psikologi ketakutan akan pendatang

sains di balik xenofobia dan cara mengatasinya

psikologi ketakutan akan pendatang
I

Pernahkah kita merasa tiba-tiba waswas saat berada di lingkungan baru, dikelilingi orang-orang yang wajah, cara berpakaian, dan bahasanya tidak familier? Saya rasa kita semua pernah mengalaminya. Mari kita bermain imajinasi dan mundur ke puluhan ribu tahun yang lalu. Bayangkan kita sedang duduk mengelilingi api unggun bersama klan kita di mulut sebuah gua. Tiba-tiba, dari balik bukit, sekelompok manusia tak dikenal datang mendekat. Bau mereka berbeda. Senjata mereka berbeda. Kira-kira, apa reaksi pertama leluhur kita? Apakah mereka berlari untuk memeluk tamu tersebut? Tentu tidak. Reaksi pertama mereka adalah curiga dan bersiap memegang tombak. Ini bukan karena leluhur kita jahat. Ini adalah insting dasar yang membuat ras manusia berhasil bertahan hidup dan tidak punah dimakan sejarah. Tapi pertanyaannya, kenapa insting purba ini masih sering membajak otak kita di zaman modern, dan wujudnya menjelma menjadi sesuatu yang hari ini kita kenal sebagai xenophobia atau ketakutan pada pendatang?

II

Untuk menjawabnya, kita perlu mengintip ke dalam mesin yang ada di balik tengkorak kita. Di pusat otak kita, ada sebuah struktur kecil sebesar kacang almond yang bernama amygdala. Ini adalah sistem alarm tubuh kita yang sangat purba. Saat mata kita menangkap visual "orang asing", amygdala kita langsung menyala terang benderang. Otak secara otomatis memproses wajah yang tidak familier tersebut sebagai potensi ancaman. Hitungannya bukan detik, tapi milidetik. Sains evolusioner menyebut kecenderungan ini sebagai in-group bias. Secara biologis, kita memang diprogram untuk menyukai, mengistimewakan, dan melindungi kelompok kita sendiri. Ini sistem keamanan yang brilian untuk kehidupan di zaman batu. Masalahnya, kita tidak lagi hidup di padang sabana. Kita hidup di era globalisasi di mana manusia bisa berpindah benua hanya dalam belasan jam. Sayangnya, biologi berevolusi sangat lambat. Otak kita belum menerima update software terbaru. Akibatnya, kita sering menggunakan otak manusia gua untuk menavigasi dunia modern yang sudah sangat kompleks ini.

III

Lalu, apakah ini berarti xenophobia bisa dibenarkan begitu saja karena ia bersifat "alamiah"? Tunggu dulu. Di sinilah persilangan antara sejarah dan psikologi menjadi sangat menarik untuk kita bedah. Kalau kita jeli melihat catatan peradaban, ketakutan pada pendatang itu tidak selalu konstan. Ia bergerak naik turun seperti rollercoaster. Kapan biasanya rasa waswas ini meledak menjadi kebencian massal? Jawabannya sederhana: saat sumber daya menipis. Saat ekonomi sedang sulit, saat terjadi gagal panen, atau saat ada pandemi penyakit. Ketika stres lingkungan meningkat, otak kita yang tadinya hanya sekadar curiga, tiba-tiba masuk ke mode bertahan hidup ekstrem. Secara psikologis, kita mulai putus asa mencari kambing hitam. Muncul narasi seperti, "Mereka mengambil pekerjaan kita," atau "Mereka membawa penyakit kotor ke sini." Terdengar familier, bukan? Pola psikologis ini berulang dari zaman kejatuhan Kekaisaran Romawi, era wabah Black Death di Eropa, hingga krisis migran di masa modern hari ini. Tapi, kalau amygdala kita begitu reaktif dan kondisi ekonomi begitu mudah memicu ketakutan, apakah kita terjebak dalam siklus kebencian ini selamanya? Bagaimana caranya kita meretas sistem pertahanan purba kita sendiri?

IV

Jawaban rahasianya terletak pada satu fenomena psikologis luar biasa yang dikenal sebagai contact hypothesis atau hipotesis kontak. Pada pertengahan abad ke-20, seorang psikolog bernama Gordon Allport menemukan sebuah fakta yang mengubah cara sains memandang prasangka. Allport membuktikan bahwa musuh terbesar dari xenophobia bukanlah kampanye politik atau ceramah moral yang panjang lebar. Musuh terbesar ketakutan adalah perjumpaan. Ketika kita dipaksa bekerja sama, makan di meja yang sama, atau sekadar bertukar sapa dengan "si pendatang", sebuah keajaiban neurologis terjadi di dalam kepala kita. Otak kita memiliki kemampuan luar biasa yang bernama neuroplasticity, alias kemampuan untuk berubah dan membentuk jalur saraf yang baru. Perlahan namun pasti, amygdala kita berhenti membunyikan alarm bahaya. Otak mulai melihat si pendatang bukan lagi sebagai ancaman dari kelompok luar, melainkan sebagai individu. Otak kita kemudian memproduksi oxytocin, hormon yang memicu rasa percaya dan ikatan emosional. Kita tiba-tiba sadar bahwa mereka juga tertawa pada lelucon receh yang sama, menangisi kehilangan yang sama, dan sama-sama pusing memikirkan masa depan anak-anak mereka. Ternyata, selain diprogram untuk takut, otak kita juga diprogram secara biologis untuk memiliki empati.

V

Pada akhirnya, merasa sedikit waswas terhadap sesuatu yang asing memang bagian dari desain biologis kita. Itu wajar. Kita tidak perlu merasa menjadi manusia terburuk di bumi hanya karena insting itu muncul. Tapi, membiarkan kewaspadaan itu tumbuh liar menjadi kebencian adalah sebuah pilihan. Kita bukan lagi sekumpulan kera tak berbulu yang harus memperebutkan satu-satunya pohon apel di padang rumput. Teman-teman, sains telah membuktikan bahwa kita memiliki struktur otak bagian depan, prefrontal cortex, yang membuat kita mampu berpikir logis dan melampaui insting purba kita sendiri. Lain kali kita merasa tidak nyaman dengan kehadiran sekelompok orang dari latar belakang yang berbeda, ingatlah bahwa itu hanyalah amygdala kita yang sedang kebingungan dan butuh waktu untuk adaptasi. Tarik napas yang panjang. Beranikan diri untuk mengangguk, tersenyum, atau bahkan menawarkan obrolan singkat. Di balik setiap wajah asing yang ditakuti oleh otak purba kita, selalu ada sebuah cerita manusia yang menunggu untuk dipahami. Mari kita gunakan kecerdasan kita untuk membangun jembatan, bukan tembok. Karena justru di dalam empati itulah, letak evolusi ras manusia yang sesungguhnya.