sains tentang bahasa tubuh
bagaimana postur tegak memengaruhi kepercayaan diri kreatif
Coba perhatikan posisi duduk teman-teman saat membaca tulisan ini. Apakah punggung melengkung menahan beban? Bahu turun merosot? Leher menjulur ke depan menatap layar, mirip kura-kura yang kelelahan? Tenang saja, saya juga sering tanpa sadar berada di posisi itu. Saat kita kehabisan ide, merasa buntu menyelesaikan masalah, atau sedang krisis kepercayaan diri, tubuh kita seolah secara otomatis menyusut mengecil. Namun pertanyaannya, apakah kita menyusut karena sedang buntu, atau justru kita jadi buntu karena tubuh kita menyusut? Mari kita bedah fenomena yang sedikit aneh ini bersama-sama.
Untuk menjawabnya, kita perlu mundur sedikit ke masa lalu. Sejarah evolusi manusia sebenarnya menyimpan petunjuk yang sangat menarik tentang tubuh kita. Nenek moyang kita di sabana Afrika sana tidak mungkin bisa melukis di dinding gua atau membuat alat baru kalau mereka sedang bersembunyi dari incaran predator. Saat merasa terancam bahaya, insting purba akan langsung menyuruh tubuh kita meringkuk. Ini adalah postur bertahan hidup yang paling masuk akal untuk melindungi organ vital di area perut dan dada.
Masalahnya, bagian otak primitif kita ternyata lumayan kesulitan membedakan mana ancaman harimau betulan, dan mana ancaman deadline pekerjaan atau creative block. Begitu kita stres mencari ide di depan laptop, tubuh kita otomatis masuk ke mode "meringkuk" tadi. Kita mungkin mengira kita sedang fokus menatap layar. Padahal, otak kita sedang membaca sinyal fisik tersebut sebagai: "Gawat, kita sedang terancam dan harus sembunyi." Dan coba tebak? Kreativitas dan keberanian berimajinasi adalah hal pertama yang dimatikan oleh otak saat kita merasa tidak aman.
Selama ratusan tahun, kita dicekoki sebuah pemahaman satu arah. Kita diajari bahwa otak adalah bos besar, sedangkan tubuh cuma sekadar bawahan penurut yang menerima perintah. Kalau kita mau tampil lebih percaya diri dan lebih kreatif, kita merasa harus "memperbaiki pikiran" kita terlebih dahulu, baru nanti tubuh akan mengikuti.
Tapi, bagaimana kalau hierarki ini ternyata tidak sekaku itu? Bagaimana kalau justru otot dan tulang belakang kitalah yang bisa meretas ulang cara kerja otak? Dalam dunia psikologi modern, ada sebuah ranah penelitian memukau yang disebut embodied cognition atau kognisi yang mewujud. Konsep dasarnya berbunyi begini: cara kita berpikir tidak cuma terjadi di dalam batok kepala, tapi juga dibentuk langsung oleh sensasi dan posisi fisik kita. Nah, mari kita buat rasa penasaran kita sedikit bekerja keras di sini. Jika meringkuk membuat otak mematikan ide-ide liar, apa yang sebenarnya meledak di dalam darah dan jaringan saraf kita ketika kita mendadak duduk tegak dan membusungkan dada?
Di sinilah sains garis keras mengambil alih panggung penceritaan. Saat kita mengubah postur menjadi tegak, paru-paru kita tiba-tiba memiliki rongga yang jauh lebih luas untuk mengembang secara maksimal. Oksigen segar membanjiri darah. Secara mekanis, postur terbuka ini langsung merangsang saraf vagus, yaitu semacam kabel serat optik super cepat yang menghubungkan organ-organ tubuh dengan otak. Saraf vagus yang aktif ini langsung mengirim pesan kilat ke pusat komando di kepala kita. Tapi kali ini pesannya amat positif: "Area aman, kita berkuasa di sini, dan kita tidak sedang diserang."
Hasilnya sungguh di luar dugaan. Kadar kortisol, alias hormon stres utama kita, menurun secara signifikan. Sebagai gantinya, otak menyalakan sirkuit neurologis yang disebut behavioral approach system (BAS). Saat BAS menyala, kita tidak lagi berada di mode bertahan pasif, melainkan beralih sepenuhnya ke mode eksplorasi aktif. Kita secara biologis menjadi lebih berani mengambil risiko, lebih peka menggabungkan ide-ide acak menjadi karya baru, dan secara drastis merasa lebih yakin dengan intuisi kita. Hanya dengan meluruskan tulang belakang, kita secara harfiah mengubah racikan kimiawi di dalam otak kita sendiri. Kepercayaan diri dalam berkarya itu ternyata bukan sekadar ilusi motivasi belaka, melainkan murni sebuah reaksi fisiologis yang bisa kita kendalikan.
Jadi, sangat wajar kalau kadang kita merasa minder dengan hasil karya sendiri, atau tiba-tiba merasa otak buntu seperti jalan buntu. Tolong jangan buru-buru menyalahkan kecerdasan atau merasa kita kurang berbakat. Kadang kala, kita hanya butuh sedikit peregangan otot. Kepercayaan diri dan daya cipta ternyata bukanlah sebuah takdir genetik yang tidak bisa diubah. Seringkali, ia sesederhana mengubah posisi duduk.
Mulai sekarang, setiap kali kita merasa ragu atau kehilangan percikan imajinasi yang biasa kita miliki, mari kita ambil napas panjang sejenak. Tarik bahu ke belakang, angkat dagu sedikit, luruskan tulang punggung, dan biarkan tubuh kita memberi tahu otak bahwa kita siap untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa hari ini. Sudahkah teman-teman duduk tegak sekarang?