neuroscience keterkejutan

mengapa paparan ide aneh bisa meningkatkan fleksibilitas kognitif

neuroscience keterkejutan
I

Pernahkah teman-teman sedang asyik menelusuri lini masa media sosial, lalu tiba-tiba tersandung pada sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal? Mungkin itu video tentang teori konspirasi bahwa burung merpati adalah kamera pengintai buatan pemerintah. Atau, sebuah aliran seni di mana pelukisnya hanya menggambar menggunakan tumpahan kecap. Reaksi pertama kita biasanya sama. Kita mengernyitkan dahi. Kita mungkin tertawa sinis, merasa aneh, atau buru-buru menutup layar ponsel karena merasa itu membuang waktu. Secara insting, kita cenderung menghindari hal-hal yang terlalu absurd. Namun, mari kita berhenti sejenak dan berpikir. Bagaimana jika perasaan terkejut dan bingung itu sebenarnya diam-diam sedang meretas otak kita menjadi lebih cerdas?

II

Untuk memahami ini, kita perlu melihat ke belakang. Secara psikologis dan historis, manusia adalah makhluk pencari pola. Otak kita sangat menyukai keteraturan dan rutinitas. Keteraturan membuat kita merasa aman. Di zaman purba, jika leluhur kita melihat semak-semak bergoyang dengan cara yang aneh, mereka tidak akan berdiam diri memikirkan nilai estetikanya. Mereka akan lari, karena keanehan biasanya berarti ancaman predator. Itulah sebabnya, sepanjang sejarah, hal-hal aneh sering kali dijauhi atau bahkan dihukum. Orang yang membawa ide gila sering kali dikucilkan oleh masyarakatnya. Dulu, mengatakan bahwa bumi mengelilingi matahari saja sudah cukup untuk membuat seseorang kehilangan nyawa. Kita mewarisi otak yang dirancang untuk membenci ketidakpastian. Tapi anehnya, sejarah juga membuktikan bahwa justru dari ide-ide absurd dan mengejutkan itulah peradaban manusia melompat maju. Ada sebuah paradoks di sini. Mengapa sesuatu yang membuat kita tidak nyaman secara insting, justru menjadi bahan bakar utama bagi kemajuan pikiran kita?

III

Mari kita melongok ke dalam ruang mesin di balik tengkorak kita. Di dunia neuroscience, ada sebuah mekanisme menarik yang disebut sebagai prediction error atau kesalahan prediksi. Setiap detik, otak kita bertindak sebagai mesin peramal. Saat teman-teman membaca kalimat ini, otak kalian sudah memprediksi kata apa yang akan muncul selanjutnya. Nah, apa yang terjadi ketika tebakan itu hancur berantakan karena kita dihadapkan pada ide yang sangat aneh? Ada semacam alarm yang berbunyi di kepala kita. Dunia tiba-tiba terasa tidak masuk akal. Para psikolog menyebut momen ketidaknyamanan ini sebagai meaning threat—sebuah ancaman terhadap sistem makna yang selama ini kita yakini. Rasanya tentu sangat janggal. Pikiran kita seolah tersandung batu. Tapi jangan salah, di balik rasa tidak nyaman dan kebingungan sesaat itu, otak kita sebenarnya sedang menyiapkan sebuah trik sulap biologis yang sangat luar biasa. Trik apakah itu?

IV

Ini dia rahasia besarnya. Saat otak kita terpapar sesuatu yang sangat absurd, alarm tadi memicu banjir bahan kimia di kepala kita. Neuromodulator seperti noradrenalin dan dopamin mendadak dilepaskan. Otak kita secara harfiah dipaksa masuk ke mode siaga satu tingkat tinggi. Karena pola lama tidak bisa digunakan untuk memahami ide aneh tersebut, otak terpaksa menjadi sangat elastis. Ia mulai membongkar arsip memori dan mencoba mencari pola baru di tempat-tempat yang sebelumnya tidak saling terhubung. Dalam sains kognitif, fenomena ini menghasilkan apa yang disebut fleksibilitas kognitif. Pikiran kita menjadi lebih lentur. Para peneliti pernah melakukan eksperimen unik tentang hal ini. Mereka meminta sekelompok orang membaca cerita pendek karya Franz Kafka yang plotnya sangat aneh dan tidak logis. Hasilnya mengejutkan. Setelah membaca cerita yang membingungkan itu, kemampuan para peserta dalam mengenali pola logika baru justru meningkat tajam dibandingkan mereka yang membaca cerita biasa. Paparan pada hal yang di luar nalar ternyata memaksa otak kita keluar dari mode autopilot. Sirkuit saraf kita melakukan reboot, membuat kita lebih awas, lebih kreatif, dan lebih siap menyerap informasi baru yang rumit.

V

Lalu, apa artinya semua sains ini bagi keseharian kita? Saya tentu tidak mengajak teman-teman untuk mulai memercayai bahwa bumi ini berbentuk donat berlapis gula. Bukan itu poinnya. Poin utamanya adalah tentang memberi ruang bagi rasa terkejut di hidup kita. Hari-hari ini, algoritma internet terlalu memanjakan kita. Kita terkurung dalam gelembung informasi yang hanya menyajikan apa yang kita sukai dan kita setujui. Otak kita menjadi malas karena segalanya serba terprediksi. Padahal, membiarkan diri kita sesekali terpapar ide-ide aneh, membaca fiksi yang surealis, atau mendengarkan opini yang sangat berseberangan dengan kita, adalah bentuk olahraga terbaik bagi otak. Rasa terkejut itu sehat. Ketidaknyamanan saat melihat sesuatu yang absurd adalah tanda biologis bahwa pikiran kita sedang meregang dan bertumbuh. Jadi, mari kita rayakan keanehan. Sesekali, biarkan diri kita bingung. Karena tepat di ujung kebingungan itulah, kita sedang melangkah menjadi versi diri yang jauh lebih tajam, lebih terbuka, dan tentu saja, lebih penuh empati terhadap luasnya kemungkinan di dunia ini.