regulasi mood dan ide
Pernahkah kita merasa otak seolah membeku di jam tiga sore? Kopi ketiga sudah habis terseruput, tapi layar laptop rasanya hanya memancarkan kabut yang membuat mata sepet. Kita menatap dinding ruangan, merasa suntuk, lelah, dan tiba-tiba kehilangan gairah untuk berpikir. Saya sering sekali mengalaminya. Dan tahukah teman-teman, seringkali solusinya bukanlah tegukan kafein ekstra atau sesi scrolling media sosial yang justru bikin mata lelah. Solusinya ternyata menggantung terang di atas kepala kita, berjarak sekitar 150 juta kilometer dari bumi. Ya, sinar matahari. Kita sering lupa bahwa manusia, pada dasarnya, adalah organisme dengan biologi yang mirip tanaman hias, namun dengan emosi yang jauh lebih kompleks. Kita butuh disiram air dan kita sangat butuh dijemur. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi di dalam tengkorak kita saat cahaya matahari menyentuh kulit dan masuk ke mata kita?
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Nenek moyang kita menghabiskan ratusan ribu tahun berburu, meramu, dan bertani di bawah langit terbuka. Otak dan tubuh kita berevolusi dengan jadwal yang didikte secara ketat oleh terbit dan tenggelamnya matahari. Namun, dalam sekejap mata sejarah modern, kita tiba-tiba mengurung diri di dalam kotak beton bersuhu ruangan. Kita menatap layar bercahaya biru (blue light) selama belasan jam sehari. Secara psikologis dan biologis, ini adalah sebuah anomali. Pernahkah kita mendengar tentang Seasonal Affective Disorder (SAD) atau depresi musiman? Di negara empat musim, saat musim dingin tiba dan matahari jarang muncul, tingkat depresi melompat drastis. Berada di dalam ruangan redup terlalu lama pelan-pelan merampas kejernihan pikiran kita. Kita mungkin sering mengira kita sedang burnout parah atau kehilangan motivasi kerja. Padahal, bisa jadi sel-sel biologi kita sedang berteriak meminta "makanan" utamanya. Ada sebuah mesin rahasia di dalam tubuh kita yang hanya bisa menyala jika pelatuknya ditarik oleh cahaya.
Sekarang, mari kita bedah sains kerasnya (hard science). Saat cahaya matahari pagi yang terang masuk ke mata kita, cahaya itu menghantam sekumpulan sel khusus di retina. Sel ini sama sekali tidak berfungsi untuk melihat bentuk atau warna. Tugas mereka murni sebagai sensor alarm. Sel ini mengirim pesan kilat langsung ke hypothalamus, sebuah pusat kendali kecil di dasar otak kita. Pesannya sangat jelas: "Hentikan produksi melatonin (hormon tidur), dan segera pompa serotonin (neurotransmiter energi dan penstabil mood)!" Sistem ini mengatur circadian rhythm atau jam biologis kita. Di saat yang bersamaan, sinar UVB dari matahari menyentuh permukaan kulit kita. Ini memicu reaksi kimia ajaib yang mengubah kolesterol menjadi Vitamin D. Selama ini, pelajaran sekolah membuat kita mengira Vitamin D hanya urusan tulang dan kalsium. Padahal, secara struktural, Vitamin D sebenarnya bukanlah vitamin. Ia adalah prohormon yang beredar ke seluruh tubuh, termasuk menembus batas darah-otak. Pertanyaannya, lalu apa hubungannya hormon tulang ini dengan mood kita yang hancur dan ide cemerlang yang mampet? Di sinilah rahasia terbesarnya bersembunyi.
Bersiaplah untuk fakta yang mungkin akan mengubah cara kita memanfaatkan jam istirahat siang. Vitamin D yang diproduksi oleh kulit kita tadi, berenang naik ke otak dan bertindak bak manajer pabrik kimia tingkat tinggi. Ia secara harfiah mengaktifkan gen dan enzim yang bertugas memproduksi dopamin dan serotonin. Tanpa Vitamin D yang cukup dari sinar matahari, pabrik motivasi dan kebahagiaan di otak kita akan kekurangan bahan baku dan akhirnya mogok kerja. Ketika kadar serotonin kita optimal, kecemasan mereda. Kita merasa lebih aman dan berdaya. Di sisi lain, dopamin bertugas menyalakan rasa ingin tahu dan dorongan untuk memecahkan masalah. Nah, ketika mood kita stabil dan motivasi kita menyala bersamaan, sebuah fenomena psikologis bernama cognitive flexibility (fleksibilitas kognitif) terjadi. Otak yang rileks dan tidak tertekan adalah otak yang bebas bermain dengan gagasan. Ide-ide liar, solusi kreatif, dan momen aha! hampir mustahil muncul saat kita stres di bawah lampu neon yang dingin. Ide-ide itu mekar ketika neurokimia kita berada di titik keseimbangan. Secara harfiah, sinar matahari adalah saklar yang menyalakan "bola lampu" di dalam kepala kita.
Tentu saja saya sangat paham, kita tidak selalu punya kemewahan untuk bekerja di taman terbuka atau ngopi di pinggir pantai setiap hari. Tuntutan hidup sering kali memaksa kita duduk manis di balik meja kubikel. Tapi, mengetahui fakta sains ini seharusnya membuat kita lebih welas asih pada diri sendiri. Jika suatu siang kita merasa sangat stuck, cemas tanpa alasan yang jelas, atau ide terasa mengering, jangan buru-buru menghakimi diri sendiri sebagai orang yang bodoh atau tidak kompeten. Mungkin kita hanya kurang dijemur. Cobalah curi waktu sepuluh hingga lima belas menit saja. Berjalanlah ke luar gedung. Biarkan matahari menyentuh wajah dan lengan kita. Rasakan bagaimana cahaya purba itu meresap, masuk ke retina, menembus pori-pori, dan perlahan-lahan menata ulang sirkuit kabel di otak kita. Pada akhirnya, kita semua terhubung dengan tata surya ini dengan cara yang sangat intim. Mari sesekali melangkah keluar, dan biarkan alam semesta membantu kita berpikir.