sains tentang bencana alam

cara demografi memengaruhi tingkat resiko kehilangan nyawa

sains tentang bencana alam
I

Pernahkah kita mendengar kalimat puitis bahwa bencana alam tidak pernah pilih kasih? Katanya, gelombang tsunami tidak pernah mengecek KTP sebelum menerjang daratan. Gempa bumi tidak peduli apakah yang runtuh itu atap gubuk atau pilar istana. Dulu, saya juga percaya pada ide romantis ini. Kita sering menganggap bahwa di hadapan murka alam, semua manusia mendadak menjadi setara. Namun, sejarah dan sains ternyata bercerita lain. Bencana alam mungkin buta, tetapi dampaknya sangat bisa melihat siapa yang sedang ia serang. Mari kita bayangkan sebuah skenario. Dua gempa bumi dengan kekuatan persis sama menghantam dua kota yang berbeda. Di kota A, korban jiwa hanya hitungan jari. Di kota B, ratusan ribu nyawa melayang. Mengapa ketimpangan mengerikan ini bisa terjadi?

II

Ketika melihat berita bencana, mata kita sering kali langsung tertuju pada angka-angka geologis. Kita melihat Skala Richter. Kita memantau kecepatan angin badai. Kita mengukur ketinggian gelombang air. Kita cenderung menyalahkan alam sepenuhnya atas tragedi yang terjadi. Hal ini sangat wajar, karena otak manusia menyukai penjelasan kausalitas yang sederhana dan langsung. Namun, para ahli mitigasi bencana punya metrik lain yang jauh lebih akurat—dan mungkin lebih menyedihkan—dari sekadar pergerakan lempeng tektonik. Mereka menyebutnya sebagai social vulnerability atau kerentanan sosial. Teman-teman, sains membuktikan bahwa risiko kehilangan nyawa dalam sebuah bencana sangat ditentukan oleh siapa kita dan di mana kita berada dalam piramida masyarakat. Bukan cuma kekuatan gempa yang membunuh, tapi juga data demografi. Ya, usia, gender, dan status ekonomi kita ternyata bertindak layaknya "pelindung gaib" atau justru menjadi "target di punggung" saat bencana tiba.

III

Fakta ini perlahan memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang cukup mengganggu tidur kita. Coba kita tengok kembali tragedi Tsunami Samudra Hindia pada tahun 2004 silam. Pernahkah kita bertanya, mengapa di beberapa wilayah pesisir, jumlah korban perempuan mencapai empat kali lipat lebih banyak dibandingkan korban laki-laki? Atau saat gelombang panas ekstrem menyapu Benua Eropa pada tahun 2003. Mengapa malaikat maut seolah hanya mengetuk pintu rumah orang-orang lanjut usia yang tinggal sendirian? Ada misteri apa di balik angka-angka statistik ini? Apakah alam tiba-tiba menjadi seksis dan memusuhi lansia? Lalu secara psikologis, mengapa orang-orang dari kelompok ekonomi bawah sering kali ngotot menolak evakuasi, padahal sirine peringatan bahaya sudah meraung-raung? Ada sebuah rantai sebab-akibat yang tak kasat mata di sini. Sebuah rantai yang sering kali luput dari perhatian kita bersama.

IV

Jawabannya ternyata tidak tersembunyi pada fenomena alamnya. Jawabannya berakar kuat pada cara peradaban kita dibangun. Mari kita bedah pelan-pelan. Dalam kasus tsunami 2004, ilmu sosiologi dan anatomi memberi penjelasan pahit. Banyak perempuan menjadi korban karena norma sosial masa itu. Di banyak budaya pesisir, perempuan jarang diajarkan berenang atau memanjat pohon sejak kecil. Pakaian tradisional yang mereka kenakan juga menyerap air dan menyulitkan pergerakan. Sementara itu, laki-laki lebih banyak berada di laut lepas dengan perahu, tempat di mana gelombang tsunami justru belum menggulung tinggi.

Lalu, mari kita bahas soal lansia dan gelombang panas. Secara fisiologis, tubuh manusia yang menua perlahan kehilangan kemampuan thermoregulation (pengaturan suhu tubuh). Namun, pembunuh aslinya bukan sekadar cuaca panas, melainkan isolasi sosial. Banyak lansia meninggal dunia karena mereka kesepian. Mereka tidak punya siapa-siapa untuk mengingatkan agar terus minum air atau memindahkan mereka ke tempat sejuk.

Lantas, bagaimana dengan faktor kemiskinan? Secara psikologis, masyarakat berpenghasilan rendah hidup dengan scarcity mindset atau pola pikir kelangkaan. Saat peringatan evakuasi berbunyi, orang kaya bisa langsung masuk mobil dan menginap di hotel yang aman. Namun bagi masyarakat rentan, meninggalkan rumah berarti mempertaruhkan satu-satunya harta benda yang mereka miliki untuk dijarah. Bagi mereka, ketakutan akan kemiskinan parah sering kali terasa jauh lebih nyata daripada ketakutan akan kematian itu sendiri. Bencana alam memang fenomena bumi, tetapi siapa yang bertahan hidup adalah murni fenomena manusia.

V

Menyadari realitas ini mungkin membuat kita merasa sedikit tidak nyaman. Namun, pemahaman ini sebenarnya adalah senjata paling empati dan logis yang kita miliki. Kita jelas tidak bisa menghentikan lempeng bumi yang sedang bergesekan. Kita tidak punya remot kontrol untuk menyuruh badai putar balik. Tapi, kita sangat bisa memperbaiki sistem sosial kita. Kita bisa mulai dengan membangun infrastruktur yang lebih inklusif untuk lansia dan penyandang disabilitas. Kita bisa mendesain program tata ruang yang aman untuk perempuan dan anak-anak. Kita juga harus menciptakan jaring pengaman ekonomi, agar evakuasi menyelamatkan nyawa bukan lagi pilihan yang mewah bagi kaum pekerja keras. Keselamatan seharusnya bukan sebuah hak istimewa (privilege) yang hanya dimiliki oleh mereka yang muda, sehat, dan berharta. Pada akhirnya, seberapa tangguh kita menghadapi bencana tidak pernah diukur dari seberapa tebal tembok penahan ombak yang kita bangun. Kekuatan kemanusiaan kita yang sebenarnya justru diukur dari seberapa kuat kita melindungi mereka yang paling rapuh di antara kita.