Cicadas

siklus 17 tahun munculnya belalang sembah sebagai pesta protein

Cicadas
I

Seringkali, saat mendengar cerita tentang jutaan serangga yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah, kita mungkin langsung membayangkan invasi belalang sembah atau kawanan belalang pelahap ladang seperti di kisah-kisah kuno. Namun, mari kita luruskan sedikit kesalahpahaman kecil ini. Aktor utama dari fenomena paling bising dan paling epik di dunia serangga ini bukanlah belalang, melainkan cicada atau yang sering kita sebut sebagai tonggeret.

Pernahkah kita membayangkan, bagaimana rasanya hidup dalam kegelapan total selama 17 tahun, hanya untuk muncul ke permukaan bumi selama beberapa minggu, bernyanyi dengan suara paling memekakkan telinga, kawin, lalu mati? Bagi kita, itu terdengar seperti tragedi. Namun bagi Periodical Cicadas yang ada di Amerika Utara, itu adalah strategi bertahan hidup paling jenius yang pernah diciptakan oleh evolusi. Dan yang membuat fenomena ini sangat memikat, bukan hanya soal seberapa berisiknya mereka. Ada matematika, jam biologis misterius, dan sebuah pengorbanan massal yang terjadi tepat di bawah kaki kita.

II

Mari kita mundur sejenak dan melihat dari kacamata sejarah dan psikologi manusia. Ketika ribuan serangga bermata merah cerah ini tiba-tiba keluar dari tanah berbarengan, manusia abad ke-17 di Amerika sempat panik. Mereka mengira ini adalah kutukan wabah pembawa malapetaka. Secara psikologis, manusia memang diprogram untuk takut pada sesuatu yang muncul secara tak terduga dalam jumlah masif. Pikiran kita langsung membunyikan alarm bahaya.

Namun, sains perlahan mengubah rasa takut kita menjadi kekaguman yang luar biasa. Pertanyaan terbesarnya adalah: kenapa harus 17 tahun? Kenapa tidak 10, atau 15 tahun saja? Di sinilah keajaiban hard science bekerja. Angka 17 bukanlah kebetulan. Ini adalah bilangan prima.

Bayangkan sebuah siklus hidup predator yang memakan tonggeret. Jika predator memiliki siklus meledak populasinya setiap 2, 4, atau 5 tahun, mereka tidak akan pernah bisa menyinkronkan waktu dengan tonggeret yang muncul setiap 17 tahun. Bilangan prima adalah benteng pertahanan matematis alam. Tonggeret memastikan bahwa tidak ada satu pun predator spesifik yang bisa secara rutin menjadikan mereka menu makanan utama.

III

Sekarang, sebuah misteri baru muncul di benak kita. Selama 17 tahun bersembunyi di bawah tanah, apa yang sebenarnya tonggeret ini lakukan? Apakah mereka hibernasi dan tidur lelap seperti beruang?

Ternyata sama sekali tidak. Di kedalaman tanah yang lembap, bayi-bayi tonggeret ini sangat aktif bergerak dan hidup mandiri. Mereka bertahan hidup dengan cara menancapkan mulut mungil mereka ke akar-akar pohon, lalu perlahan mengisap cairan xylem yang mengandung nutrisi.

Tapi tunggu dulu, ini memicu pertanyaan yang jauh lebih menggoda. Jika mereka hidup dalam kegelapan abadi di bawah tanah, tidak pernah melihat matahari terbit atau terbenam, tidak pernah melihat musim salju atau musim panas, dari mana mereka tahu bahwa waktu persis 17 tahun telah berlalu? Bagaimana mereka punya "kalender" tanpa pernah melihat langit?

Jawabannya ada pada getah pohon yang mereka minum. Pohon mengubah komposisi kimia getahnya berdasarkan musim, terutama saat pohon berbunga di musim semi. Setiap kali getah pohon berubah rasa dan kandungan, tonggeret mencatatnya sebagai "satu tahun". Mereka benar-benar menghitung tahun melalui rasa makanan mereka. Begitu hitungan itu mencapai angka 17, sebuah alarm biologis meledak di dalam DNA mereka. Waktunya naik ke atas.

IV

Ketika saatnya tiba, tanah perlahan berlubang. Jutaan, bahkan miliaran tonggeret merayap keluar secara bersamaan. Dan di sinilah kita menemukan alasan sesungguhnya mengapa mereka muncul dalam jumlah yang tidak masuk akal.

Ini bukan sekadar invasi. Ini adalah sebuah pesta protein besar-besaran yang sengaja dirancang oleh alam. Strategi ini dalam ilmu biologi evolusioner disebut sebagai predator satiation atau pemuasan predator.

Tonggeret tidak memiliki capit, tidak punya racun, dan gerakannya sangat lambat. Mereka sama sekali tidak bisa membela diri. Jadi, strategi mereka adalah: membanjiri lingkungan hidup mereka dengan tubuh mereka sendiri. Burung, tupai, rakun, ular, hingga anjing peliharaan akan memakan tonggeret sampai mereka muntah, sampai mereka benar-benar tidak sanggup lagi mengunyah.

Ketika semua predator di hutan sudah terlalu kenyang dan kekenyangan protein, masih ada jutaan tonggeret tersisa yang bebas bernyanyi, mencari pasangan, dan bertelur dengan aman. Mereka menang bukan dengan cara bertarung, melainkan dengan cara menyerahkan diri menjadi prasmanan alam semesta demi kelangsungan generasi berikutnya.

V

Melihat siklus 17 tahun ini, saya jadi sering merenung. Kita, manusia modern, sering kali merasa sangat kesulitan hanya untuk menunggu antrean selama 15 menit, atau membalas pesan yang tak kunjung dibaca dalam hitungan jam. Kita hidup di era di mana segalanya harus serba cepat dan instan.

Sementara itu, di bawah tanah yang kita pijak, ada makhluk kecil yang bersedia bersabar dalam kegelapan selama 17 tahun penuh. Mereka menunggu dengan tenang, meminum getah pohon sedikit demi sedikit, hanya demi empat minggu kebebasan untuk merasakan angin, bernyanyi sekeras mungkin, jatuh cinta, dan mengembalikan tubuh mereka ke tanah sebagai pupuk yang akan menyuburkan pohon-pohon di hutan.

Mungkin, teman-teman setuju dengan saya. Kisah cicada bukan sekadar biologi atau sains murni. Ini adalah sebuah pengingat lembut dari alam semesta. Bahwa kadang-kadang, hal yang paling berharga di dunia ini membutuhkan waktu yang sangat, sangat panjang untuk akhirnya bisa mekar dan bersuara. Dan ketika waktu itu tiba, pastikan kita bernyanyi dengan suara paling lantang yang kita miliki.