akhir dari antibiotik

perang melawan superbug dengan virus pemakan bakteri

akhir dari antibiotik
I

Coba bayangkan sejenak. Kita sedang merapikan kertas di meja kerja, lalu tiba-tiba ujung jari kita tergores. Berdarah sedikit. Rasanya perih, tapi kita hanya menempelkan plester kecil dan langsung melupakannya. Pernahkah kita sadar bahwa sekitar seabad yang lalu, goresan sepele semacam itu bisa jadi vonis mati? Ya, sebelum tahun 1928, infeksi kecil di kulit bisa merenggut nyawa siapa saja tanpa pandang bulu. Lalu datanglah era keajaiban. Kita menemukan antibiotik. Tiba-tiba saja, umat manusia merasa tak terkalahkan oleh penyakit. Namun hari ini, saya ingin mengajak teman-teman merenungkan sebuah kenyataan yang agak membuat merinding. Keajaiban itu perlahan memudar. Kita sedang bergerak menuju sebuah era di mana antibiotik, senjata pamungkas kebanggaan kita, mulai berhenti bekerja.

II

Kenapa keajaiban ini bisa hilang begitu saja? Jawabannya bersembunyi pada psikologi dasar manusia: kita terlalu mudah terlena. Sejak Alexander Fleming menemukan penicillin, kita mengonsumsi antibiotik seolah-olah itu permen penenang. Demam sedikit, kita minum antibiotik. Batuk karena virus, yang diresepkan malah antibiotik. Padahal, secara sains biologis, antibiotik tidak mempan melawan virus. Di sinilah hukum evolusi Charles Darwin mengambil alih panggung secara brutal. Bakteri adalah makhluk hidup purba yang sangat cerdas beradaptasi. Ketika kita membombardir mereka dengan antibiotik dosis setengah-setengah, bakteri yang paling kuat akan bertahan hidup. Mereka bermutasi. Mereka belajar mengenali pola serangan kita. Akhirnya, lahirlah ancaman baru yang kini kita sebut sebagai superbug. Ini adalah bakteri super kebal yang pada dasarnya menertawakan semua obat modern kita. Para ilmuwan bahkan memprediksi, jika kita diam saja, superbug akan membunuh lebih banyak manusia daripada penyakit kanker pada tahun 2050 nanti.

III

Terdengar seperti naskah film distopia yang suram, bukan? Saat membaca data-data medis ini, jujur saja saya sempat merasa pesimis. Jika senjata andalan kita sudah tumpul, lalu kita harus pakai apa? Apakah umat manusia akan kembali ke zaman kegelapan medis di mana operasi kecil saja bernyawa taruhan? Ternyata, sejarah sering kali menyembunyikan kartu truf di tempat yang tidak terduga. Mari kita mundur sejenak ke masa Perang Dingin. Ketika dunia Barat sedang sibuk memuja kehebatan antibiotik, para ilmuwan di Uni Soviet punya jalan pikir yang sangat berbeda. Mereka terisolasi dari peradaban obat-obatan Barat. Karena terdesak, mereka harus mencari cara lain untuk menyelamatkan nyawa tentara yang terinfeksi di medan perang. Di laboratorium yang dingin itulah, mereka terus mengembangkan sebuah terapi misterius. Terapi ini sempat ditertawakan oleh dunia medis Barat selama puluhan tahun. Sebuah metode ekstrem yang menggunakan monster, untuk melawan monster.

IV

Bersiaplah untuk berkenalan dengan bacteriophage, atau yang akrab dipanggil dengan sebutan phage. Secara harfiah, namanya berarti "pemakan bakteri". Phage adalah virus. Ya, teman-teman tidak salah baca. Di saat kita biasanya mati-matian menghindari virus, makhluk yang satu ini justru sedang bersiap menjadi juru selamat umat manusia. Tapi tenang saja, phage sama sekali tidak tertarik pada sel manusia. Mereka adalah pembunuh bayaran mikroskopis yang berevolusi khusus untuk memburu bakteri. Secara wujud biologis, phage bekerja mirip seperti pesawat pendarat bulan (lunar lander) dari luar angkasa. Mereka akan menempel kuat pada dinding sel superbug. Setelah itu, mereka menyuntikkan DNA mereka sendiri ke dalam tubuh bakteri, lalu membajak seluruh sistem reproduksinya. Bakteri malang itu akan dipaksa memproduksi bayi-bayi phage di dalam perutnya sampai akhirnya ia meledak dari dalam. Musuh pun hancur lebur. Jika antibiotik ibarat bom karpet yang menghancurkan bakteri baik dan jahat di tubuh kita tanpa ampun, phage adalah penembak jitu. Mereka melacak target yang sangat spesifik dan menghabisinya tanpa melukai sedikit pun jaringan tubuh kita yang lain.

V

Terapi phage ini kini mulai dihidupkan kembali secara darurat di berbagai laboratorium modern di seluruh dunia. Kisah panjang ini pada akhirnya mengajarkan kita satu pelajaran yang sangat berharga. Kesombongan intelektual sering kali membuat kita buta terhadap solusi yang sebenarnya sudah lama disediakan oleh alam. Selama puluhan tahun, kita sempat berpikir bahwa kita bisa menaklukkan alam semesta hanya dengan bahan kimia buatan pabrik. Kita lupa bahwa alam memiliki sistem keseimbangannya sendiri. Musuh dari musuh kita, pada akhirnya bisa menjadi sahabat terbaik kita. Meskipun terapi virus pemakan bakteri ini terdengar sangat menjanjikan, ini bukanlah alasan bagi kita untuk kembali hidup sembrono. Ke depannya, kita harus jauh lebih bijak. Mari kita mulai dari diri sendiri, dengan tidak asal memaksa dokter meresepkan antibiotik saat kita hanya terkena flu biasa. Pada akhirnya, perang melawan superbug bukanlah tentang siapa yang punya senjata paling merusak. Ini adalah tentang seberapa cerdas kita bisa memahami dan bekerja sama dengan ekosistem mikroskopis di sekitar kita. Karena di dalam sains dan kehidupan, bertahan hidup selalu membutuhkan kerendahan hati.