psikologi berpikir negatif

cara menggunakan skenario terburuk untuk mengantisipasi masalah

psikologi berpikir negatif
I

Pernahkah kita merasa bersalah karena tidak bisa terus-terusan berpikir positif? Di dunia modern ini, kita seolah dibombardir dengan mantra good vibes only. Sedih sedikit, disuruh tersenyum. Ragu sedikit, disuruh optimis. Padahal, kadang otak kita rasanya otomatis langsung memikirkan kemungkinan terburuk dari segala sesuatu. Saya sering mengalami ini, dan mungkin teman-teman juga. Namun, tahukah kita bahwa ternyata kita tidak sendirian, dan yang lebih penting, otak kita tidak rusak? Secara evolusioner, leluhur kita bertahan hidup bukan karena mereka selalu membayangkan pelangi. Mereka selamat justru karena mereka selalu curiga dan membayangkan ada harimau kelaparan di balik semak-semak. Mari kita telusuri bersama mengapa berpikir negatif, jika digunakan dengan takaran yang pas, sebenarnya adalah salah satu kekuatan super paling diremehkan milik manusia.

II

Otak kita memang punya sistem alarm kuno yang sangat cerewet. Dalam ilmu psikologi, fenomena ini disebut negativity bias. Teman-teman mungkin pernah menyadari hal ini: satu kritikan pedas bisa dengan mudah menghapus sepuluh pujian manis di kepala kita. Ini murni kerjaan amigdala, bagian kecil di otak kita yang bertugas mendeteksi ancaman. Puluhan ribu tahun lalu, bias negatif ini sangat berguna agar kita tidak mati dimakan predator atau keracunan buah hutan. Sayangnya, otak kita belum sepenuhnya sadar bahwa zaman sudah berubah. Sekarang, amigdala kita bisa bereaksi sama paniknya saat kita menunggu balasan chat penting dari atasan, seperti saat leluhur kita dikejar serigala. Masalah utamanya muncul ketika kita dipaksa untuk selalu memikirkan yang baik-baik saja. Saat kita mencoba menekan kecemasan dengan optimisme palsu, otak kita malah makin stres karena kita menyangkal realitas bahaya yang sedang diantisipasi oleh tubuh. Lalu, bagaimana jika solusinya bukanlah menekan pikiran negatif tersebut, melainkan justru menyelaminya?

III

Mari kita mundur sejenak dan melihat catatan sejarah. Ribuan tahun lalu, para filsuf Stoa di Romawi Kuno punya kebiasaan yang mungkin terdengar pesimis. Setiap kali mereka hendak memulai sesuatu yang besar, mereka sengaja duduk diam dan membayangkan semua hal buruk yang bisa menghancurkan rencana mereka. Menariknya, di era modern, kebiasaan "aneh" ini juga diadopsi oleh kelompok orang yang sangat mengandalkan sains. Para insinyur NASA sering melakukan hal ini sebelum meluncurkan roket ke luar angkasa. Para eksekutif di perusahaan-perusahaan raksasa juga merutinkannya sebelum merilis produk baru. Mereka sengaja berkumpul untuk membayangkan proyek kebanggaan mereka gagal total dan hancur lebur. Mengapa orang-orang paling brilian dalam sejarah justru menghabiskan waktu dengan sengaja memikirkan kehancuran? Ternyata, ada sebuah mekanisme psikologis tersembunyi yang menyatukan para filsuf kuno dan ilmuwan roket, sebuah rahasia yang bisa kita pakai untuk menjinakkan kecemasan kita sehari-hari.

IV

Inilah rahasianya: mereka sedang mempraktikkan apa yang oleh para psikolog disebut sebagai defensive pessimism atau pesimisme defensif. Berbeda jauh dengan pesimisme fatalis yang membuat orang putus asa dan diam saja, pesimisme defensif adalah sebuah strategi antisipasi yang sangat aktif. Kita sengaja membayangkan skenario terburuk secara amat detail. Dalam dunia manajemen dan sains pengambilan keputusan, teknik pelaksanaannya dikenal dengan istilah pre-mortem. Jadi, sebelum sebuah proyek atau rencana benar-benar "mati", kita melakukan otopsi fiktif untuk mencari tahu apa saja penyebab kematiannya. Secara neurologis, hal ajaib terjadi di otak kita saat mempraktikkan ini. Ketika kita mulai merinci ketakutan kita menjadi daftar masalah yang konkret, hiperaktivitas di amigdala justru menurun secara drastis. Beban kerja otak kemudian berpindah ke korteks prefrontal, yaitu pusat logika dan penyelesaian masalah kita. Kita berhenti memikirkan ketakutan yang abstrak. Kita berubah dari seseorang yang cemas buta, menjadi seorang ahli taktik yang sedang menyusun rencana cadangan. Skenario terburuk tidak lagi melumpuhkan, ia berubah menjadi peta persiapan.

V

Jadi, teman-teman, mulai sekarang mari kita beri sedikit ruang bernapas untuk sisi gelap di pikiran kita. Berpikir negatif tentang suatu rencana bukan berarti kita mendoakan hal buruk itu benar-benar terjadi. Itu sekadar cara otak kita menjalankan tugas utamanya: melindungi kita dari mara bahaya. Lain kali kita merasa dada berdebar cemas menghadapi presentasi penting, wawancara kerja, atau keputusan besar dalam hidup, jangan buru-buru membungkamnya dengan kepalsuan good vibes. Cobalah ajak kecemasan itu duduk bersama dan tanyakan: apa sih hal paling hancur yang bisa terjadi nanti? Lalu, apa langkah pertama yang akan kita ambil jika itu sungguh terjadi? Saat kita sudah berdamai dan siap menghadapi skenario terburuk, kita biasanya akan melangkah maju dengan jauh lebih tenang. Kita tidak perlu memaksakan diri menjadi orang yang selalu optimis untuk bisa sukses. Kadang, kita hanya perlu bersiap untuk yang terburuk, agar bisa memberikan yang terbaik. Mari kita coba latih pola pikir ini sama-sama.