sejarah penemuan antibiotik
ledakan populasi saat infeksi tidak lagi menjadi hukuman mati
Pernahkah kita merenungkan betapa rapuhnya nyawa manusia hanya seabad yang lalu? Bayangkan kita hidup di tahun 1920-an. Kita sedang berkebun, lalu jari kita tertusuk duri mawar. Hari ini, kita mungkin hanya akan mencucinya dengan air, menempelkan plester, lalu melupakannya. Namun di masa itu, luka sekecil apa pun adalah sebuah pertaruhan nyawa. Bakteri bisa masuk ke aliran darah. Demam akan menyusul. Tanpa kita sadari, infeksi tersebut bisa menjadi hukuman mati yang prosesnya sangat menyakitkan. Pada masa itu, rumah sakit dipenuhi oleh orang-orang—termasuk anak-anak—yang sekarat hanya karena luka gores, cabut gigi, atau batuk yang tak kunjung sembuh. Kematian terasa begitu dekat, bersembunyi di balik hal-hal sepele. Manusia hidup dalam kecemasan konstan terhadap musuh tak kasat mata bernama bakteri.
Lalu, datanglah sebuah kebetulan yang mengubah sejarah. Cerita ini sering kita dengar, tapi mari kita lihat dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Tahun 1928, seorang ilmuwan Skotlandia bernama Alexander Fleming sedang terburu-buru pergi liburan. Dia meninggalkan meja laboratoriumnya dalam keadaan berantakan. Cawan-cawan petri berisi bakteri Staphylococcus—bakteri mematikan penyebab infeksi—dibiarkan begitu saja di atas meja. Saat dia kembali, dia menemukan sesuatu yang aneh. Salah satu cawan petri itu ditumbuhi jamur berbulu halus. Namun, alih-alih langsung membuangnya, insting saintifik Fleming menahannya. Dia melihat bahwa di sekeliling jamur itu, tidak ada satu pun bakteri yang berani tumbuh. Jamur itu seolah menciptakan zona mematikan bagi bakteri. Jamur tersebut adalah Penicillium notatum. Temuan ini luar biasa, bukan? Tapi tahukah teman-teman bahwa setelah temuan itu, dunia... tidak langsung berubah? Fleming kesulitan mengekstrak zat pembunuh bakteri itu menjadi obat yang stabil. Akhirnya, penemuan revolusioner itu hanya berdebu di jurnal ilmiah selama lebih dari satu dekade. Harapan itu ada, tapi tertidur lelap.
Di sinilah cerita menjadi semakin menegangkan. Mari kita maju ke tahun 1939. Perang Dunia II baru saja pecah. Jutaan tentara akan segera mati, bukan hanya karena peluru, tapi karena infeksi luka di medan tempur. Di Universitas Oxford, tiga ilmuwan—Howard Florey, Ernst Chain, dan Norman Heatley—membaca kembali makalah usang milik Fleming. Mereka terobsesi untuk memurnikan jamur tersebut menjadi obat yang bisa disuntikkan. Mereka bekerja siang malam, menyulap panci, kaleng susu, dan bak mandi menjadi alat ekstraksi dadakan. Pada tahun 1941, mereka akhirnya menguji obat ini pada manusia pertama. Pasiennya adalah Albert Alexander, seorang polisi yang wajahnya terinfeksi parah hanya karena... tertusuk duri mawar. Setelah disuntikkan cairan penisilin murni, keajaiban terjadi. Demam Albert turun drastis. Luka-lukanya mulai sembuh. Sayangnya, tim Oxford kehabisan stok penisilin sebelum Albert sembuh total. Albert akhirnya meninggal dunia. Kisah tragis ini meninggalkan satu pertanyaan besar yang menghantui dunia sains saat itu: obat ajaib ini terbukti bekerja, tetapi bagaimana caranya kita memproduksi obat ini dalam jumlah jutaan dosis sebelum umat manusia habis dimakan perang dan infeksi?
Rahasia besar itu akhirnya terpecahkan di sebuah pasar buah di Amerika Serikat. Seorang asisten lab menemukan sebuah melon busuk yang ditumbuhi jamur dengan jenis yang sedikit berbeda, Penicillium chrysogenum. Jamur dari melon busuk inilah yang ternyata bisa menghasilkan penisilin dalam jumlah ratusan kali lipat lebih banyak! Produksi massal pun dimulai secara gila-gilaan. Ketika tentara Sekutu mendarat di Normandia pada tahun 1944, mereka membawa lebih dari dua juta dosis penisilin. Infeksi tak lagi menjadi hukuman mati. Dan setelah perang berakhir, obat ini mulai didistribusikan untuk masyarakat sipil di seluruh dunia. Dampaknya? Ledakan populasi yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Angka kematian bayi dan anak-anak turun secara dramatis. Penyakit seperti pneumonia, sifilis, dan TBC tiba-tiba bisa disembuhkan hanya dalam beberapa hari. Secara demografis, kurva populasi manusia yang tadinya naik perlahan, tiba-tiba melesat vertikal ke atas. Baby boom terjadi di mana-mana. Harapan hidup rata-rata manusia melompat tajam dari sekitar 47 tahun menjadi di atas 70 tahun. Kita, umat manusia, akhirnya berhasil meretas sistem alam dan memenangkan perang melawan bakteri mematikan.
Hari ini, teman-teman dan saya adalah produk dari ledakan populasi tersebut. Sangat mungkin, kakek buyut atau bahkan kita sendiri pernah selamat dari maut berkat sebutir pil antibiotik. Kita hidup di era di mana kita sangat terbiasa dengan keajaiban medis ini, sampai-sampai kita sering meremehkannya. Namun, psikologi manusia memang unik; kita cenderung abai pada hal-hal yang terlalu mudah didapatkan. Kita mulai mengonsumsi antibiotik layaknya permen, bahkan untuk penyakit flu yang disebabkan virus, di mana antibiotik jelas tidak berguna. Akibatnya, alam kembali menantang kita. Bakteri-bakteri itu kini berevolusi, memunculkan krisis baru yang disebut antimicrobial resistance atau kebal antibiotik. Sejarah panjang penuh keringat, air mata, dan kebetulan dari Fleming hingga tim Oxford, kini berada di tangan kita. Pemahaman sejarah ini seharusnya memicu empati dan rasa syukur yang dalam, sekaligus menuntut kita untuk berpikir kritis. Jangan sampai kelalaian kita hari ini membawa cucu-cucu kita kembali ke masa kegelapan, di mana duri mawar kembali menjadi sebuah hukuman mati. Mari kita jaga keajaiban ini bersama-sama.