Space Bread

tantangan membuat roti tanpa remah di stasiun luar angkasa

Space Bread
I

Mari kita mundur sejenak ke bulan Maret 1965. Misi luar angkasa Gemini 3 sedang mengorbit bumi. Semuanya berjalan mulus sesuai rencana, sampai astronot John Young diam-diam mengeluarkan sebuah benda dari kantong baju luar angkasanya. Benda itu bukan alat sains canggih, melainkan sebuah corned beef sandwich atau roti lapis daging kornet. Young menawarkannya kepada rekannya, Gus Grissom. Mereka mencoba memakannya, dan bencana kecil pun terjadi. Di lingkungan tanpa gravitasi, gigitan pertama membuat roti itu hancur. Remah-remahnya melayang beterbangan ke segala arah. Grissom buru-buru menyimpannya kembali dengan raut wajah tegang. Kenapa panik? Karena di luar angkasa, sepotong roti tawar yang terlihat polos bisa berubah menjadi ancaman yang mematikan.

II

Di bumi, remah roti yang jatuh ke lantai paling-paling hanya akan mengundang semut. Tapi di lingkungan microgravity atau gravitasi mikro, hukum fisika bekerja dengan cara yang jauh lebih menyebalkan. Remah-remah kering nan nakal ini melayang bebas tak terkendali. Mereka bisa terhirup masuk ke paru-paru para astronot. Lebih parah lagi, remah ini sangat mudah terbakar dan bisa menyusup diam-diam ke balik panel sirkuit listrik stasiun luar angkasa. Korsleting di ruang hampa udara jelas bukan hal yang kita inginkan. Sejak insiden sandwich selundupan itu, NASA melarang keras roti biasa beredar di orbit. Sebagai jalan keluar, sejak tahun 1980-an, para astronot menggunakan tortilla karena teksturnya liat dan tidak menghasilkan remah. Masalah fisika dan keselamatannya mungkin selesai. Tapi secara psikologis, ada lubang emosional yang tidak bisa ditutupi oleh selembar tortilla. Roti bukan sekadar sumber karbohidrat, teman-teman. Roti adalah makanan pelipur lara, pembawa aroma rumah, dan pengingat akan kehangatan bumi. Coba bayangkan kita terjebak di dalam tabung logam sejauh 400 kilometer di atas bumi berbulan-bulan, tanpa bisa mencium aroma roti panggang. Sangat menyiksa, bukan?

III

Tentu kita mulai berpikir kritis, kalau begitu, buat saja roti khusus tanpa remah dari bumi, kan? Ternyata tidak sesederhana itu. Dari sudut pandang sains murni, ini adalah mimpi buruk bagi para ahli kimia pangan dan insinyur. Mengembangkan adonan roti dan memanggangnya adalah proses fisika termal yang sangat bergantung pada gravitasi. Di dapur bumi, saat kita memanggang adonan, udara panas di dalam oven akan bergerak naik, sementara udara yang lebih dingin akan turun. Proses ini disebut konveksi alami, dan mekanisme inilah yang membuat roti matang merata dengan kulit yang renyah. Di luar angkasa? Udara panas tidak bergerak naik karena konsep "atas" dan "bawah" menguap begitu saja. Udara panas hanya berkumpul diam bagai selimut tebal di sekitar elemen pemanas. Kalau kita nekat memanggang adonan biasa di orbit, hasilnya adalah bola adonan yang gosong hitam di luar, tapi mentah dan berlendir di dalam. Lalu, bagaimana caranya kita menyajikan roti segar yang empuk, matang sempurna, tapi tidak menyisakan satu remah pun saat digigit dalam kondisi nol gravitasi?

IV

Di sinilah sains garis keras bertabrakan secara indah dengan seni kuliner. Sekelompok ilmuwan dan insinyur ambisius dari Jerman membentuk sebuah proyek bernama Bake In Space. Untuk memecahkan teka-teki remah, mereka harus merombak struktur molekul adonan dari titik nol. Mereka menemukan bahwa kuncinya ada pada manipulasi kelembapan dan elastisitas jaringan gluten. Adonan harus diracik cukup kuat untuk menahan dirinya sendiri agar tidak ambyar saat dikunyah, namun tetap harus cukup empuk agar layak disebut roti. Hasilnya adalah formulasi kimiawi adonan yang menyerupai sourdough dengan tekstur sangat kenyal. Tapi resep adonan saja tidak menyelesaikan masalah konveksi. Para insinyur ini harus mendesain oven khusus bersuhu 250 derajat Celcius dengan daya listrik sangat minim—karena kuota listrik di stasiun luar angkasa sangat berharga. Untuk mengakali hilangnya konveksi alami, oven ini menggunakan sistem geometri pemanas yang memutar aliran udara panas secara paksa ke seluruh permukaan adonan. Oven ini tidak hanya memanggang, tapi juga dirancang tertutup rapat dan kedap udara agar panas dan sekecil apa pun sisa partikel tidak bocor ke kabin. Ini adalah sebuah mahakarya teknik mesin tingkat tinggi, yang diciptakan hanya untuk memanggang sepotong roti.

V

Mungkin kita sekarang bertanya-tanya, mengapa para ilmuwan rela menghabiskan dana riset yang fantastis dan waktu bertahun-tahun hanya untuk urusan sarapan karbohidrat? Di sinilah kita perlu melihatnya melalui lensa empati dan psikologi manusia. Saat manusia bersiap menjelajah semakin jauh ke bintang-bintang—seperti misi ke Mars—menjaga kesehatan mental dan kewarasan menjadi sama krusialnya dengan menjaga pasokan oksigen. Membawa tradisi sederhana manusia, seperti memotong dan memakan roti segar bersama rekan kerja, adalah cara kita mempertahankan identitas luhur kita sebagai penghuni bumi. Di sisi lain, memecahkan kerumitan membuat makanan tanpa limbah di luar angkasa sebenarnya mengajarkan kita banyak hal tentang sustainability atau keberlanjutan. Teknologi oven ultra-hemat energi dan sistem adonan tanpa sisa limbah ini, pada akhirnya bisa diadaptasi untuk membantu mengatasi masalah krisis energi dan pangan di bumi kita sendiri. Jadi, saat besok pagi teman-teman menikmati sepotong roti panggang bersama secangkir kopi hangat, ingatlah bahwa kesederhanaan remah roti yang berjatuhan di piring kita adalah sebuah kemewahan gravitasi. Sebuah kemewahan magis yang sedang diperjuangkan mati-matian oleh sains, agar kelak, sejauh apa pun manusia mengangkasa, kita tidak pernah merasa terlalu jauh dari rumah.