psikologi pro-natalisme

cara negara membujuk warganya agar mau punya anak lagi

psikologi pro-natalisme
I

Pernahkah kita merasa kalau dunia ini rasanya sudah terlalu sesak? Selama puluhan tahun, kita dicekoki ketakutan soal ledakan populasi. Kita membayangkan bumi yang kehabisan makanan dan air. Namun, hari ini, mari kita bicarakan sebuah fakta ilmiah yang mungkin akan membuat teman-teman mengernyitkan dahi. Saat ini, banyak negara sedang panik. Bukan karena terlalu banyak manusia. Sebaliknya, mereka panik karena warga negaranya tiba-tiba berhenti berkembang biak. Fenomena ini dikenal dengan istilah global baby bust. Dari Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, hingga negara-negara di Eropa, grafik kelahiran terjun bebas. Hal ini memicu sebuah krisis baru. Tiba-tiba, pemerintah di berbagai negara berubah peran. Mereka kini berusaha keras menjadi "mak comblang" dan membujuk warganya agar mau punya anak lagi. Gerakan ini disebut pro-natalisme. Sayangnya, triliunan rupiah sudah dibakar, dan hasilnya nyaris nol. Mengapa bujukan negara ini selalu gagal?

II

Untuk memahami kegagalan ini, kita perlu melihat taktik apa saja yang dipakai oleh negara. Pendekatannya ternyata sangat bervariasi, dan kadang terasa seperti komedi gelap. Di Rusia, ada gelar kehormatan Mother Heroine bagi perempuan yang punya sepuluh anak atau lebih. Hadiahnya uang tunai miliaran rupiah. Di Jepang, pemerintah daerah sampai mensponsori aplikasi kencan berteknologi AI. Di Korea Selatan, negara membagikan tunjangan bulanan yang sangat besar untuk setiap bayi yang lahir. Logika pemerintah sebenarnya sederhana. Mereka berasumsi bahwa alasan orang tidak mau punya anak adalah masalah uang. Jadi, solusinya adalah menyiram warganya dengan uang. Dalam psikologi, ini disebut sebagai extrinsic motivation atau motivasi eksternal. Negara berharap bonus uang ini akan mengubah keputusan hidup warganya. Namun, data menunjukkan hal sebaliknya. Angka kelahiran tetap anjlok. Coba kita pikirkan sejenak. Jika uang memang solusinya, mengapa negara-negara paling kaya dengan tunjangan sosial terbaik justru memiliki angka kelahiran paling rendah? Ada sesuatu yang terlewat oleh para perumus kebijakan ini.

III

Sebenarnya, kepanikan demografis semacam ini bukanlah hal baru dalam sejarah. Kaisar Romawi, Augustus, pernah sangat pusing melihat kaum elit Roma malas punya anak. Ia lalu mengesahkan Lex Papia Poppaea, sebuah undang-undang yang memberi pajak tinggi bagi laki-laki lajang dan melarang mereka menerima warisan. Apakah hukum ini berhasil? Tidak. Orang Roma tetap mencari celah untuk menghindari pernikahan. Sejarah berulang, dan polanya selalu sama. Negara menekan, warga menghindar. Di sinilah sains dan psikologi mulai masuk untuk membongkar misteri ini. Ketika negara menawarkan uang untuk sebuah kehidupan baru, mereka sebenarnya sedang mengabaikan konsep psikologis bernama cognitive load atau beban kognitif. Otak modern kita setiap hari sudah dibombardir oleh stres pekerjaan, ancaman krisis iklim, hingga ketidakpastian masa depan. Saat otak berada dalam mode bertahan hidup (survival mode), sistem biologis dan psikologis kita secara natural akan menekan keinginan untuk bereproduksi. Namun, ada satu alasan psikologis yang jauh lebih kuat mengapa kampanye pro-natalisme ini selalu menjadi senjata makan tuan. Sebuah celah yang secara tidak sadar selalu dilanggar oleh pemerintah. Apakah itu?

IV

Inilah inti masalahnya: manusia bukan mesin penjual otomatis. Kita tidak bisa dimasukkan koin subsidi, lalu tiba-tiba mengeluarkan bayi. Kebijakan pro-natalisme sering kali memicu apa yang dalam psikologi disebut sebagai psychological reactance. Ini adalah reaksi penolakan alami dari otak kita ketika kita merasa kebebasan atau otonomi kita sedang diatur-atur oleh pihak luar. Ketika negara berkata, "Ayo beranak demi menyelamatkan ekonomi bangsa," otak kita secara tidak sadar menangkap pesan itu sebagai sebuah ancaman eksistensial. Kita merasa direduksi hanya menjadi pabrik pencetak tenaga kerja dan pembayar pajak. Membawa manusia baru ke dunia adalah keputusan yang sangat emosional, intim, dan terikat erat dengan identitas kita. Keputusan ini membutuhkan fondasi keamanan eksistensial. Keamanan ini tidak bisa dibeli dengan bonus uang tunai satu kali cair. Keamanan eksistensial berarti kita merasa yakin bahwa anak kita nanti akan menghirup udara yang bersih, memiliki waktu luang bersama orang tuanya, dan tidak perlu bekerja sampai mati hanya untuk bisa menyewa rumah. Negara gagal karena mereka mencoba membeli keputusan paling biologis dari manusia menggunakan bahasa transaksi ekonomi.

V

Pada akhirnya, fenomena turunnya angka kelahiran ini adalah cermin dari zaman kita sendiri. Keengganan untuk memiliki anak bukanlah sebuah keegoisan, seperti yang sering dituduhkan banyak politisi. Secara psikologis, ini justru bisa dilihat sebagai bentuk empati yang sangat rasional. Otak kita sedang merespons lingkungan yang terasa kurang aman untuk membesarkan manusia baru. Jadi, bagi teman-teman yang mungkin sedang dilema atau merasa tertekan oleh ekspektasi sosial untuk segera punya anak, tarik napas dalam-dalam. Perasaan ragu itu sangat valid dan didukung oleh cara kerja otak kita. Jika negara benar-benar ingin warganya memiliki anak, mereka harus berhenti memberikan suap. Mereka harus mulai membangun sebuah dunia di mana kita, secara sadar dan tanpa paksaan, merasa bahwa hari esok adalah tempat yang layak dan membahagiakan bagi seorang anak manusia. Sebab, kehidupan tidak bisa dipaksa lahir dari sekadar hitung-hitungan angka di atas kertas kebijakan.