Instant Noodles

psikologi kenyamanan dan teknologi pengawetan Momofuku Ando

Instant Noodles
I

Bayangkan ini jam dua pagi. Hujan turun rintik-rintik, udara dingin menembus jendela, dan perut mulai memberikan sinyal darurat. Apa hal pertama yang muncul di kepala kita? Kemungkinan besar, jawabannya adalah sebungkus mi instan. Aroma bumbunya yang magis saat tersiram air panas punya kekuatan unik untuk langsung menenangkan jiwa kita yang lelah. Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa makanan sederhana ini punya efek psikologis yang begitu masif? Apakah ini murni karena MSG, atau ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa gurih? Mari kita bedah bersama. Selembar mi keriting yang sering kita anggap sebagai penyelamat akhir bulan ini, ternyata menyimpan sejarah kelam, sains tingkat tinggi, dan rahasia tentang bagaimana otak kita memproses kenyamanan.

II

Secara psikologis, mi instan adalah definisi mutlak dari comfort food. Otak kita dirancang secara evolusioner untuk mengaitkan aroma dan suhu hangat dengan memori masa kecil, rasa aman, atau momen nongkrong santai bersama teman-teman. Saat kita stres atau kelelahan, otak mencari jalan pintas untuk mendapatkan suntikan dopamin. Karbohidrat sederhana, garam, dan sensasi umami adalah kombinasi mematikan yang langsung meretas sistem penghargaan (reward system) di otak kita. Tapi, kenyamanan instan ini tidak lahir dari kemewahan. Jauh sebelum mi instan menemani malam-malam begadang kita menyelesaikan tugas, ia lahir dari sebuah keputusasaan. Kita harus memutar waktu kembali ke Jepang pasca Perang Dunia II, sekitar akhir 1940-an. Saat itu, jutaan orang kelaparan. Infrastruktur hancur lebur. Udara musim dingin sangat menusuk, dan orang-orang rela antre berjam-jam di pasar gelap hanya demi semangkuk mi hangat. Di tengah pemandangan menyayat hati itulah, seorang pria bernama Momofuku Ando melihat sebuah ironi yang kelak mengubah sejarah pangan dunia.

III

Ando bukanlah seorang ilmuwan berjas putih di laboratorium mewah. Dia adalah pengusaha yang usahanya kebetulan sedang hancur. Tapi saat melihat antrean panjang orang kelaparan yang menggigil, ia mendapat sebuah epifani. Ando berpikir, seandainya ada mi yang bisa disimpan berbulan-bulan, harganya murah, dan bisa dimasak oleh siapa saja di rumah hanya dengan air panas, masalah kelaparan pasti bisa diredakan. Kedengarannya simpel, bukan? Padahal secara sains, ide ini adalah mimpi buruk. Mi segar terbuat dari gandum dan air. Jika dibiarkan begitu saja, mikroba akan berkembang biak dan mi akan membusuk. Jika dikeringkan secara konvensional di bawah sinar matahari atau dioven, mi akan menjadi sangat padat, keras, dan butuh waktu lama untuk direbus kembali hingga lunak. Ando mengurung diri di sebuah gubuk kecil tanpa jendela di halaman belakang rumahnya. Selama berbulan-bulan, ia kurang tidur dan mencoba puluhan metode pengawetan. Menggarami, mengasapi, menjemur. Semuanya gagal total. Bagaimana caranya menghilangkan kandungan air dari dalam mi untuk menghentikan pembusukan, tapi tetap membuatnya berongga agar bisa menyerap air panas dalam hitungan menit? Kebuntuan ini hampir membuatnya menyerah, sampai akhirnya jawaban itu datang dari wajan di dapur istrinya.

IV

Suatu malam, Ando melihat istrinya sedang asyik menggoreng tempura. Ia memperhatikan dengan saksama bagaimana adonan tepung basah yang masuk ke dalam minyak panas langsung mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang berisik, lalu seketika berubah menjadi renyah. Di titik itulah, sebuah terobosan sains pangan tercipta. Metode ini disebut flash-frying atau penggorengan kilat suhu tinggi. Saat mi basah dimasukkan ke dalam minyak bersuhu sekitar 160 derajat Celcius, air di dalam mi langsung menguap secara ekstrem. Ini adalah prinsip termodinamika dasar: panas yang tinggi mendesak molekul air keluar dengan sangat cepat. Tapi, bagian yang paling jenius adalah apa yang terjadi pada struktur fisik mi tersebut. Ketika air menguap secara paksa, proses itu meninggalkan ribuan lubang mikroskopis di seluruh permukaan dan bagian dalam mi. Lubang-lubang kecil inilah kunci keajaibannya. Karena bentuknya yang berongga seperti spons berpori, saat kita menuangkan air panas berbulan-bulan kemudian, air akan dengan rakus masuk mengisi rongga-rongga kapiler tersebut. Mi yang tadinya kering kerontang kembali menjadi kenyal dan lembut hanya dalam tiga menit. Pada tahun 1958, berkat prinsip fisika penguapan ini, Chikin Ramen pertama di dunia diluncurkan. Sebuah teknologi pengawetan revolusioner yang disamarkan dengan brilian sebagai makanan murah meriah.

V

Jadi, saat kita menyeruput mi instan malam ini atau besok, kita tidak sekadar memakan karbohidrat cepat saji. Kita sedang mengonsumsi sebuah mahakarya rekayasa pangan. Kita sedang mengecap hasil dari dedikasi tanpa lelah di sebuah gubuk sempit, demi menyembuhkan rasa lapar sebuah bangsa yang sedang hancur. Mengetahui hal ini mungkin tidak lantas membuat mi instan berubah wujud menjadi makanan sehat penuh gizi. Konsumsi harian yang berlebihan tentu tetap membahayakan kesehatan tubuh kita. Tapi, memahami sains, psikologi, dan sejarah di baliknya tentu mengubah cara kita menghargai makanan ini. Mi instan pada dasarnya adalah pelukan hangat yang dirangkai oleh sains. Ia adalah bukti nyata bahwa umat manusia bisa menciptakan teknologi luar biasa dari rahim keputusasaan. Sekarang, setiap kali kita mendengar gemericik air panas yang dituang dan mencium aroma bumbu khas yang menguar di udara, kita tahu alasan sebenarnya kita merasa begitu tenang. Tubuh kita mungkin bereaksi secara kimiawi terhadap umami, tapi jiwa kita sedang merespons warisan empati dari seorang Momofuku Ando. Selamat makan, teman-teman.