psikologi pengambilan risiko
sains di balik keberanian mencoba jalur yang belum dipetakan
Pernahkah kita berdiri di sebuah persimpangan hidup dan merasa perut kita tiba-tiba mulas? Di satu sisi, ada jalan beraspal mulus yang sudah jelas ujungnya. Mungkin itu pekerjaan yang stabil, rutinitas yang nyaman, atau lingkungan yang sudah sangat kita kenal. Namun di sisi lain, ada jalan setapak berlumpur yang tertutup kabut. Kita tidak tahu ada apa di ujung sana, tapi entah kenapa, hati kecil kita terus berbisik untuk melangkah ke sana.
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Ribuan tahun yang lalu, nenek moyang bangsa Polinesia menatap Samudra Pasifik yang luas dan mengerikan. Tanpa kompas, tanpa peta, dan tanpa jaminan akan kembali hidup-hidup, mereka mendorong kano kecil mereka ke ombak yang ganas. Kenapa mereka melakukannya? Secara logika, bertahan di pulau yang kaya akan sumber daya adalah pilihan yang jauh lebih masuk akal.
Namun, sejarah manusia tidak ditulis oleh mereka yang terus berdiam di pinggir pantai. Sejarah ditulis oleh mereka yang berani mengambil risiko. Pertanyaannya sekarang, apakah orang-orang yang berani mencoba jalur yang belum dipetakan ini memiliki otak yang berbeda dari kita? Ataukah keberanian itu murni sekadar kenekatan belaka?
Untuk menjawabnya, kita harus membedah isi kepala kita sendiri. Secara evolusioner, otak manusia didesain dengan satu tujuan utama: membuat kita tetap hidup.
Di dalam otak kita, ada sebuah struktur kecil berbentuk kacang almond yang bernama amygdala. Ini adalah sistem alarm purba kita. Ketika kita dihadapkan pada ketidakpastian—entah itu disuruh resign untuk merintis bisnis, atau sekadar mengajak kenalan seseorang yang baru—amygdala akan menyala terang. Otak kita benci sesuatu yang tidak tertebak. Ketidakpastian diterjemahkan oleh otak sebagai ancaman, sama seperti saat nenek moyang kita mendengar suara ranting patah di semak-semak. Bisa jadi itu kelinci, tapi bisa jadi itu harimau. Memilih opsi "aman" adalah cara alam merawat kita.
Tapi, di sinilah letak konfliknya. Jika sistem operasi default otak kita adalah mencari keamanan, kenapa kita selalu merasa ada yang kurang saat hidup kita terlalu aman? Kenapa rutinitas yang nyaman lama-lama terasa mencekik?
Ternyata, ada sistem lain di otak kita yang diam-diam memberontak terhadap rasa aman tersebut. Sistem ini sangat rakus, tidak pernah puas, dan selalu haus akan hal-hal baru.
Teman-teman pasti pernah mendengar tentang dopamine. Selama ini, budaya populer sering salah kaprah dan menyebutnya sebagai "hormon kebahagiaan". Padahal, sains modern berkata lain. Dopamine bukanlah molekul tentang rasa puas. Ia adalah molekul tentang pencarian (seeking), antisipasi, dan hasrat.
Ahli neurosains menemukan sebuah fenomena yang disebut reward prediction error. Otak kita pada dasarnya adalah mesin peramal. Ketika kita melakukan hal yang sudah pasti (misalnya makan di restoran langganan), otak memang melepaskan dopamine. Tapi jumlahnya biasa saja. Namun, ketika kita melakukan sesuatu yang hasilnya tidak tertebak, dan ternyata hasilnya positif, ledakan dopamine yang dihasilkan jauh lebih masif!
Inilah jebakan evolusinya. Di satu sisi, otak kita meneriaki kita untuk mencari aman. Di sisi lain, otak kita menyiram kita dengan kenikmatan kimiawi tertinggi justru ketika kita berani melangkah ke ketidakpastian.
Namun, ini menyisakan satu teka-teki besar. Kalau memang risikonya sama, kenapa si A berani mengambil peluang gila, sementara si B memilih mundur teratur? Apakah keberanian itu bakat lahir? Ilmuwan genetik akhirnya menemukan sebuah petunjuk mikroskopis yang mengubah cara kita memandang para pengambil risiko. Ada satu varian genetik yang memegang kunci dari misteri ini.
Mari berkenalan dengan varian gen DRD4-7R. Di kalangan ilmuwan, gen ini sering dijuluki sebagai "gen penjelajah" atau wanderlust gene. Gen ini mengatur reseptor dopamine di otak. Fakta mencengangkan ditemukan ketika para peneliti memetakan gen ini pada populasi manusia di seluruh dunia.
Ternyata, varian gen DRD4-7R ini lebih banyak ditemukan pada populasi manusia yang nenek moyangnya melakukan migrasi paling jauh dari Afrika. Orang-orang dengan gen ini memiliki reseptor dopamine yang kurang sensitif. Artinya, rutinitas biasa tidak cukup untuk membuat mereka merasa "hidup". Mereka secara biologis membutuhkan sensasi, hal baru, dan ketidakpastian untuk mendapatkan kepuasan yang sama dengan orang biasa.
Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru menyalahkan DNA kalau kita merasa kurang berani. Keberanian mengambil risiko bukan sekadar lotre genetik. Hard science menunjukkan bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut.
Penelitian menggunakan fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) pada para pengambil risiko yang sukses—seperti wirausahawan atau pendaki gunung—menunjukkan hal yang luar biasa. Saat mengambil risiko, amygdala (pusat takut) mereka tetap menyala. Mereka sama takutnya dengan kita. Bedanya, area prefrontal cortex mereka (pusat logika dan perencanaan) bekerja jauh lebih kuat untuk menenangkan rasa takut tersebut. Mereka tidak mengabaikan risiko, mereka mengalkulasinya. Mereka mengubah rasa takut menjadi bahan bakar rasa ingin tahu.
Pada akhirnya, apa yang bisa kita pelajari dari sains di balik keberanian ini? Saya rasa, ini membawa sebuah kabar yang sangat melegakan bagi kita semua.
Merasa takut saat akan mengambil keputusan besar, saat harus keluar dari zona nyaman, atau saat mencoba jalur yang belum dipetakan, adalah hal yang sangat wajar. Itu berarti otak kita berfungsi dengan baik. Kita tidak perlu menjadi penjelajah samudra tanpa rasa takut untuk bisa mengubah hidup kita.
Psikologi mengajarkan kita bahwa keberanian adalah otot yang bisa dilatih melalui konsep neuroplasticity. Otak kita bisa berubah sesuai dengan apa yang sering kita lakukan. Kita bisa melatihnya dengan mengambil risiko-risiko kecil setiap hari. Mungkin sesederhana mencoba hobi yang sama sekali baru, berani berpendapat dalam rapat, atau merintis proyek kecil-kecilan di akhir pekan. Setiap kali kita melangkah ke dalam ketidakpastian dan bertahan, otak kita sedang menulis ulang kode-kodenya.
Teman-teman, jalur yang belum dipetakan memang selalu terlihat menakutkan dari garis start. Tapi sejarah biologi dan psikologi kita membuktikan satu hal: kita mewarisi darah para penjelajah. Terkadang, risiko terbesar dalam hidup bukanlah saat kita melangkah ke tempat yang tidak diketahui, melainkan saat kita menolak untuk melangkah sama sekali. Jadi, jalur baru mana yang ingin kita coba petakan hari ini?