cryonics

sains di balik membekukan tubuh manusia untuk dihidupkan lagi

cryonics
I

Pernahkah kita membayangkan momen terakhir dalam hidup kita? Bayangkan kita menutup mata perlahan di ranjang rumah sakit, terlelap dalam kegelapan, lalu tiba-tiba membuka mata ratusan tahun kemudian. Penyakit mematikan yang kita idap ternyata sudah ada obatnya. Kita bangun dengan tubuh yang sehat dan siap menjelajahi peradaban masa depan. Kedengarannya persis seperti naskah film fiksi ilmiah. Tapi percayalah, ini sedang terjadi di dunia nyata saat ini. Ada ratusan orang yang saat ini sedang tidur panjang di dalam tangki baja tahan karat raksasa. Mereka melayang dalam cairan bersuhu sangat dingin, menunggu teknologi masa depan untuk membangunkan mereka kembali. Kita menyebut praktik ini sebagai cryonics. Dan ini bukan sekadar fantasi liar, melainkan salah satu eksperimen sains paling berani sekaligus paling tragis dalam sejarah umat manusia.

II

Mari kita mundur sejenak untuk memahami fenomena ini. Mengapa ada orang yang rela membayar miliaran rupiah hanya untuk dimasukkan ke dalam tong berisi nitrogen cair setelah mereka meninggal? Jawabannya berakar sangat dalam pada psikologi dasar kita. Kita semua takut menghadapi akhir. Kehilangan orang yang kita cintai adalah hal yang luar biasa menyakitkan. Pada tahun 1960-an, seorang profesor fisika bernama Robert Ettinger menulis buku berjudul The Prospect of Immortality. Dia memicu sebuah gerakan yang memberi janji manis. Logikanya waktu itu terdengar sangat masuk akal. Jika suhu tubuh diturunkan secara drastis hingga minus 196 derajat Celcius, proses pembusukan biologis akan terhenti sepenuhnya. Kita pada dasarnya memencet tombol pause pada kematian. Dalam pandangan ini, kematian tidak lagi dilihat sebagai sebuah titik akhir yang mutlak. Kematian hanyalah sebuah penyakit kronis yang belum ditemukan obatnya oleh teknologi saat ini. Harapan akan adanya hari esok inilah yang membuat teman-teman kita di fasilitas cryonics bersedia menjadi relawan mesin waktu biologis.

III

Tapi di sinilah sains mulai menantang angan-angan kita dengan realitas yang dingin. Mungkin teman-teman pernah secara tidak sengaja memasukkan buah stroberi segar ke dalam freezer. Saat dikeluarkan dan dibiarkan mencair, stroberi itu tidak lagi renyah. Bentuknya hancur, lembek, dan berair. Mengapa bisa begitu? Karena tubuh makhluk hidup, termasuk kita, sebagian besar terdiri dari air. Saat air membeku, ia memuai dan membentuk kristal-kristal es yang setajam silet kecil. Kristal-kristal es ini akan menusuk, merobek, dan menghancurkan sel-sel tubuh dari dalam. Jika kita membekukan manusia dengan cara biasa, kita pada dasarnya sedang menghancurkan jaringan tubuhnya sendiri. Para ilmuwan cryonics tentu sangat menyadari masalah fundamental ini. Lalu, apa solusi mereka? Mereka mengganti darah di dalam tubuh pasien dengan cairan antibeku kelas medis. Proses rumit ini dinamakan vitrification. Tujuannya bukan untuk membekukan tubuh menjadi es, melainkan mengubah cairan tubuh menjadi wujud padat seperti kaca, tanpa membentuk kristal tajam. Terdengar sangat canggih dan menjanjikan, bukan? Namun pertanyaannya, apakah proses seperti kaca ini benar-benar bisa menjaga esensi diri kita tetap utuh untuk dihidupkan lagi nanti?

IV

Di sinilah kita harus berani memisahkan harapan dari fakta ilmiah yang keras. Realitas medisnya ternyata jauh lebih suram dan rumit dari brosur pemasaran. Saat ini, sains modern bahkan belum mampu mengawetkan dan menghidupkan kembali satu organ ginjal manusia utuh untuk transplantasi, apalagi seluruh tubuh atau otak manusia yang luar biasa kompleks. Kesadaran, ingatan, kepribadian, dan rasa cinta kita tersimpan dalam miliaran koneksi saraf otak yang sangat rumit, yang biasa disebut connectome. Menjaga agar jaringan connectome ini tetap utuh dan tidak retak saat proses pendinginan ekstrem adalah tantangan biologis yang nyaris mustahil. Belum lagi fakta bahwa cairan antibeku yang digunakan untuk proses vitrification sebenarnya sangat beracun bagi jaringan tubuh kita. Untuk bisa menghidupkan kembali pasien cryonics, kita berarti menuntut manusia masa depan untuk memiliki teknologi nanobot ajaib yang mampu memperbaiki miliaran sel yang rusak akibat racun dan retakan dingin, satu per satu. Itulah mengapa banyak pakar biologi menyebut cryonics bukanlah sebuah prosedur medis, melainkan sebuah perjalanan ambulans menuju rumah sakit yang belum tentu pernah ada. Ini adalah pertaruhan buta pada keajaiban teknologi yang mungkin tidak akan pernah tercipta.

V

Pada akhirnya, ketika kita berbicara tentang cryonics, kita sebenarnya tidak sedang membahas kecanggihan mesin waktu atau fisika kuantum. Kita sedang menatap cermin dan membahas sesuatu yang sangat manusiawi, yaitu harapan dan rapuhnya kita di hadapan perpisahan. Sangat mudah bagi kita untuk bersikap sinis, memakai kacamata logika murni, dan menganggap ini semua sebagai omong kosong yang mahal. Tapi cobalah bayangkan jika orang yang paling kita cintai divonis penyakit mematikan. Tiba-tiba, probabilitas sekecil apa pun untuk bisa memeluk mereka lagi di masa depan akan terasa sangat masuk akal dan berharga. Cryonics adalah monumen raksasa dari ketakutan manusia akan perpisahan, sekaligus bukti betapa besar cinta kita pada kehidupan. Apakah mereka yang kini sedang tertidur sunyi di dalam tabung nitrogen cair itu akan membuka mata suatu hari nanti? Tidak ada satu pun ilmuwan yang bisa menjawabnya dengan pasti hari ini. Namun sembari menunggu sains masa depan menjawab teka-teki tersebut, mungkin ada satu pelajaran penting untuk kita yang masih bisa bernapas hangat dan membaca tulisan ini. Kematian adalah hal yang memberi batas waktu pada cerita kita. Dan justru karena waktu kita sangat terbatas, hari ini, saat ini, dan orang-orang yang duduk di sebelah kita, menjadi jauh lebih berharga daripada janji kehidupan abadi di masa depan yang belum pasti.