pembangkit listrik ruang angkasa
mengirim energi matahari ke bumi lewat gelombang mikro
Pernahkah kita menyadari betapa rentannya peradaban kita saat lampu tiba-tiba padam? Sebagai manusia modern, kita punya keterikatan psikologis yang sangat dalam dengan listrik. Tanpanya, kecemasan mulai merayap. Internet mati, makanan di kulkas membusuk, dan malam kembali menjadi gelap gulita. Ketakutan inilah yang membuat kita terus membakar batu bara dan gas bumi, meski kita tahu persis hal itu perlahan mencekik planet kita sendiri. Pada tahun 1941, jauh sebelum manusia bahkan bisa mengorbit Bumi, seorang penulis jenius bernama Isaac Asimov merilis cerita pendek berjudul Reason. Dalam cerita itu, ia membayangkan sebuah stasiun luar angkasa raksasa yang bertugas mengumpulkan energi matahari dan mengirimkannya ke planet-planet lain. Saat itu, ide tersebut murni fiksi ilmiah yang liar. Sesuatu yang hanya pantas ada di halaman komik atau novel pulp. Namun, hari ini, mari kita bicarakan sesuatu yang luar biasa. Imajinasi liar Asimov dari delapan dekade lalu itu, saat ini sedang dibangun oleh para ilmuwan di dunia nyata.
Mari kita bedah masalahnya secara logis. Teman-teman pasti sepakat bahwa energi surya adalah salah satu jalan keluar terbaik untuk krisis iklim. Masalahnya cuma satu: Bumi kita ini berputar dan punya cuaca. Ada siang, ada malam. Ada langit cerah, ada mendung tebal. Secara efisiensi, panel surya di Bumi itu pemalas. Mereka hanya bekerja maksimal beberapa jam sehari. Di sinilah muncul sebuah pemikiran radikal dari para ilmuwan: bagaimana jika kita memindahkan panel suryanya? Di luar angkasa, tidak ada siang dan malam seperti di Bumi. Tidak ada awan, tidak ada musim hujan, tidak ada atmosfer yang menyerap cahaya. Di sana, matahari bersinar 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Matahari menawarkan pasokan energi tak terbatas yang mengalir tiada henti. Konsep ini kita kenal dengan nama Space-Based Solar Power atau pembangkit listrik tenaga surya luar angkasa. Idenya adalah merakit ladang panel surya raksasa—mungkin seukuran beberapa lapangan sepak bola—yang melayang mengorbit Bumi. Terdengar sangat masuk akal, bukan? Tapi tunggu dulu.
Sekarang kita sampai pada satu teka-teki besar yang pasti membuat otak kritis kita mulai bertanya-tanya. Oke, kita punya pabrik listrik super besar di luar angkasa. Listriknya melimpah ruah. Lalu, bagaimana cara kita membawa listrik itu turun ke rumah-rumah kita di Bumi? Tentu saja kita tidak bisa menjulurkan kabel tembaga sepanjang 36.000 kilometer dari luar angkasa. Kabel sekuat apa pun akan putus karena beratnya sendiri. Kalau begitu, apakah kita pakai laser? Sebenarnya bisa saja. Tapi sayangnya, sinar laser itu gampang dikalahkan oleh sesuatu yang sangat sederhana: awan. Saat cuaca di Bumi sedang mendung atau badai, energi lasernya akan terserap dan gagal mencapai tanah. Jadi, kita butuh sebuah metode pengiriman energi tanpa kabel (wireless power transmission) yang tidak kasat mata, bisa menembus cuaca terburuk sekalipun, tapi tidak membahayakan manusia di bawahnya. Jika kita menembakkan energi tak terlihat bertenaga tinggi dari langit, bukankah itu terdengar persis seperti senjata death ray alias sinar maut buatan alien di film-film Hollywood?
Di sinilah sains yang sesungguhnya mengambil alih ketakutan fiksi ilmiah kita. Jawabannya ternyata ada di dapur rumah kita sendiri. Para ilmuwan menggunakan gelombang mikro atau microwave. Ya, gelombang yang sama persis dengan yang kita pakai untuk memanaskan sisa pizza semalam. Namun, jangan bayangkan Bumi akan dipanggang. Dalam fisika, gelombang mikro memiliki panjang gelombang yang sangat presisi untuk menembus atmosfer, hujan, dan awan tanpa kehilangan banyak energi. Di luar angkasa, listrik dari panel surya diubah menjadi gelombang mikro, lalu dipancarkan ke Bumi. Di permukaan Bumi, kita tidak menggunakan antena TV biasa, melainkan hamparan jaring raksasa yang disebut rectenna (rectifying antenna). Jaring ini bertugas menangkap gelombang mikro tak terlihat tadi, lalu mengubahnya kembali menjadi arus listrik searah yang siap disalurkan ke jaringan listrik kota. Dan soal keamanan? Intensitas gelombang mikro yang dipancarkan ini diatur agar sangat rendah dan tersebar luas. Tidak ada burung yang akan terbakar saat terbang melewatinya, dan pesawat komersial pun aman melintas. Yang paling menakjubkan, ini bukan lagi sekadar teori. Awal tahun 2023 lalu, ilmuwan dari Caltech melalui misi Space Solar Power Demonstrator (MAPLE) berhasil memancarkan energi secara nirkabel di luar angkasa dan mendeteksinya di Bumi. Kita sudah berhasil melakukan uji coba pertamanya!
Melihat teknologi ini perlahan menjadi nyata memberi kita sebuah perspektif sejarah dan psikologis yang hangat. Sebagai spesies, kita sering kali didorong oleh rasa takut—takut kehabisan sumber daya, takut perubahan iklim, takut masa depan yang gelap. Namun, kecemasan itu ternyata mampu melahirkan inovasi yang puitis. Kita sedang berusaha menangkap bintang secara harfiah, memanen cahayanya di ruang hampa, dan mengirimkannya dengan lembut ke Bumi agar kita berhenti melukai planet kita sendiri demi menyalakan lampu. Tentu, jalan di depan masih panjang. Mengirim material ke luar angkasa untuk membangun stasiun sebesar ini masih sangat mahal. Masih banyak uji coba fisika dan teknik yang harus dilewati. Tapi memikirkan bahwa kita, umat manusia, sedang bahu-membahu mewujudkan khayalan seorang penulis dari tahun 1941, adalah sebuah bukti bahwa batas antara hal yang mustahil dan kenyataan hanyalah soal waktu. Mari kita pantau bersama, karena masa depan energi kita mungkin akan segera turun langsung dari langit.