neuroscience menulis puisi
cara otak mengolah metafora dan rima secara artistik
Pernahkah kita membaca sebait kalimat pendek, lalu tiba-tiba merasa dada kita berdesir? Mungkin itu lirik lagu patah hati, atau puisi lama karya Sapardi Djoko Damono. Bayangkan, hanya sekumpulan huruf mati yang dicetak di atas kertas, tapi entah bagaimana bisa membuat kita merinding, tersenyum, atau bahkan meneteskan air mata. Saya sering memikirkan hal ini. Apa sebenarnya yang terjadi di dalam kepala kita? Mengapa manusia repot-repot menyusun kata-kata menjadi rima dan metafora, padahal kita bisa saja bicara blak-blakan secara harfiah? Mari kita bedah rahasia kecil ini bersama. Ternyata, saat kita membaca atau menulis puisi, kita tidak sekadar sedang berkesenian. Kita sedang menyaksikan otak manusia melakukan atraksi sirkus kognitif yang paling spektakuler.
Untuk memahami atraksi ini, kita perlu mundur sedikit ke ribuan tahun yang lalu. Sebelum manusia mengenal tulisan, nenek moyang kita punya masalah besar: bagaimana cara mewariskan sejarah, hukum, dan mitos dari satu generasi ke generasi lain tanpa buku? Jawabannya adalah rima dan ritme. Otak kita pada dasarnya adalah mesin pencari pola. Saat kita mendengar kata "hati", otak kita secara otomatis bersiap mencari pasangannya, seperti "mati" atau "sejati". Fenomena neorologis ini disebut predictive processing. Ketika otak berhasil menebak rima berikutnya, ia memberi kita sedikit hadiah berupa rasa aman dan puas. Inilah mengapa puisi atau pantun terasa sangat enak di telinga. Ritme bertindak seperti rel kereta, menjaga agar ingatan kita tidak keluar jalur. Tapi, rima saja hanya membuat kita mudah mengingat. Rima belum cukup untuk membuat kita merasa. Ada satu bumbu rahasia lagi yang membuat tulisan berubah dari sekadar alat hapalan menjadi sebuah karya seni.
Bumbu rahasia itu adalah metafora. Mari teman-teman lakukan eksperimen kecil dengan saya. Bandingkan dua kalimat ini: "Saya merasa sangat sedih dan hancur" dengan "Saya adalah perahu kertas di tengah badai samudra". Kalimat kedua terasa jauh lebih menusuk, bukan? Kenapa bisa begitu? Padahal secara logika murni, kalimat kedua itu sama sekali tidak masuk akal. Kita bukan perahu kertas. Kita manusia yang terbuat dari daging dan tulang. Di sinilah letak misteri terbesarnya. Bagaimana otak kita bisa mengambil dua hal yang sama sekali tidak berhubungan—seorang manusia dan sebuah perahu kertas—lalu menjahitnya menjadi satu makna emosional yang utuh? Saat kita mencoba merangkai metafora semacam ini, otak tidak bekerja seperti kamus biasa. Ada kilatan listrik yang meloncat di antara wilayah-wilayah saraf kita. Sesuatu yang sangat primitif berbenturan dengan sesuatu yang sangat modern di dalam tengkorak kita. Pertanyaannya, bagian otak mana yang sebenarnya bertindak sebagai sang penyair?
Jawabannya ada pada belahan otak kanan kita dan sebuah sistem bernama Default Mode Network atau DMN. Selama ini, pelajaran biologi mungkin mengajari kita bahwa bahasa adalah tugas mutlak otak kiri. Itu benar untuk tata bahasa dasar dan makna harfiah. Tapi saat kita menulis puisi, otak kanan mengambil alih kemudi. Otak kanan adalah jagoan dalam coarse semantic coding, yaitu kemampuan luar biasa untuk melihat benang merah dari konsep-konsep yang jaraknya sangat berjauhan. Ia yang mampu melihat kemiripan antara "cinta yang kandas" dan "mawar yang layu". Lalu, DMN ikut bermain. DMN adalah jaringan saraf yang menyala paling terang saat kita sedang melamun, mengingat masa lalu, atau membayangkan masa depan. Ia menghubungkan kata-kata absurd tadi dengan gudang emosi dan memori terdalam kita. Dan inilah puncak dari segalanya: ketika otak berhasil memecahkan "teka-teki" metafora yang kita tulis, ia menyemprotkan dopamine. Ya, bahan kimia pemicu rasa senang yang sama, yang muncul saat kita jatuh cinta atau makan cokelat enak. Menulis puisi, pada dasarnya, adalah cara jenius manusia meretas sistem penghargaan otaknya sendiri. Kita sengaja menciptakan kebingungan kognitif lewat metafora, hanya untuk merasakan nikmatnya momen "Aha!" saat maknanya terhubung.
Jadi, teman-teman, sains telah membuktikan bahwa puisi bukanlah bakat mistis yang hanya diturunkan pada segelintir orang terpilih. Mengolah metafora dan menyusun rima adalah kemampuan bawaan biologis kita. Kita semua, tanpa terkecuali, terlahir dengan perangkat keras seorang penyair. Di dunia modern yang serba cepat dan menuntut kita untuk melulu berpikir kaku dan logis, mungkin sesekali kita perlu membiarkan otak kanan kita bermain di taman bermainnya sendiri. Menulis puisi tidak harus menunggu kita patah hati parah, dan hasilnya pun tidak harus sehebat karya sastra pemenang Nobel. Cukup ambil kertas atau buka catatan di ponsel, rasakan apa yang sedang terjadi di dalam dada, dan biarkan otak mencari polanya sendiri. Tuangkan metafora paling aneh yang melintas di kepala. Saat kita merangkai kata-kata itu, ketahuilah bahwa kita tidak hanya sedang menyembuhkan luka atau merayakan kebahagiaan. Kita sedang merayakan kecanggihan anatomi kita sendiri. Mari kita mulai menulis, dan biarkan neuron-neuron di kepala kita menari lepas.