psikologi segregasi
mengapa manusia cenderung mengelompok dengan yang serupa di kota besar
Pernahkah kita masuk ke sebuah food court mal di kota besar, membawa nampan makanan, lalu sejenak memindai sekeliling sebelum memilih tempat duduk? Tanpa sadar, mata kita mencari meja yang diisi oleh orang-orang yang terlihat "sefrekuensi" dengan kita. Mungkin dari cara mereka berpakaian, rentang usia, atau gaya bahasa tubuh mereka.
Atau mari kita perluas sedikit skalanya. Coba perhatikan peta demografi kota-kota besar di sekitar kita. Ada kawasan khusus ekspatriat, ada area yang didominasi kelompok etnis tertentu, ada klaster perumahan elit yang pagarnya menjulang tinggi, dan ada perkampungan padat yang saling berhimpitan.
Kita sering menyebut fenomena ini sebagai kebetulan atau sekadar urusan kemampuan ekonomi. Namun, jika kita membedahnya lebih dalam, ada mesin waktu psikologis yang sedang bekerja di dalam tengkorak kita. Sebuah insting yang memaksa manusia modern di kota metropolitan untuk membangun "tembok-tembok tak kasat mata". Mari kita telusuri bersama mengapa kita begitu betah berada di dalam gelembung kesamaan ini.
Dalam ilmu psikologi dan sosiologi, kecenderungan kita untuk tertarik pada orang yang mirip dengan kita disebut sebagai homophily. Secara harfiah, artinya "cinta pada yang sama".
Ini bukan berarti kita sombong atau berpikiran tertutup. Jauh di masa lalu, ketika nenek moyang kita masih berburu dan meramu di sabana purba, homophily adalah perangkat lunak bertahan hidup yang paling canggih. Pada masa itu, bertemu dengan kelompok asing yang cara berpakaian atau bahasanya berbeda sering kali berarti ancaman. Bisa jadi mereka membawa penyakit baru, atau lebih buruk lagi, memicu konflik perebutan wilayah berdarah.
Otak manusia kemudian berevolusi untuk sangat menyukai pola yang bisa diprediksi. Berada di dekat orang-orang yang memiliki nilai, kebiasaan, dan latar belakang yang sama membuat otak kita menghemat banyak energi. Kita tidak perlu menebak-nebak apakah candaan kita akan menyinggung mereka, atau apakah mereka punya motif tersembunyi. Kesamaan melahirkan kenyamanan kognitif.
Namun, bukankah kita sekarang hidup di abad ke-21? Kita sering menggaungkan pentingnya keragaman dan toleransi. Kita percaya bahwa kita adalah masyarakat modern yang terbuka.
Di sinilah letak misterinya. Jika secara sadar kita menyukai gagasan tentang keberagaman, mengapa kota-kota besar yang digadang-gadang sebagai melting pot atau panci peleburan budaya, pada kenyataannya justru lebih mirip wadah bento yang bersekat-sekat?
Mengapa perumahan yang awalnya beragam, dalam hitungan dekade bisa pelan-pelan berubah warna menjadi didominasi satu kelompok tertentu saja?
Kita mungkin tergoda untuk menyalahkan rasisme, xenofobia, atau kesenjangan kelas sosial secara mutlak. Tentu saja, faktor-faktor sistemik itu nyata dan ada. Tetapi, ada satu eksperimen pemikiran klasik dari seorang pemenang Hadiah Nobel Ekonomi bernama Thomas Schelling yang akan memutarbalikkan logika kita.
Eksperimen ini mengungkap sebuah kebenaran matematis dan psikologis yang agak merinding. Sebuah rahasia kecil tentang bagaimana otak kita, tanpa niat jahat sedikit pun, justru menjadi arsitek utama dari segregasi kota.
Mari kita buka rahasianya. Thomas Schelling membuat sebuah model simulasi yang kini dikenal sebagai Schelling's model of segregation. Bayangkan sebuah papan catur raksasa yang diisi oleh koin tembaga dan koin perak yang dicampur secara acak.
Schelling memberikan satu aturan yang sangat sederhana dan terdengar sangat toleran: "Setiap koin tidak masalah hidup berdampingan dengan koin yang berbeda warna, asalkan setidaknya ada sepertiga tetangga di sekitarnya yang warnanya sama dengan dirinya."
Perhatikan baik-baik. Koin-koin ini tidak membenci perbedaan. Mereka bersedia 70% tetangganya berbeda, asalkan 30% sisanya sama. Ini adalah preferensi bias yang sangat kecil.
Lalu, simulasi dijalankan. Koin yang merasa tetangganya yang sama kurang dari 30% akan pindah ke kotak kosong lain. Apa yang terjadi setelah beberapa putaran? Papan catur yang awalnya membaur sempurna itu tiba-tiba terbelah menjadi kelompok-kelompok besar tembaga dan perak yang terpisah total.
Inilah big reveal-nya, teman-teman: Preferensi bias yang sangat mikroskopis di tingkat individu bisa menciptakan segregasi total di tingkat populasi.
Kita tidak perlu menjadi orang yang intoleran untuk menciptakan kota yang terkotak-kotak. Ketika seseorang pindah rumah hanya karena mencari lingkungan yang "sedikit lebih cocok" untuk anak-anaknya, atau ketika kita memilih kafe karena pengunjungnya "terlihat se-tipe", kita sedang menjalankan model Schelling.
Secara neurobiologis, ini adalah ulah amygdala kita, pusat alarm di otak yang mendeteksi ancaman. Berinteraksi terus-menerus dengan hal yang serba berbeda membutuhkan pemrosesan mental tingkat tinggi yang melelahkan. Akhirnya, otak kita mengambil jalan pintas: ia menuntun kita kembali ke kawanan yang serupa, demi menghemat bahan bakar mental.
Melihat fakta ilmiah ini, rasanya mudah untuk merasa pesimis. Seolah-olah kita dikutuk oleh biologi kita sendiri untuk terus hidup secara eksklusif dan mengelompok. Namun, narasi sains tidak pernah berhenti pada keputusasaan.
Jika amygdala adalah insting purba yang menarik kita pada kesamaan, kita juga memiliki prefrontal cortex. Ini adalah bagian otak paling modern, tempat bersemayamnya logika, fungsi eksekutif, dan tentu saja, empati. Bagian otak inilah yang membedakan kita dari sekadar koin-koin di papan catur Schelling.
Kita bisa meretas algoritma purba tersebut melalui niat yang disengaja. Membongkar segregasi di kota besar tidak selalu harus dimulai dengan kebijakan tata kota yang rumit. Ia bisa dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap hari.
Sesekali, mari kita sengaja berbelanja di pasar atau makan di tempat yang berada di luar zona nyaman demografi kita. Mari kita buka percakapan dengan tetangga atau rekan kerja yang gaya hidupnya 180 derajat berbeda dari kita. Dibutuhkan sedikit usaha ekstra dari otak kita memang, tetapi persinggungan-persinggungan kecil inilah yang perlahan akan meruntuhkan tembok tak kasat mata itu.
Karena pada akhirnya, kota yang hebat bukanlah kota yang mengizinkan warganya bersembunyi di balik kesamaan. Kota yang hebat adalah kota di mana orang-orangnya berani merasa sedikit tidak nyaman, demi menemukan keindahan dalam perbedaan.