pariwisata luar angkasa

siapkah kita liburan ke orbit bumi

pariwisata luar angkasa
I

Coba kita bayangkan sebentar. Kita sedang duduk di sofa yang empuk sambil berselancar di aplikasi pemesanan tiket liburan melalui ponsel. Di layar, ada opsi penerbangan ke Bali, Tokyo, Paris, dan... Orbit Bumi Rendah. Terdengar seperti fiksi ilmiah murahan? Faktanya, era pariwisata luar angkasa benar-benar sudah dimulai. Tiketnya hari ini memang masih dibanderol ratusan miliar rupiah. Namun, impian untuk melakukan staycation di luar selimut atmosfer bumi sedang berlari kencang menjadi kenyataan komersial. Sebelum kita mulai sibuk memikirkan outfit apa yang paling bagus dipakai untuk mengambang bebas di gravitasi nol, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama. Secara fisik dan mental, benarkah kita—sebagai manusia biasa—sudah siap untuk liburan ke sana?

II

Sepanjang sejarah, manusia memang selalu terobsesi untuk pergi ke tempat-tempat yang belum terjamah. Nenek moyang kita nekat menyeberangi lautan ganas bermodalkan perahu kayu rakitan. Berabad-abad kemudian, kita menciptakan mesin terbang untuk merobek awan. Secara psikologis, kita ini adalah spesies purba yang sepenuhnya dikendalikan oleh rasa penasaran. Otak kita dirancang sedemikian rupa untuk menyiramkan hormon dopamin setiap kali kita mengeksplorasi wilayah baru. Itulah alasan mengapa ide liburan ke luar angkasa terasa begitu menggoda saraf-saraf kita. Kita membayangkan betapa asyiknya melihat lengkungan bumi yang biru, meminum kopi dari kantong air yang melayang, dan mengambil swafoto yang akan membuat semua pengikut di media sosial kita menahan napas. Tapi, mari kita jeda dan berpikir kritis sejenak. Ruang angkasa bukanlah lautan tropis, apalagi udara pegunungan. Itu adalah lingkungan yang sepenuhnya ekstrem dan sangat tidak bersahabat bagi biologi tubuh manusia. Jika kita terbang liburan ke benua lain, musuh terbesar kita paling-paling hanyalah jet lag atau turbulensi cuaca. Di luar angkasa? Aturan mainnya jauh lebih brutal dari itu.

III

Mari kita lihat para astronaut profesional. Mereka harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempersiapkan satu misi saja. Mereka melatih ketahanan fisik hingga menyentuh batas maksimal, dan harus lulus tes psikologi yang luar biasa ketat. Lalu, bagaimana nasib kita, para turis masa depan yang mungkin cuma sanggup ikut pelatihan kilat selama beberapa minggu? Secara psikologis, terkurung di dalam sebuah kapsul logam sempit yang meluncur dengan kecepatan 28.000 kilometer per jam sama sekali bukan pengalaman yang menenangkan untuk sistem saraf otonom kita. Ada ancaman klaustrofobia yang sangat nyata di sana. Ruang gerak sangat terbatas. Belum lagi, kita harus bertanya, apa yang sebenarnya terjadi saat tubuh kita menyadari bahwa tidak ada lagi gaya gravitasi yang setia menarik darah kita ke bawah? Tiba-tiba saja, tubuh rentan yang sudah berevolusi selama jutaan tahun di daratan bumi ini harus menghadapi semacam krisis identitas biologis. Sesuatu yang sangat aneh dan tidak wajar mulai terjadi di dalam organ-organ internal kita, dan fakta-fakta keras ini anehnya jarang sekali dicetak tebal di brosur pariwisata komersial mana pun.

IV

Di sinilah hard science memberikan realitas yang cukup menampar angan-angan kita. Saat kita memasuki zona gravitasi mikro, cairan di dalam tubuh kita akan langsung kehilangan arah dan naik menumpuk ke bagian dada serta kepala. Fenomena medis ini dikenal dengan sebutan fluid shift. Efeknya? Wajah kita akan membengkak drastis seperti balon, sementara kaki kita akan mengecil seperti kaki burung. Kedengarannya mungkin agak lucu, sampai kita menyadari bahwa pergeseran cairan ini memicu tekanan intrakranial yang membuat kepala kita sakit luar biasa. Lalu, bersiaplah menyambut Space Adaptation Syndrome alias mabuk luar angkasa. Secara statistik, lebih dari separuh astronaut profesional saja mengalaminya pada hari-hari pertama mengorbit. Bayangkan kita sudah membayar triliunan rupiah untuk sebuah liburan eksklusif, tapi kita malah mual hebat, berkeringat dingin, dan tidak bisa berhenti muntah sambil melayang-layang di dalam kabin. Belum lagi soal ancaman tak kasat mata dari paparan radiasi kosmik yang secara perlahan bisa merusak rantai DNA kita. Namun, tunggu dulu. Di balik semua siksaan fisik dan biologis itu, luar angkasa menyimpan satu rahasia psikologis yang sangat agung. Saat kita melihat bumi dari tengah kegelapan kosmos yang hampa, otak kita kemungkinan besar akan mengalami pergeseran kognitif ekstrem yang disebut Overview Effect. Di momen itu, semua ego pribadi, batas-batas negara, dan konflik manusia tiba-tiba terasa sangat kerdil. Kita akan disuntik oleh rasa empati universal yang luar biasa dalam terhadap planet rapuh yang melayang sendirian ini.

V

Jadi, mari kita kembali ke pertanyaan awal kita: sudah siapkah kita liburan ke orbit bumi? Secara murni biologis, tubuh kita jelas akan protes sekeras-kerasnya. Kita ini bukanlah entitas kosmik; kita adalah anak-anak bumi sejati yang dirancang oleh alam untuk berpijak pada tanah dan ditarik oleh pelukan gravitasi. Tapi secara spiritual dan psikologis, bisa jadi perjalanan ekstrem inilah yang paling kita butuhkan sebagai sebuah peradaban. Pariwisata luar angkasa, pada esensi terdalamnya, bukanlah sekadar soal memamerkan kekayaan materi atau melarikan diri dari penatnya rutinitas pekerjaan. Ini adalah sebuah cermin raksasa yang memaksa kita melihat siapa diri kita sebenarnya di tengah alam semesta. Mungkin, suatu hari nanti, saat tiket roket sudah sama terjangkaunya dengan tiket kereta api lintas kota, kita akan dengan sukarela berani mengambil risiko mual, pusing, dan bengkak-bengkak itu. Bukan semata-mata demi menaklukkan angkasa luar, melainkan untuk pulang membawa sudut pandang baru dan hati yang jauh lebih menghargai bumi; rumah satu-satunya yang kita miliki bersama.