neuroscience hobi beatbox

bagaimana otak mengontrol otot tenggorokan menjadi instrumen

neuroscience hobi beatbox
I

Pernahkah kita berdiri di dekat panggung, melihat seseorang memegang mikrofon, lalu tiba-tiba mendengar suara drum set lengkap keluar dari mulutnya? Tidak ada instrumen lain di sana. Hanya satu manusia, satu mikrofon, dan ledakan ritme yang membuat kepala kita mengangguk tanpa sadar. Saat melihat beatboxer beraksi, saya sering kali merasa otak saya sedikit error. Bagaimana mungkin susunan daging, lidah, dan pita suara yang biasa kita pakai untuk memesan kopi atau bergosip, bisa berubah menjadi mesin synthesizer dan dentuman bass yang presisi? Kita mungkin sekadar menganggapnya trik keren di tongkrongan. Tapi jika kita membedahnya, apa yang dilakukan seorang beatboxer sebenarnya adalah salah satu atraksi neurologis paling gila yang bisa dilakukan oleh tubuh manusia.

II

Mari kita mundur sejenak dan melihat lintasan sejarah kita. Jauh sebelum manusia menciptakan seruling dari tulang hewan atau memukul kulit kayu sebagai gendang, tubuh kitalah instrumen pertamanya. Tepuk tangan, hentakan kaki, dan tentu saja, suara dari mulut. Secara psikologis, dorongan untuk meniru suara lingkungan adalah instrumen bertahan hidup, sekaligus cara kita bermain. Kita belajar memahami dunia dengan cara menirunya. Tapi, hobi beatbox mengambil dorongan purba ini dan memutarnya hingga ke level maksimum. Seorang beatboxer tidak sekadar meniru. Mereka menciptakan ulang realitas akustik. Teman-teman mungkin mulai bertanya, apakah otot tenggorokan mereka memang berbeda secara genetik dari kita? Atau jangan-jangan, rahasianya bukan terletak pada leher, melainkan di tempat lain yang tersembunyi rapat di balik tengkorak mereka?

III

Tenggorokan manusia berevolusi untuk dua hal utama: memastikan makanan masuk ke perut (bukan ke paru-paru) dan memproduksi bahasa. Saluran vokal kita, atau vocal tract, sebenarnya cukup lambat jika dibandingkan dengan kecepatan jari seorang pianis profesional. Lidah, bibir, dan rahang kita punya batas mekanis mutlak. Namun, coba dengarkan beatboxer kelas dunia. Mereka sanggup mengeluarkan suara hi-hat yang metalik, vokal melodi, dan kick drum yang berat secara bersamaan. Secara logika anatomi murni, ini seharusnya mustahil. Bagaimana caranya otak membagi tugas sekompleks ini dalam hitungan milidetik? Otak kita biasanya mendeteksi suara sebagai "bahasa" atau "musik", lalu memprosesnya di ruangan otak yang berbeda. Lalu, apa yang terjadi ketika alat yang berevolusi untuk berbicara justru dibajak untuk menabuh drum? Di sinilah misteri terbesarnya. Pasti ada semacam peretasan sistem yang terjadi di dalam jaringan saraf mereka.

IV

Jawabannya ternyata bersembunyi di dalam pemindai fMRI (mesin pemindai otak). Saat para ilmuwan neurologi memasukkan beatboxer ke dalam mesin ini, mereka menemukan fakta ilmiah yang menakjubkan. Hobi beatbox ternyata mendaur ulang area otak yang mengurus bahasa. Otak kita memiliki korteks motorik, semacam pusat komando yang mengirimkan sinyal listrik ke otot. Pada orang biasa, korteks motorik menggerakkan bibir dan lidah untuk membentuk kata. Tapi pada para beatboxer, neuroplastisitas (kemampuan otak untuk merombak jaringannya sendiri) telah menciptakan jalan tol baru. Mereka meminjam mekanisme artikulasi huruf konsonan, lalu melepaskan pita suara dari persamaan tersebut. Otak mereka secara harfiah belajar mengendalikan bagian belakang tenggorokan (seperti pharynx dan larynx) secara terpisah dan independen. Lebih gilanya lagi, saat seorang beatboxer hanya duduk diam mendengarkan musik, area sensorimotorik di otak mereka menyala jauh lebih terang daripada musisi biasa. Artinya, mereka tidak sekadar mendengarkan; otak mereka secara otomatis mensimulasikan bagaimana otot mulut harus bergerak untuk mereproduksi suara tersebut. Tenggorokan mereka memang instrumennya, tapi sang drummer sesungguhnya adalah sinyal listrik yang menari-nari di korteks serebral.

V

Fakta ini sering kali membuat saya merenung. Sebuah hobi yang mungkin awalnya lahir dari keisengan meniru lagu hip-hop di kamar mandi, ternyata adalah bukti nyata betapa plastis dan menakjubkannya biologi kita. Kita sering kali terobsesi mencari perangkat keras (hardware) terbaru dan tercanggih di toko elektronik. Kita lupa bahwa di dalam kepala kita sendiri, terdapat superkomputer biologis yang mampu mengubah saluran napas sederhana menjadi sebuah orkestra. Jadi, kelak jika teman-teman melihat seseorang sedang asyik komat-kamit membuat suara beatbox di halte bus atau di layar media sosial, jangan buru-buru menganggapnya aneh. Tersenyumlah. Kita sedang menyaksikan keajaiban evolusi, dorongan psikologis, dan sains saraf yang sedang bekerja dalam waktu bersamaan. Pada akhirnya, instrumen musik paling canggih di dunia ini tidak pernah dirakit di pabrik. Ia dilahirkan, dilatih, dan terus berdetak di dalam diri kita sendiri.