Psikologi Kehilangan

bagaimana duka diproses dalam masyarakat yang sangat komunal

Psikologi Kehilangan
I

Hari itu, bumi baru saja menelan seseorang yang paling kita sayangi. Hati kita hancur lebur. Tapi anehnya, di saat kita hanya ingin meringkuk di pojok kamar yang gelap, kita justru harus berdiri di depan pintu rumah. Kita bersalaman dengan ratusan orang, memastikan ketersediaan teh manis, dan tersenyum tipis berterima kasih atas ucapan belasungkawa. Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa saat kita berada di titik paling rapuh, kita justru dituntut untuk menjadi penyelenggara acara dadakan? Di masyarakat komunal tempat kita tumbuh, kesedihan seolah bukan milik pribadi. Tenda biru dipasang, kursi-kursi plastik dijejerkan, dan tetangga berdatangan membawa beras hingga gula. Secara kasat mata, ini adalah bentuk dukungan yang indah. Tapi, mari kita jujur sejenak. Pernahkah kita merasa ada yang sedikit paradoks dari situasi ini?

II

Mari kita bedah situasi ini dari kacamata sains. Saat kita kehilangan, otak kita tidak sekadar sedang bersedih. Otak kita sesungguhnya sedang mengalami disorientasi spasial dan emosional yang sangat masif. Ilmu neurosains menunjukkan bahwa otak kita memiliki semacam peta virtual tentang eksistensi orang-orang terdekat kita. Saat mereka tiba-tiba tiada, otak terus-menerus mengirimkan sinyal ke "koordinat" saraf tersebut, tapi tidak ada balasan. Inilah alasan biologis mengapa dada kita benar-benar terasa sesak secara fisik. Proses pemetaan ulang sirkuit otak ini, yang sering kita sebut sebagai grieving process, membutuhkan energi luar biasa besar. Otak butuh waktu mencerna realitas baru ini. Lalu, bayangkan apa yang terjadi di tengah proses otak yang sedang error ini. Masyarakat komunal kita datang membawa tradisi kunjungan berhari-hari dan tumpukan ekspektasi sosial. Apakah keramaian ini benar-benar membantu otak kita pulih, atau justru membuat sirkuit saraf kita makin kewalahan?

III

Secara historis, manusia memang berevolusi sebagai makhluk suku. Nenek moyang kita di padang sabana tahu persis bahwa kehilangan satu anggota suku berarti melemahnya pertahanan kelompok. Jadi, saat ada kematian, seluruh suku akan merapat. Ini bukan sekadar basa-basi sosial kuno. Ini adalah mekanisme survival murni. Ratusan ribu tahun berlalu, insting komunal itu masih tertanam kuat dalam DNA kita, terwujud dalam tradisi tahlilan atau malam penghiburan. Kita mengeroyok kesedihan itu bersama-sama. Tapi, ada satu celah psikologis yang jarang kita bicarakan. Para psikiater sering menemukan tingginya fenomena delayed grief atau duka yang tertunda justru pada orang-orang di budaya komunal yang kental. Mengapa ini bisa terjadi? Apa sebenarnya yang terjadi pada mental kita ketika tangan kita sibuk menyajikan kue untuk pelayat, sementara otak kita diam-diam menjerit meminta jeda untuk memproses duka?

IV

Jawabannya terletak pada pertarungan sengit antara hormon pelindung dan beban kognitif. Di satu sisi, kehadiran fisik kerabat memang memicu pelepasan oxytocin. Hormon ini bertindak sebagai social buffering atau peredam kejut sosial. Pelukan hangat dari seorang sahabat benar-benar bisa meredam lonjakan kortisol, si hormon stres. Itu adalah kehebatan sistem komunal kita. Namun, bagian gelapnya adalah apa yang disebut sains sebagai cognitive overload. Saat kita harus menjaga perasaan tamu, menahan tangis agar dinilai "sudah ikhlas", dan mengurus logistik pemakaman, kita sedang merampas energi otak dari tugas utamanya: berduka. Kita terjebak dalam emotional labor atau kerja emosional. Kita melakukan "pertunjukan" kesedihan yang sesuai standar kesopanan masyarakat, alih-alih menyelami kesedihan itu sendiri. Alhasil, otak terpaksa menunda proses pemetaan ulang tadi. Duka itu tidak lenyap, teman-teman. Ia hanya diparkir paksa di garasi bawah sadar kita, menumpuk, dan menunggu meledak di masa depan ketika keramaian akhirnya pulang dan kita tertinggal sendirian.

V

Mengetahui fakta neurologis ini tentu bukan berarti kita harus mengunci pintu dan menolak tradisi komunal yang baik. Bagaimanapun, kita tetap butuh jejaring pengaman sosial tersebut. Namun, pemahaman ini memberi kita izin yang sah untuk sedikit lebih "egois" demi kewarasan mental kita. Kita berhak untuk pamit ke kamar sebentar, hanya untuk menangis tersedu-sedu di tengah rumah yang penuh tamu. Kita berhak berkata, "maaf, saya butuh waktu istirahat sebentar," tanpa perlu dihantui rasa bersalah. Dan sebagai bagian dari masyarakat komunal, ini adalah teguran lembut bagi kita semua. Saat menjenguk kawan yang berduka, seringkali bantuan terbaik bukanlah kata-kata bijak yang panjang lebar tentang keikhlasan. Kebaikan tertinggi yang bisa kita berikan justru adalah sebuah keheningan yang menemani, sebungkus makanan yang tidak perlu mereka cuci piringnya, dan ruang aman bagi mereka untuk hancur lebur tanpa dihakimi. Karena pada akhirnya, duka bukanlah sebuah proyek gotong royong yang harus cepat diselesaikan, melainkan perjalanan sunyi yang hanya bisa ditapaki oleh satu hati yang sedang belajar merelakan.