divergent thinking
cara melatih otak untuk melihat seribu kegunaan pada satu benda biasa
Coba lihat sekeliling teman-teman sekarang. Cari satu benda yang paling membosankan di dekat sana. Mungkin sebuah penjepit kertas di atas meja, cangkir kopi yang sudah kosong, atau sebuah batu bata di halaman. Benda itu diam di sana, seolah hanya punya satu tugas dalam hidupnya. Penjepit kertas, ya tentu saja untuk menjepit kertas. Pernahkah kita berpikir bahwa benda sekecil itu sebenarnya menyimpan rahasia besar tentang bagaimana otak kita bekerja? Atau lebih tepatnya, tentang bagaimana otak kita perlahan-lahan berhenti bekerja secara maksimal seiring kita bertambah dewasa.
Waktu kita masih kecil, sebuah kardus kosong bukanlah tempat untuk menyimpan barang. Kardus itu adalah pesawat luar angkasa. Di hari lain, ia berubah menjadi benteng pertahanan dari serangan naga, atau bahkan mesin waktu. Otak kita saat itu seperti kembang api yang terus meledak dengan ribuan kemungkinan. Tapi perlahan, keajaiban itu memudar. Kita mulai masuk sekolah. Kita belajar bahwa satu ditambah satu adalah dua. Kita diajarkan bahwa setiap pertanyaan ujian hanya memiliki satu jawaban yang benar. Perlahan namun pasti, otak kita menjadi sangat efisien. Sayangnya, efisiensi ini punya harga yang sangat mahal. Kita jadi kehilangan kemampuan untuk melihat dunia di luar fungsi standarnya. Masalah utamanya adalah, ketika kita menghadapi krisis atau jalan buntu dalam hidup, jawaban standar yang diajarkan di buku teks seringkali tidak bisa menyelamatkan kita. Kita butuh sesuatu yang lebih dari sekadar "jawaban yang benar".
Pada tahun 1968, seorang ilmuwan bernama George Land melakukan sebuah penelitian penting yang disponsori oleh NASA. Saat itu, NASA butuh cara untuk merekrut insinyur-insinyur paling inovatif, orang-orang yang bisa memecahkan masalah rumit dan tak terduga di luar angkasa. Land berhasil membuat tes kreativitas yang sangat akurat. Tapi, rasa penasarannya muncul. Ia memberikan tes yang sama kepada sekelompok anak usia 5 tahun. Hasilnya bikin merinding. Sekitar 98 persen dari anak-anak balita itu masuk dalam kategori jenius kreatif. Land kemudian menguji anak-anak yang sama di usia 10 tahun, angkanya turun menjadi 30 persen. Di usia 15 tahun? Tinggal 12 persen. Saat tes ini akhirnya diberikan kepada jutaan orang dewasa, tebak berapa persen yang tersisa di level jenius kreatif? Hanya 2 persen. Fakta ini memunculkan pertanyaan besar. Ke mana perginya sisa 96 persen kejeniusan kita? Apakah sistem saraf di otak kita rusak karena usia? Ataukah ada sebuah saklar tersembunyi di kepala kita yang tanpa sengaja telah kita matikan sendiri?
Saklar itu bernama divergent thinking atau pemikiran divergen. Dalam ilmu psikologi kognitif, ini adalah kemampuan otak untuk menghasilkan berbagai macam solusi dari satu masalah yang terbuka. Kebalikan dari ini adalah convergent thinking, yaitu kemampuan mencari satu jawaban tunggal yang paling benar. Selama belasan tahun, institusi pendidikan melatih pemikiran konvergen kita secara ugal-ugalan. Akibatnya, area otak yang bernama prefrontal cortex—bagian yang mengatur logika dan filter kritik diri kita—berubah menjadi semacam satpam yang sangat galak. Satpam ini langsung membunuh ide aneh sebelum ide itu sempat mekar di kepala. Padahal, untuk mengaktifkan kembali divergent thinking, kita hanya perlu menyuruh satpam logika ini istirahat sejenak. Secara neurologis, saat kita membiarkan otak mencari alternatif tanpa langsung menghakiminya, kita sedang membangun ulang jalur saraf (neural pathways) yang telah lama tertidur. Caranya sangat sederhana. Ambil kembali penjepit kertas tadi. Tantang diri kita untuk menuliskan 50 kegunaan lain dari benda itu dalam waktu lima menit. Awalnya kita akan menjawab: pembatas buku, pencungkil kotoran keyboard, atau alat untuk menekan tombol reset di router internet. Itu jawaban normal. Tapi ketika otak mulai terdesak di menit ketiga, satpam logika kita akhirnya menyerah kelelahan. Di sinilah keajaiban hard science terjadi. Penjepit kertas itu tiba-tiba bisa menjadi anting darurat, jarum kompas buatan, pengunci ritsleting celana yang patah, hingga kail pancing mini. Kita baru saja meretas kembali sirkuit otak masa kecil kita.
Teman-teman, kehilangan kreativitas bukanlah tanda bahwa kita menua atau tidak berbakat. Kita sama sekali tidak rusak. Kita hanya terlalu lama hidup dalam sistem yang menghargai kepatuhan jauh di atas penemuan. Secara biologis, otak kita masih selentur dulu, ia hanya butuh diajak bermain lagi. Melatih divergent thinking bukan sekadar trik agar kita terlihat pintar saat brainstorming di kantor. Lebih dalam dari itu, ini adalah cara kita berlatih empati dan cara kita bertahan hidup. Ketika kita bisa melihat seribu kegunaan pada satu benda yang biasa-biasa saja, kita sebenarnya sedang melatih diri untuk melihat seribu jalan keluar dari satu masalah hidup yang tampak buntu. Kita jadi lebih luwes, lebih pemaaf, dan lebih kaya akan perspektif. Jadi, sebelum kita kembali tenggelam dalam rutinitas hari ini, saya ingin mengajak teman-teman mencoba satu hal kecil. Ambil benda paling biasa di dekat kita saat ini. Tatap benda itu sebentar, tersenyumlah, dan tanyakan pada diri sendiri: "Selain menjadi dirimu yang sekarang, kamu bisa menjadi apa lagi?" Jawaban yang muncul mungkin akan mengejutkan, sekaligus melegakan kita.