sains tentang lego

mengapa menyusun balok bisa meningkatkan kemampuan spasial anak dan dewasa

sains tentang lego
I

Pernahkah kita tanpa sengaja menginjak balok LEGO di tengah malam? Rasa sakitnya luar biasa, bukan? Tapi mari kita lupakan sejenak rasa nyeri di telapak kaki itu. Saya ingin mengajak teman-teman melihat balok plastik kecil ini dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Biasanya, kita menganggap LEGO hanya sebagai mainan anak-anak. Sesuatu yang kita beli untuk membuat mereka sibuk agar kita bisa duduk minum teh dengan tenang. Namun, sains punya cerita yang jauh lebih menakjubkan. Di balik bentuknya yang kaku dan sederhana, tumpukan balok ini sebenarnya adalah salah satu alat pelatih otak paling mutakhir yang pernah diciptakan manusia. Dan lucunya, alat ini tidak diciptakan di laboratorium neurosains yang canggih, melainkan di sebuah bengkel kayu kecil di Denmark puluhan tahun lalu. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada otak kita saat kita menyambungkan satu balok dengan balok lainnya?

II

Untuk memahaminya, kita harus mundur sebentar ke tahun 1930-an. Seorang tukang kayu bernama Ole Kirk Christiansen mulai membuat mainan kayu karena bisnis furniturnya sedang lesu akibat depresi ekonomi. Ia menamainya LEGO, singkatan dari bahasa Denmark leg godt yang berarti "bermain dengan baik". Seiring berjalannya waktu, mainan kayu ini berevolusi menjadi balok plastik dengan mekanisme clutch power. Ini adalah sistem jepitan presisi yang membuat balok-balok itu menempel sangat kuat tapi tetap mudah dilepas. Bunyi klik saat dua balok menyatu ternyata memberikan kepuasan psikologis yang unik bagi pikiran kita. Tapi keajaiban kognitif yang sebenarnya baru dimulai tepat setelah bunyi klik tersebut. Saat teman-teman mencoba membuat bentuk rumah atau pesawat dari tumpukan balok acak, kita sedang melatih sebuah kemampuan otak vital yang disebut penalaran spasial (spatial reasoning). Ini adalah kemampuan membayangkan objek tiga dimensi di dalam kepala kita, lalu memanipulasinya tanpa harus menyentuhnya secara fisik. Kedengarannya sederhana. Tapi mari kita simpan satu pertanyaan penting: mengapa kemampuan membayangkan ruang ini ternyata menjadi kunci rahasia kesuksesan di berbagai bidang ilmu sains, dan bahkan sangat krusial untuk kita yang sudah dewasa?

III

Mari kita bedah apa yang terjadi di dalam tempurung kepala kita. Saat kita atau anak-anak kita melihat buku panduan LEGO, mata kita menangkap gambar dua dimensi yang pipih. Otak kemudian dipaksa menerjemahkan gambar datar itu menjadi instruksi fisik tiga dimensi di dunia nyata. Proses neurologis ini disebut rotasi mental (mental rotation). Secara biologis, bagian otak yang bernama hippocampus—yang bertindak sebagai pusat memori dan navigasi spasial—bekerja sangat keras. Layaknya otot bisep yang diangkat bebannya di pusat kebugaran, hippocampus kita membesar dan menguat saat kita rutin melakukan navigasi spasial ini. Berbagai studi psikologi perkembangan menunjukkan fakta yang keras: anak-anak yang rutin bermain building blocks memiliki nilai matematika yang jauh lebih tinggi. Mereka lebih mudah memahami pecahan, geometri, dan konsep logika. Seolah-olah, sebelum mereka belajar angka di papan tulis, tangan mereka sudah "meraba" dan memahami matematika secara fisik. Tapi misterinya belum sepenuhnya terjawab. Kalau mainan ini terbukti fantastis untuk otak anak-anak, apa untungnya bagi otak kita yang sudah berumur dan sering merasa kaku ini? Apakah kita hanya membuang waktu dan uang menyusun miniatur mobil di akhir pekan?

IV

Inilah kejutan terbesarnya. Sains membuktikan bahwa otak manusia memiliki sifat neuroplastisitas (neuroplasticity). Artinya, otak kita tidak berhenti berkembang saat kita lulus sekolah; ia bisa terus berubah dan membentuk koneksi saraf baru hingga akhir hayat. Bagi orang dewasa, bermain LEGO bertindak sebagai pelindung kognitif yang sangat kuat. Saat kita bekerja di depan layar komputer atau smartphone seharian, kita sering kali kehilangan koneksi taktil antara dunia fisik dan mental kita. Menyusun balok memaksa otak dewasa kita untuk kembali melakukan pemecahan masalah berbasis sentuhan (tactile problem-solving). Tidak hanya itu, bermain balok memicu state of flow, sebuah kondisi psikologis di mana kita sepenuhnya larut dan fokus pada satu aktivitas. Kondisi ini secara drastis menurunkan hormon stres kortisol, lalu membanjiri otak kita dengan dopamin yang menenangkan. Ini menjelaskan secara ilmiah mengapa set LEGO untuk orang dewasa belakangan ini meledak di pasaran. Kita tidak sedang bernostalgia secara kekanak-kanakan. Tanpa kita sadari, kita sedang melakukan terapi psikologis mandiri. Kita sedang membangun kembali jaringan saraf kita, menjaga ketajaman mental agar terhindar dari kepikunan atau penurunan kognitif di usia senja. Otak kita secara harfiah sedang dibangun ulang, balok demi balok.

V

Jadi, mari kita ubah cara pandang kita mulai hari ini. Bermain bukanlah sebuah kemewahan yang hanya pantas dinikmati oleh anak-anak. Bermain adalah kebutuhan dasar biologis otak manusia, tidak peduli berapa pun usia di KTP kita. Lain kali jika teman-teman melihat tumpukan LEGO yang berantakan di lantai rumah, jangan hanya melihatnya sebagai mainan yang bikin ruang tamu kotor—atau sebagai ranjau darat yang mengancam telapak kaki kita di malam hari. Lihatlah tumpukan itu sebagai alat gym untuk otak kita bersama. Sebuah medium di mana imajinasi spasial kita dilatih, stres harian kita direndam, dan logika kita dipertajam kembali. Tidak ada salahnya bagi kita, orang dewasa yang selalu sibuk ini, untuk ikut duduk di lantai dan mulai menyambungkan balok-balok itu bersama anak-anak. Karena pada akhirnya, menyusun balok bukan sekadar tentang menciptakan bentuk baru dari plastik, melainkan tentang merawat dan memperkuat arsitektur pikiran kita sendiri. Selamat merakit!