Mars Potatoes

sains menanam karbohidrat di tanah planet merah

Mars Potatoes
I

Bayangkan kita sedang duduk di kafe kesayangan, mengobrol santai sambil mengunyah kentang goreng. Rasanya nyaman, familier, dan mengenyangkan. Sekarang, coba teman-teman bayangkan umbi yang sama, tapi ditanam jutaan kilometer dari sini, di tanah beracun yang tidak pernah disinari matahari dengan benar. Kita mungkin langsung teringat pada film The Martian, saat karakter Matt Damon bertahan hidup dengan menanam kentang menggunakan kotorannya sendiri. Kedengarannya seperti fiksi Hollywood murni, bukan? Tapi mari kita bicarakan sebuah fakta menarik di dunia sains. Itu bukan sekadar fiksi. Para ilmuwan kita saat ini secara harfiah sedang mempertaruhkan masa depan peradaban manusia pada umbi-umbian yang sering kita jadikan camilan larut malam ini.

II

Sejarah sebenarnya sudah lama membuktikan bahwa kentang adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ribuan tahun lalu, suku Inca di Pegunungan Andes mampu bertahan hidup dan membangun imperium di iklim ekstrem berkat kentang. Saat kelaparan melanda berbagai belahan dunia, kentang menyelamatkan jutaan nyawa karena ia tidak rewel dan bisa tumbuh di tanah yang miskin nutrisi. Secara psikologis, menguasai pertanian adalah momen krusial di mana leluhur kita berhenti sekadar bertahan hidup dan mulai membangun peradaban.

Sekarang, kita punya ambisi besar untuk membangun peradaban baru di Mars. Masalah utamanya, planet merah itu sama sekali tidak punya niat untuk menyambut kita. Tanahnya, atau yang dalam bahasa sains disebut sebagai regolith, bukan sekadar debu kering biasa. Tanah itu dipenuhi dengan garam perklorat, sebuah senyawa kimia beracun yang di Bumi biasa kita gunakan untuk bahan bakar roket dan kembang api. Tidak ada cacing tanah di sana, tidak ada bakteri pengurai, murni tidak ada kehidupan. Jadi, bagaimana mungkin kita memaksa sebuah tanaman untuk tumbuh di tempat yang secara alamiah dirancang untuk membunuh segalanya?

III

Rasa penasaran inilah yang membawa kita pada sebuah eksperimen sains yang luar biasa gila di Bumi. Beberapa waktu lalu, International Potato Center (CIP) di Peru bekerja sama dengan NASA untuk melakukan sebuah uji coba. Mereka tidak menggunakan tanah sembarangan. Mereka pergi ke Gurun Pampas de La Joya, salah satu tempat paling kering dan mati di planet kita, yang komposisi tanahnya sangat identik dengan Mars.

Mereka memasukkan tanah mati ini ke dalam sebuah kotak tertutup (CubeSat), menyedot oksigennya, menyuntikkan gas karbon dioksida pekat, dan memberinya tekanan udara rendah dengan suhu yang membekukan. Singkatnya, kita sedang menyiksa bibit-bibit kentang ini di dalam sebuah simulasi neraka es. Hal ini memunculkan sebuah ketegangan di kalangan peneliti. Mungkinkah ada satu saja varietas dari ribuan jenis kentang di Bumi yang bisa selamat dari "ruang penyiksaan" ini? Dan kalaupun ada yang berhasil tumbuh, apakah tanaman itu tidak akan menyerap racun dan membunuh astronaut yang memakannya?

IV

Bersiaplah untuk sedikit takjub, karena sains memberikan jawaban yang melegakan: ya, mereka berhasil. Di tengah tekanan suhu ekstrem, kurangnya air, dan udara yang mencekik, sebatang tunas hijau kecil berhasil menembus tanah mati tersebut.

Sains di balik keberhasilan ini sungguh brilian dan membuka wawasan kita. Rahasianya tidak hanya terletak pada ketangguhan genetik kentang itu sendiri, melainkan pada penguasaan kita terhadap microbiome. Untuk menanam karbohidrat di Mars, kita tidak bisa hanya membawa bibit. Kita harus menyelundupkan miliaran bakteri tanah dari Bumi. Bakteri-bakteri inilah, dibantu dengan cairan bernutrisi, yang akan bertugas mencuci racun perklorat dari regolith dan perlahan mengubahnya menjadi tanah yang hidup. Ini adalah proses terraforming (membentuk ulang planet) dalam skala mikro.

Tapi inilah bagian yang paling menyentuh dari hard science ini. Saat para ilmuwan menguji batas maksimal kentang untuk hidup di Mars, mereka menyadari satu hal penting. Jika kita bisa memaksa kentang tumbuh di tanah yang mensimulasikan planet mati, berarti kita baru saja menemukan kunci untuk memecahkan krisis pangan di Bumi. Saat perubahan iklim pelan-pelan membuat tanah kita di Bumi semakin tandus dan bersalinitas tinggi (asin), "kentang Mars" varietas super tangguh inilah yang nanti akan menyelamatkan kita di rumah kita sendiri.

V

Pada akhirnya, upaya luar biasa kita dalam menanam karbohidrat di planet merah bukanlah sekadar tentang ambisi kolonisasi luar angkasa. Secara psikologis, melihat sebuah tunas hijau mungil tumbuh di tengah tanah yang mematikan memberikan kita semacam jangkar emosional. Ada harapan dasar yang tertanam di kepala kita bahwa kehidupan akan selalu, dan selalu, mencari jalannya sendiri.

Kita mungkin memulai obrolan ini dengan melihat kentang sebagai makanan yang sangat sederhana. Namun, sains dan sejarah baru saja mengubah sudut pandang kita, menjadikan umbi ini sebagai kapsul waktu yang berisi ketahanan biologis terbaik umat manusia. Jadi, lain kali saat kita mengunyah kentang goreng, mari luangkan waktu sejenak untuk tersenyum. Kita sedang memakan benda yang sama yang suatu hari nanti, mungkin, akan menjadi fondasi peradaban baru kita di antara bintang-bintang.