emoji dan hieroglif

apakah komunikasi manusia kembali ke bentuk gambar

emoji dan hieroglif
I

Pernahkah kita membalas pesan panjang lebar dari seorang teman hanya dengan satu gambar kecil wajah tertawa sampai menangis? Atau sekadar jempol kuning yang ikonik itu? Saya rasa kita semua sering melakukannya. Kadang, merangkai kata-kata terasa terlalu melelahkan. Lalu, kita menyerah dan menekan tombol kirim untuk sebuah gambar.

Saat melihat rentetan wajah kuning, gambar hati, dan api yang berjejer di layar obrolan, sebuah pertanyaan usil tiba-tiba muncul di kepala saya. Apakah komunikasi manusia sedang mengalami kemunduran?

Coba kita pikirkan sejenak. Beribu-ribu tahun lalu, manusia purba menggambar banteng di dinding gua. Bangsa Mesir kuno dengan susah payah memahat hieroglyph di batu. Lalu peradaban kita menciptakan alfabet agar tulisan menjadi lebih canggih. Tapi sekarang, kenapa kita kembali ngobrol menggunakan gambar? Apakah ponsel pintar diam-diam membawa kita kembali ke zaman batu?

II

Mari kita mundur sejenak ke masa lalu untuk melihat polanya. Tulisan adalah salah satu penemuan paling radikal dari spesies kita. Pada awalnya, manusia memang menggunakan piktogram. Mereka menggambar sungai untuk mendeskripsikan sungai. Menggambar matahari untuk mewakili siang. Ini sangat intuitif dan mudah dipahami.

Hieroglyph Mesir adalah salah satu contoh puncaknya yang sangat indah secara visual. Tapi, ada satu masalah besar yang mengganjal. Menggambar itu memakan waktu lama. Selain itu, gambar sangat sulit digunakan untuk menjelaskan konsep abstrak. Coba bayangkan, bagaimana cara menggambar konsep "keadilan", "keraguan", atau "hari esok"?

Akhirnya, nenek moyang kita berinovasi. Mereka menciptakan alfabet. Huruf-huruf ini membuang bentuk gambar dan beralih mewakili suara. Ini adalah sebuah lompatan kognitif yang luar biasa. Dengan alfabet, kita cukup merangkai puluhan tanda suara untuk menghasilkan jutaan makna yang rumit. Tulisan menjadi sangat cepat dan efisien. Sains, filsafat modern, dan karya sastra besar lahir dari efisiensi huruf ini.

Jika alfabet sebegitu hebat dan efisiennya, lantas mengapa layar ponsel kita sekarang dijajah oleh emoji?

III

Untuk menjawabnya, coba bayangkan kita sedang bercanda dengan teman secara tatap muka. Kita tersenyum miring, nada suara kita naik turun, dan tangan kita bergerak-gerak. Semua ini disebut bahasa non-verbal. Faktanya, psikologi evolusioner mencatat bahwa sebagian besar makna dalam percakapan manusia disampaikan melalui hal-hal non-verbal ini.

Sekarang, hilangkan senyuman itu. Hilangkan nada suaranya. Ikat kedua tangannya. Ubah semuanya menjadi rentetan teks datar di layar kaca. Apa yang terjadi?

Seringkali, miskomunikasi berujung bencana. Pesan berbunyi "Terserah" bisa dibaca sebagai persetujuan yang santai, atau justru kemarahan yang membara. Teks digital itu sifatnya dingin, kaku, dan telanjang secara emosional. Di sinilah otak kita merasa ada bahaya. Otak manusia berevolusi untuk membaca ekspresi wajah, bukan layar smartphone.

Lalu, bagaimana sains menjelaskan fenomena kita yang gemar menempelkan wajah senyum terbalik di akhir kalimat yang canggung? Apakah emoji benar-benar hieroglyph versi modern?

IV

Inilah fakta mengejutkannya. Teman-teman, emoji bukanlah tulisan. Secara linguistik dan neurologis, emoji sama sekali tidak berfungsi seperti hieroglyph.

Bangsa Mesir kuno menggunakan hieroglyph sebagai kata ganti tulisan. Gambar burung hantu di dinding piramida benar-benar berfungsi sebagai huruf atau sebuah kata utuh. Tapi sadarkah kita? Kita tidak menggunakan emoji untuk menggantikan tata bahasa. Kita menggunakannya untuk meniru bahasa tubuh.

Sains menyebut fenomena ini sebagai digital gesture atau isyarat gestur digital. Kita tidak sedang menulis pakai gambar, kita sedang memberikan intonasi pada tulisan kita.

Sebuah studi neurosains dari University of South Australia menemukan hal yang memukau tentang ini. Saat kita melihat emoji wajah tersenyum, bagian otak kita yang menyala secara spesifik adalah area pengenalan wajah manusia, yaitu occipitotemporal cortex. Uniknya, bayi manusia tidak lahir dengan kemampuan ini. Otak kita secara aktif mempelajari bahwa wajah kuning berekspresi di layar itu adalah representasi dari wajah manusia sungguhan.

Jadi, kita sama sekali tidak sedang kembali ke masa purba. Kita justru sedang melakukan hack pada otak kita sendiri. Kita menciptakan lapisan emosi baru di atas teks digital yang tadinya kaku. Emoji adalah nada suara kita. Emoji adalah kedipan mata kita.

V

Mengetahui hal ini sejujurnya membuat saya bernapas lega. Kita tidak menjadi lebih bodoh, malas, atau mengalami kemunduran peradaban karena menggunakan gambar saat chatting.

Sebaliknya, fenomena ini justru menunjukkan betapa kuatnya empati bawaan kita. Ini membuktikan betapa putus asanya kita untuk tetap terhubung secara emosional dengan orang lain. Di tengah dunia yang serba cepat, mekanis, dan serba digital, kita tetaplah mamalia sosial yang mendambakan kehangatan manusiawi.

Kita menggunakan emoji karena deretan huruf abjad tidak memiliki pelukan. Kalimat yang diketik rapi tidak bisa tertawa sampai mengeluarkan air mata.

Jadi, mari kita berhenti merasa bersalah saat mengirim deretan hati merah untuk menyemangati teman, atau mengirim wajah tengkorak saat melihat meme yang lucu. Komunikasi kita tidak sedang bergerak mundur. Kita hanya sedang beradaptasi, mencari cara agar kemanusiaan kita tidak hilang ditelan oleh layar yang dingin. Dan bukankah itu sebuah evolusi yang sangat indah?