psikologi megacity
apa yang terjadi pada otak manusia saat hidup berdesakan dengan 10 juta orang
Bayangkan kita sedang berada di gerbong kereta yang penuh sesak di jam sibuk, atau mungkin terjebak kemacetan di tengah lautan kendaraan. Kita bernapas dengan udara yang sama, bahu kita bersentuhan dengan orang tak dikenal. Ada jutaan orang di sekeliling kita, tetapi anehnya, kita justru sering merasa sangat sendirian. Kenapa bisa begitu? Mari kita bicarakan sesuatu yang sering luput dari perhatian kita sehari-hari. Kita akan membedah apa yang sebenarnya terjadi pada otak kita saat dipaksa hidup berdesakan dengan sepuluh juta manusia lainnya.
Sejarah mencatat bahwa selama ratusan ribu tahun, leluhur kita hidup dalam kelompok nomaden yang kecil. Kita didesain secara biologis untuk mengenali wajah, mengingat nama, dan memahami sifat dari kelompok yang isinya tidak lebih dari 150 orang. Di dunia sains, batasan kapasitas sosial ini dikenal dengan sebutan Dunbar's number. Pada dasarnya, otak kita adalah mesin peramal purba yang sangat canggih untuk ukuran padang sabana.
Namun hari ini, mesin purba tersebut harus memproses pemandangan yang sama sekali berbeda. Hutan beton, kilauan layar reklame, klakson yang bersahutan, dan ribuan wajah asing yang berlalu-lalang setiap detiknya. Secara teknis, otak kita sedang mengalami culture shock yang ekstrem. Saat kita melangkah keluar rumah di kota metropolitan, sistem saraf kita langsung dihujani miliaran bit informasi baru. Pertanyaannya, bagaimana cara otak kita bisa bertahan dari tsunami rangsangan yang tidak ada ujungnya ini?
Pernahkah teman-teman bertanya mengapa orang kota sering dianggap cuek, dingin, atau terburu-buru? Mengapa kita bisa berjalan melewati seseorang yang mengamen atau bahkan meminta tolong di pinggir jalan, seolah-olah mereka tidak kasatmata? Apakah tinggal di kota besar secara otomatis membuat empati kita mati?
Jawabannya sebenarnya murni berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri. Seorang psikolog bernama Stanley Milgram pernah mengajukan sebuah gagasan menarik yang disebut urban overload hypothesis. Otak kita ibarat komputer yang memori RAM-nya nyaris penuh. Karena ada terlalu banyak suara, wajah, dan ancaman potensial di jalanan, otak kita terpaksa melakukan penghematan energi besar-besaran. Kita mulai menyaring informasi. Kita menundukkan kepala, memakai earphone, dan menghindari kontak mata. Kita sama sekali tidak menjadi jahat, kita hanya sedang berusaha agar otak kita tidak kelebihan muatan.
Namun, mode bertahan hidup ini punya harga yang mahal. Berada dalam kewaspadaan konstan membuat kelenjar adrenal kita terus memompa kortisol, yakni hormon stres utama kita. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut setiap hari, apa dampaknya bagi arsitektur saraf kita secara permanen?
Inilah temuan hard science yang paling mengejutkan sekaligus membuat kita kagum. Pemindaian otak melalui mesin fMRI menunjukkan bahwa penduduk megacity memiliki amygdala yang jauh lebih reaktif dibandingkan orang yang tinggal di pedesaan. Amygdala adalah alarm internal kita, pusat pendeteksi ancaman utama di dalam otak. Artinya, secara default, orang yang hidup di kota besar selalu berada dalam posisi siaga satu. Otak kita secara diam-diam terus-menerus memindai bahaya di tengah kerumunan.
Tetapi tunggu dulu, mari kita lihat plot twist yang luar biasa ini. Meski alarm ancaman kita terus menyala, kita sebenarnya telah berevolusi menjadi makhluk yang sangat kooperatif. Pikirkanlah fakta ini sejenak. Kita percaya pada orang asing untuk menyetir kendaraan umum yang kita tumpangi. Kita memakan makanan yang dimasak oleh orang yang sama sekali tidak kita kenal. Kita berdiri dalam antrean panjang dengan tertib bersama ratusan wajah asing.
Otak kita mungkin kewalahan, tetapi secara bersamaan, ia berhasil menciptakan tingkat toleransi sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peradaban manusia. Kita berhasil menemukan cara untuk mempercayai ribuan orang yang berada jauh di luar batasan Dunbar's number kita. Ini bukan sekadar tentang stres perkotaan, ini adalah keajaiban adaptasi neurologis.
Memahami apa yang terjadi pada otak kita di tengah megacity seharusnya membuat kita menjadi lebih welas asih. Baik kepada diri kita sendiri, maupun kepada orang-orang di sekitar kita. Sangat wajar jika sepulang kerja kita merasa sangat kelelahan, padahal kita hanya duduk di depan meja seharian. Otak kita baru saja selesai bekerja keras memproses jutaan variabel asing di jalanan. Sangat wajar juga jika kita kadang merasa hampa di tengah keramaian sepuluh juta orang. Secara kodrati, otak purba kita memang merindukan komunitas kecil yang saling peduli secara intim.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak perlu berkemas dan kabur ke hutan untuk menemukan kedamaian. Kita hanya perlu secara sadar membangun "desa kecil" kita sendiri di tengah kota raksasa ini. Temukanlah lingkaran pertemanan yang bermakna. Beranikan diri menyapa tetangga sebelah pintu. Sering-seringlah berjalan di taman dan menyentuh pepohonan untuk menenangkan amygdala kita yang kelelahan. Kita semua saat ini memang sedang hidup di dalam eksperimen psikologis terbesar sepanjang sejarah manusia. Namun, dengan sedikit kesadaran dan empati yang kita rawat sama-sama, kita selalu bisa membuat hutan beton yang dingin ini terasa sedikit lebih hangat, dan menyerupai rumah.