resesi seks di jepang

sains di balik alasan negara maju justru berhenti berproduksi

resesi seks di jepang
I

Bayangkan sebuah negara yang menjadi pusat industri hiburan dewasa bernilai miliaran dolar. Sebuah tempat di mana kita bisa menyewa pacar sewaan, mengunjungi kafe untuk sekadar dipeluk, dan melihat visual romantis di setiap sudut jalan. Logika kasarnya, negara ini pasti dipenuhi gairah. Namun, realitasnya justru sebaliknya. Di Jepang saat ini, penjualan popok dewasa secara konsisten mengalahkan penjualan popok bayi. Ada sebuah keheningan panjang di kamar-kamar tidur mereka.

Fenomena ini sering disebut sebagai resesi seks. Media sering melukiskannya sebagai lelucon atau keanehan budaya pop semata. Tapi pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak dan bertanya: mengapa spesies manusia, ketika hidup di negara yang sangat maju, aman, dan makmur, justru berhenti melakukan hal paling dasar untuk mempertahankan eksistensinya? Jawaban atas teka-teki ini ternyata jauh lebih dalam dari sekadar masalah ekonomi. Ini adalah cerita tentang bagaimana otak, biologi, dan lingkungan modern kita saling bertabrakan. Mari kita bedah bersama-sama.

II

Untuk memahami keheningan ini, kita harus melihat apa yang terjadi di dalam kepala masyarakat modern. Teman-teman mungkin pernah mendengar istilah soshoku-kei danshi atau "pria herbivora" di Jepang. Mereka adalah generasi muda yang kehilangan minat pada persaingan karir, pernikahan, dan tentu saja, seks. Secara historis, Jepang pasca-Perang Dunia II dibangun dengan etos kerja yang brutal. Para pria diharapkan menjadi salaryman yang mengabdi seumur hidup pada perusahaan, sementara wanita mengurus rumah tangga.

Namun, gelembung ekonomi meletus di tahun 90-an. Kontrak sosial itu hancur. Generasi muda sekarang mewarisi jam kerja yang tetap tidak manusiawi, tapi tanpa jaminan keamanan finansial seperti orang tua mereka. Psikologi manusia sangat sensitif terhadap hal ini. Ketika kita merasa tidak punya kendali atas masa depan, otak kita mulai menyusun ulang skala prioritas. Seks dan romansa membutuhkan investasi emosional, waktu, dan energi yang sangat besar. Bagi seseorang yang pulang bekerja tengah malam dalam keadaan kelelahan kronis, tidur adalah kemewahan yang jauh lebih menggoda daripada kencan. Tapi tunggu dulu, apakah ini murni cuma masalah kelelahan fisik?

III

Saya ingin mengajak teman-teman melihat fenomena ini dari lensa yang sedikit berbeda. Mari kita mundur ke tahun 1960-an. Seorang ahli etologi bernama John B. Calhoun melakukan eksperimen epik yang dikenal sebagai Universe 25. Ia menciptakan sebuah utopia untuk tikus. Makanan berlimpah, tidak ada predator, cuaca sempurna, dan penyakit diberantas. Satu-satunya batasan hanyalah ruang yang pada akhirnya menjadi padat.

Apa yang terjadi? Awalnya populasi meledak. Namun ketika kepadatan sosial mencapai titik tertentu, perilaku tikus-tikus ini berubah drastis. Mereka berhenti kawin. Para betina mengisolasi diri. Para jantan yang disebut Calhoun sebagai the beautiful ones hanya makan, tidur, dan merawat bulu mereka tanpa menunjukkan minat sedikit pun pada reproduksi. Populasi itu akhirnya runtuh menuju kepunahan, bukan karena kelaparan, melainkan karena keengganan sosial. Tentu saja, manusia bukan tikus. Namun eksperimen ini meninggalkan sebuah pertanyaan besar yang menggelitik para ilmuwan selama dekade-dekade berikutnya: adakah mekanisme biologis tersembunyi yang "mematikan" hasrat reproduksi saat kepadatan dan kompleksitas sosial mencapai titik ekstrem?

IV

Di sinilah sains keras (hard science) memberikan jawaban yang mengejutkan. Jawabannya ada pada sebuah konsep biologi evolusioner bernama Life History Theory atau Teori Sejarah Kehidupan. Secara sederhana, tubuh manusia memiliki jumlah energi yang terbatas. Tubuh kita harus terus-menerus memilih: apakah energi ini akan dipakai untuk bertahan hidup (membangun karir, menjaga status sosial, membayar sewa) atau untuk berkembang biak (seks, kehamilan, membesarkan anak)?

Di lingkungan yang keras tapi secara alamiah bisa diprediksi, tubuh akan memilih reproduksi cepat. Tapi di negara hiper-maju seperti Jepang, lingkungan sosialnya sangat padat dan kompetitif. Otak manusia secara tidak sadar membaca situasi ini sebagai lingkungan berrisiko tinggi. Dibutuhkan gelar pendidikan bertahun-tahun dan stabilitas finansial yang luar biasa hanya untuk memastikan anak kita nanti tidak tertinggal secara sosial.

Akibatnya, biologi kita mengambil alih. Tekanan sosial dan jam kerja tinggi memicu produksi kortisol (hormon stres) secara konstan. Secara endokrinologi, kortisol adalah musuh utama testosteron dan estrogen. Ketika tubuh kita merasa sedang berada dalam "mode bertahan" dari serangan tenggat waktu dan tekanan sosial, sistem saraf simpatik kita akan mematikan dorongan libido. Otak kita secara literal berkata, "Ini bukan saat yang aman untuk membawa kehidupan baru." Resesi seks ini bukanlah tanda bahwa anak muda telah kehilangan hasrat. Ini adalah adaptasi biologis yang brilian, namun tragis, dari tubuh yang kewalahan menghadapi tuntutan peradaban modern.

V

Jadi, teman-teman, ketika kita membaca berita tentang menurunnya angka kelahiran di Jepang, Korea Selatan, atau bahkan tanda-tandanya yang mulai merambat ke kota-kota besar di Indonesia, kita tidak perlu buru-buru menghakimi. Ini bukan sekadar generasi yang menjadi manja atau egois.

Mereka adalah manusia-manusia yang tubuh dan otaknya sedang merespons sebuah sistem hidup yang mungkin sudah terlalu cepat dan terlalu padat untuk biologi dasar kita. Sains mengajarkan kita bahwa manusia dirancang untuk beradaptasi. Namun kadang, bentuk adaptasi dari sebuah dunia yang terlalu menuntut adalah sebuah keheningan yang panjang. Mungkin, alih-alih bertanya bagaimana cara membuat orang kembali berproduksi, kita seharusnya mulai bertanya: sudahkah kita menciptakan dunia yang membuat orang merasa aman untuk mencintai?