Egalitarianisme
bagaimana masyarakat tanpa raja dan kasta bertahan selama jutaan tahun
Pernahkah kita menyadari sesuatu yang aneh saat membaca buku sejarah di masa sekolah? Hampir semua halaman dipenuhi cerita tentang raja, kaisar, firaun, dan penaklukan. Kita seolah didoktrin bahwa hierarki—adanya penguasa dan yang dikuasai—adalah takdir alami manusia. Kita sering berpikir bahwa sistem kelas, kasta, dan bos yang mendikte bawahan adalah struktur default dari peradaban. Pepatah kuno bilang, yang kuat akan selalu memakan yang lemah. Namun, sains modern dan antropologi punya cerita yang sama sekali berbeda. Bagaimana jika saya katakan bahwa selama 95 persen dari total waktu spesies kita ada di bumi, umat manusia tidak punya raja, tidak punya bos, dan tidak punya kasta? Mari kita bongkar mitos terbesar tentang sifat dasar manusia ini bersama-sama.
Untuk memahami hal ini, kita harus mundur jauh ke belakang, melampaui era piramida Mesir atau kerajaan Romawi. Mari kita lihat sepupu terdekat kita secara biologis: simpanse. Dalam kelompok simpanse, selalu ada alpha male. Pejantan dominan ini memukul dada, menindas yang lemah, dan memonopoli makanan serta pasangan. Dulu, para ilmuwan mengira leluhur manusia juga persis seperti itu. Tapi, bukti arkeologi dan studi terhadap kelompok pemburu-pengumpul (hunter-gatherers) menunjukkan fakta yang mengejutkan. Selama ratusan ribu tahun, leluhur kita hidup secara berpindah-pindah dalam kelompok kecil tanpa pemimpin absolut. Tidak ada polisi yang menjaga ketertiban, tidak ada penjara, dan tidak ada hukum tertulis. Lalu, bagaimana mereka bisa selamat dari serangan predator ganas dan melewati zaman es tanpa seorang komandan yang memberikan perintah? Logikanya, tanpa pemimpin, bukankah sebuah kelompok akan hancur lebur karena kekacauan?
Inilah misteri yang membuat para ilmuwan penasaran selama bertahun-tahun. Mari kita bayangkan kita hidup di zaman purba bersama 50 orang lainnya di padang sabana. Suatu hari, ada satu orang di kelompok kita yang sangat jago berburu. Dia berhasil membunuh mamut sendirian. Secara alami, ego manusia akan muncul. Dia mungkin mulai merasa paling berjasa. Dia merasa berhak mendapat daging paling banyak, berhak mengatur orang lain, dan pelan-pelan ingin menjadi "bos" di kelompok tersebut. Di zaman modern, orang seperti ini mungkin akan langsung diangkat menjadi CEO atau bupati. Tapi di zaman purba, membiarkan satu orang menimbun makanan dan kekuasaan berarti kematian bagi yang lain. Jadi, pertanyaannya: bagaimana leluhur kita mencegah si pemburu arogan ini mengambil alih kekuasaan? Apakah mereka menggunakan kekuatan gaib? Atau mereka punya sebuah senjata rahasia?
Ternyata, senjata rahasia mereka adalah sebuah mekanisme psikologis yang sangat brilian. Dalam antropologi evolusioner, konsep ini disebut sebagai reverse dominance hierarchy (hierarki dominasi terbalik). Alih-alih individu yang kuat menindas yang lemah, individu-individu yang lemah bersatu secara kolektif untuk menekan si kuat. Bagaimana praktiknya? Sangat sederhana dan mungkin sering kita lakukan hari ini. Senjata pertama mereka adalah gosip. Ya, gosip adalah alat purba untuk menjaga kesetaraan sosial. Senjata kedua adalah humor dan ejekan. Ketika si pemburu mulai pamer tentang seberapa hebat tangkapannya, teman-teman di kelompoknya tidak akan bertepuk tangan. Mereka justru akan meledek dan meremehkan daging tangkapan itu agar ego si pemburu tetap membumi.
Egalitarianisme purba ternyata bukanlah ketiadaan aturan. Ia bukan sekadar situasi damai di mana semua orang kebetulan saling menyayangi. Kesetaraan adalah sebuah sistem yang ditegakkan secara aktif dan agresif. Kalau ejekan dan gosip tidak mempan untuk meredam si calon diktator, kelompok akan mengasingkannya. Dan jika ia merespons dengan kekerasan fisik? Kelompok tidak akan ragu untuk membunuhnya saat ia tertidur lelap. Teman-teman, sistem masyarakat tanpa kelas selama jutaan tahun bisa bertahan bukan karena manusia purba itu suci, melainkan karena mereka punya mekanisme penyeimbang yang keras namun sangat efektif untuk memastikan tidak ada yang merasa paling berkuasa.
Sekarang, mari kita tarik napas dan kembali ke masa kini. Kita hidup di dunia yang dipenuhi miliarder, struktur perusahaan yang kaku, dan ketimpangan kelas yang nyata. Tetapi, coba perhatikan reaksi emosional kita sehari-hari. Mengapa kita secara naluriah sangat benci melihat bos yang arogan? Mengapa kita merasa puas ketika melihat orang kecil berhasil mengalahkan institusi raksasa? Mengapa kita selalu mendambakan keadilan? Jawabannya ada pada DNA kita. Otak kita masih membawa warisan psikologis dari padang rumput purba tersebut. Pikiran kita dirancang secara biologis untuk menolak penindasan dan mencintai kesetaraan. Kesetaraan atau egalitarianisme bukanlah sekadar utopia atau mimpi kosong kaum idealis. Ia adalah fondasi paling asli dari spesies kita. Dengan menyadari sejarah panjang ini, semoga kita bisa lebih berempati satu sama lain dan tidak pernah menyerah untuk menciptakan ruang hidup yang lebih adil—karena menjadi setara, sejatinya, adalah cara paling manusiawi untuk menjadi manusia.