psikologi rasa aman di lingkungan

efek jendela pecah atau broken windows theory

psikologi rasa aman di lingkungan
I

Pernahkah kita berjalan sendirian di sebuah gang pada sore hari? Di satu sisi, jalannya bersih. Cat temboknya rapi tanpa coretan. Ada pot tanaman yang tertata manis. Di situ, kita merasa aman dan santai. Di hari lain, kita lewat gang yang sama. Namun kali ini ada tumpukan sampah di pojok jalan. Sebuah lampu jalan berkedip mati. Tiba-tiba, detak jantung kita sedikit naik. Kita menggenggam tas lebih erat. Padahal, situasinya sama-sama sepi dan tidak ada siapa-siapa di sana. Kenapa perasaan kita bisa berubah drastis hanya karena sampah dan lampu mati? Bagaimana sebuah benda mati bisa mengontrol rasa aman kita? Mari kita bedah fenomena psikologis ini bersama.

II

Perasaan waswas yang kita alami tadi bukanlah sebuah bentuk ketakutan yang tidak beralasan. Ini adalah respons evolusioner. Para ilmuwan sudah meneliti hal ini sejak puluhan tahun lalu. Mari kita mundur sejenak ke tahun 1969. Seorang psikolog bernama Philip Zimbardo melakukan eksperimen yang terdengar iseng, namun sangat brilian. Ia memarkir dua mobil tanpa pelat nomor dengan kap mesin yang dibiarkan terbuka. Satu diletakkan di Bronx, kawasan yang saat itu cukup rawan di New York. Satu lagi di Palo Alto, California, kawasan elit yang tenang. Di Bronx, mobil itu habis dijarah hanya dalam sepuluh menit. Di Palo Alto, mobil itu utuh selama lebih dari seminggu. Orang-orang elit itu hanya lewat dan cuek. Sampai akhirnya, Zimbardo sendiri yang mengambil palu dan sengaja memukul kaca mobil itu. Tebak apa yang terjadi selanjutnya? Begitu mobil itu terlihat "terluka", warga Palo Alto yang tadinya sopan tiba-tiba ikut-ikutan menghancurkan mobil tersebut dalam hitungan jam.

III

Eksperimen palu dan mobil tadi akhirnya memicu lahirnya sebuah konsep epik. Pada tahun 1982, kriminolog George Kelling dan James Q. Wilson merumuskan apa yang kita kenal sebagai Broken Windows Theory atau Teori Jendela Pecah. Idenya sederhana. Jika ada satu jendela bangunan pecah dan dibiarkan begitu saja, tak lama kemudian jendela-jendela lain akan ikut dipecahkan orang. Namun, mari kita berpikir lebih kritis. Apakah manusia pada dasarnya memang punya insting perusak yang buas? Ataukah lingkungan fisik sedang membisikkan sesuatu ke alam bawah sadar kita? Kenapa satu kaca yang retak bisa membuat orang baik-baik merasa boleh merusak, membuang sampah sembarangan, atau berbuat jahat? Jawaban dari teka-teki aneh ini sebenarnya bersembunyi di balik tengkorak kepala kita sendiri.

IV

Mari kita lihat data ilmiahnya. Otak manusia adalah mesin pencari pola yang luar biasa sensitif. Saat kita melihat lingkungan yang berantakan, otak kita menangkap sebuah isyarat sosial yang kuat: di tempat ini tidak ada aturan, dan tidak ada yang peduli. Pada tahun 2008, seorang ilmuwan perilaku dari Belanda bernama Kees Keizer membuktikan hal ini lewat hard science. Ia menempelkan brosur di stang puluhan sepeda yang diparkir di dekat sebuah dinding. Saat dinding itu bersih dari coretan, hanya 33 persen orang yang membuang brosur itu sembarangan ke tanah. Namun, saat Keizer secara diam-diam mencoret-coret dinding itu dengan graffiti ilegal, jumlah orang yang membuang sampah sembarangan melonjak dua kali lipat menjadi 69 persen! Ini adalah penemuan yang mengejutkan. Ketidakteraturan ternyata sangat menular. Pelanggaran di satu hal (mencoret tembok) merusak kepatuhan pada aturan lain (membuang sampah pada tempatnya). Lingkungan yang kacau secara harfiah mematikan sistem rem di otak depan (prefrontal cortex) kita. Kita jadi berpikir secara otomatis, "Ah, lingkungan ini sudah rusak, aturan sudah tidak berlaku."

V

Mengetahui cara kerja otak ini, rasanya kita jadi lebih paham betapa rapuh dan berharganya rasa aman itu. Kita bukanlah makhluk yang jahat sejak lahir. Kita hanya terus-menerus merespons isyarat visual dari lingkungan. Rasa aman secara psikologis bukanlah sesuatu yang turun dari langit. Ia diciptakan dari hal-hal kecil yang terawat dan diperhatikan. Saat teman-teman menyapu halaman depan rumah, memungut botol plastik di jalanan kompleks, atau melaporkan lampu jalan yang mati, kita sebenarnya sedang melakukan sebuah intervensi psikologis tingkat tinggi. Kita sedang mengirimkan sinyal ke otak bawah sadar semua orang yang lewat: di sini ada yang peduli, di sini kita saling menjaga. Memperbaiki "jendela yang pecah" di sekitar kita bukan sekadar urusan kebersihan. Itu adalah cara paling nyata bagi kita untuk merawat empati, menjaga kewarasan kolektif, dan memeluk kembali rasa kemanusiaan kita.