psikologi waktu di masa depan

bagaimana umur panjang mengubah rencana hidup

psikologi waktu di masa depan
I

Pernahkah kita membayangkan meniup lilin ulang tahun yang ke-120? Bukan dalam kondisi terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan banyak selang. Tapi dalam kondisi sehat, masih kuat jalan-jalan sore, dan mungkin masih aktif membalas komentar di media sosial. Dulu, bayangan semacam ini murni masuk ke ranah fiksi ilmiah. Tapi hari ini, hal tersebut adalah realitas yang sedang dikerjakan dengan sangat serius oleh para ilmuwan. Pertanyaannya, jika sains benar-benar berhasil "menyembuhkan" penuaan, sudah siapkah mental kita? Mari kita bayangkan bersama, bagaimana umur panjang yang ekstrem ini akan merombak total rencana hidup kita.

II

Mari kita mundur sedikit untuk melihat gambaran besarnya. Sepanjang sejarah manusia, waktu selalu menjadi musuh yang mengejar kita dari belakang. Di abad ke-19, umur harapan hidup rata-rata manusia di dunia hanya berkisar antara 30 sampai 40 tahun. Kehidupan berjalan dengan gigi lima. Kita lahir, cepat-cepat belajar, cepat-cepat menikah, lalu meninggal muda. Penyakit menular adalah eksekutor utamanya. Kini, berkat revolusi medis, antibiotik, dan sanitasi, rata-rata kita bisa hidup sampai usia 70 atau 80 tahun.

Namun sains tidak berhenti di situ. Para ahli genetika dan gerontology kini mulai berani membicarakan longevity escape velocity. Ini adalah sebuah titik di mana sains bisa memperpanjang usia manusia lebih cepat daripada proses penuaan itu sendiri. Singkatnya, penuaan diperlakukan sebagai penyakit yang bisa diobati secara seluler. Secara biologis, umur panjang adalah keajaiban. Tapi dari sudut pandang psikologi sejarah, ini adalah teror yang diam-diam mengintai. Mengapa? Karena otak kita dan struktur masyarakat kita belum pernah di-update untuk menghadapi masa depan seperti ini.

III

Coba teman-teman pikirkan ulang "naskah hidup" yang selama ini kita yakini kebenarannya. Sekolah sampai usia 20-an, bekerja keras dan membangun keluarga di usia 30-an, lalu pensiun tenang di usia 60-an. Sisa waktu yang ada digunakan untuk bersantai atau momong cucu.

Sekarang, masukkan variabel umur panjang ke dalam rumus tersebut. Kalau kita hidup sehat sampai 150 tahun, masa iya kita mau pensiun selama 90 tahun? Uangnya dari mana? Lalu, bagaimana dengan konsep pernikahan "sampai maut memisahkan"? Mautnya baru akan datang lebih dari satu abad lagi. Apakah kita siap secara mental menghabiskan 120 tahun bersama orang yang sama?

Belum lagi soal krisis paruh baya. Selama ini kita mengenal midlife crisis di usia 40-an karena kita merasa waktu sudah mau habis. Di masa depan, krisis paruh baya mungkin baru datang di usia 80 tahun. Pertanyaan-pertanyaan ini membuat para psikolog memutar otak. Pikiran manusia sangat bergantung pada tenggat waktu (deadline) untuk menciptakan motivasi. Kalau tenggat waktu alami itu tiba-tiba diundur sangat jauh, apa yang akan terjadi pada makna hidup kita?

IV

Di sinilah sains psikologi memberikan jawaban besar yang sangat mengejutkan. Alih-alih merasa bosan atau kehilangan motivasi, cara otak kita memproses waktu akan berubah wujud secara revolusioner.

Dalam psikologi, ada sebuah konsep yang disebut Socioemotional Selectivity Theory. Intinya begini: saat kita merasa waktu hidup kita tinggal sedikit, kita akan cenderung fokus pada hal-hal emosional dan orang-orang terdekat saja. Kita jadi tidak mau ambil risiko. Namun, saat waktu terasa tak terbatas, sirkuit otak kita berbalik. Kita akan dipenuhi dorongan kuat untuk mencari pengalaman, belajar hal baru, dan bertemu orang asing.

Jika umur kita memanjang secara drastis, psikologi waktu kita tidak lagi berjalan dalam satu garis lurus yang membosankan. Kita akan hidup dalam fase-fase kehidupan episodik atau kehidupan yang modular. Dalam satu tubuh biologis, kita akan menjalani banyak "kehidupan" yang berbeda. Sangat wajar nantinya jika kita mengganti jalur karir secara total setiap 30 tahun. Wajar jika teman-teman memutuskan untuk jadi "remaja" lagi di usia 70 tahun, masuk universitas lagi, dan belajar coding atau filsafat dari nol.

Tekanan sosial yang selama ini mencekik kita—seperti harus sukses sebelum usia 30 atau harus mapan sebelum 40—akan hancur lebur. Angka-angka itu kehilangan maknanya. Kita akhirnya memiliki kemewahan psikologis yang tidak pernah dimiliki nenek moyang kita: kelonggaran waktu yang absolut.

V

Tentu saja, transisi menuju era ini tidak akan langsung mulus. Akan ada kebingungan eksistensial dan kecemasan generasi baru. Tapi mari kita renungkan sisi terangnya bersama-sama.

Selama ini, kita sering sekali kehabisan napas karena merasa tertinggal dari orang lain. Kita terus-menerus berlomba dengan jam biologis dan ekspektasi masyarakat yang seolah memegang stopwatch di garis akhir. Mengetahui arah psikologi umur panjang ini sebenarnya bisa memberi kita satu kelegaan yang luar biasa hari ini.

Teman-teman, mungkin kita tidak perlu lagi terlalu terburu-buru. Jika kehidupan ini adalah sebuah tulisan, kita tidak sedang menulis cerpen yang harus cepat-cepat menemukan klimaksnya. Kita sedang menyusun sebuah novel epik yang berseri-seri. Jadi, tidak apa-apa kalau babak yang sedang kita jalani hari ini rasanya masih berantakan, masih banyak gagalnya, atau masih belum jelas arahnya. Tarik napas yang panjang. Waktu kita, secara sains dan psikologis, masih sangat panjang.