psikologi kesepian di kota padat
mengapa kita merasa sendiri di tengah ribuan orang
Pernahkah kita berdiri berdesakan di gerbong KRL saat jam sibuk? Bahu kita bersentuhan dengan bahu orang lain. Helaan napas seseorang terasa di dekat telinga kita. Secara fisik, jarak kita dengan puluhan manusia lain bahkan tidak sampai satu jengkal. Tapi anehnya, di saat yang sama, kita menatap layar ponsel dan merasa sangat sendirian. Ini adalah salah satu ironi paling puitis sekaligus paling menyedihkan dari kehidupan modern. Ribuan manusia tumpah ruah di jalanan, di mal, di stasiun. Namun, ada tembok tak kasat mata yang membuat kita merasa terisolasi. Kesepian di tengah keramaian bukan sekadar perasaan melankolis biasa. Ini adalah sebuah teguran keras dari biologi kita sendiri.
Mari kita tarik mundur waktu jauh ke masa lalu. Secara evolusi, otak yang kita pakai hari ini masih sama persis dengan otak nenek moyang kita para pemburu-pengumpul. Dulu, manusia hidup dalam kelompok nomaden yang kecil. Antropolog asal Inggris, Robin Dunbar, menemukan sebuah konsep yang kini dikenal sebagai Dunbar’s number. Ia menyimpulkan bahwa otak manusia secara kognitif hanya sanggup memelihara hubungan sosial yang stabil dengan maksimal 150 orang. Di masa itu, kebersamaan adalah masalah hidup dan mati. Kalau kita terasing dari kelompok, kita akan kelaparan atau dimakan predator. Lalu, sejarah bergerak maju. Revolusi industri terjadi. Kita membangun kota-kota raksasa berpenduduk jutaan jiwa. Logika awalnya sederhana: makin banyak orang, makin aman, makin hangat kehidupan sosial kita. Namun, sejarah membuktikan sebaliknya. Kota justru berevolusi menjadi mesin raksasa pembuat jarak.
Masalahnya, perangkat keras di kepala kita belum pernah di-update sejak zaman batu. Bayangkan apa yang terjadi ketika kita berjalan di trotoar Sudirman dan berpapasan dengan ratusan wajah asing dalam waktu sepuluh menit. Kenapa kita tidak menyapa mereka? Kenapa melempar senyum saja kadang terasa canggung atau bahkan mencurigakan? Ada sebuah fenomena psikologis rumit yang sedang terjadi di balik tengkorak kita saat itu. Sebuah alarm evolusioner berdering kencang, tapi anehnya ia berbunyi karena alasan yang sangat salah. Otak kita seolah menghadapi sebuah teka-teki lingkungan yang gagal ia pecahkan. Mengapa melihat ribuan wajah sesama manusia justru membuat kita merasa kosong? Apa sebenarnya yang "rusak" di dalam cara kita berinteraksi di kota besar?
Jawabannya tersembunyi pada apa yang oleh para ahli psikologi lingkungan disebut sebagai stimulus overload. Pada tahun 1970-an, psikolog Stanley Milgram mengamati kehidupan warga New York dan menemukan sebuah fakta memukau. Ia menyimpulkan bahwa warga kota besar memblokir interaksi sosial murni sebagai mekanisme pertahanan otak. Lingkungan kota menembakkan terlalu banyak informasi: suara klakson, lampu neon, bau jalanan, dan tentu saja, ribuan wajah. Karena otak kita tidak sanggup memproses semuanya, kita mengambil jalan pintas. Kita mematikan sakelar empati untuk sementara waktu. Kita memakai earphone. Kita menunduk menatap layar. Kita mengubah manusia lain menjadi sekadar "benda bergerak" agar kita tidak kelelahan secara mental.
Secara neurosains, ini berdampak fatal. Ada perbedaan besar antara kepadatan (density) dan rasa sesak (crowding). Kepadatan adalah hitungan matematika tentang jumlah orang di suatu area. Namun rasa sesak adalah stres psikologis akibat hilangnya kendali atas ruang personal kita. Saat kita dikelilingi ribuan orang asing yang tidak mempedulikan kita, amigdala di otak—pusat rasa takut kita—mulai merespons. Otak membaca situasi "banyak orang tapi tidak ada ikatan sosial" ini sebagai ancaman kelangsungan hidup. Tubuh kita lalu memompa hormon stres kortisol. Kita masuk ke mode hyper-vigilance atau siaga tinggi. Inilah alasan ilmiahnya: fisik kita berdempetan, tapi secara neurologis, otak kita merasa sedang tersesat sendirian di padang gurun yang penuh dengan predator cuek.
Jadi, kalau belakangan ini teman-teman duduk di kafe yang ramai namun dada terasa hampa, ketahuilah bahwa kalian tidak aneh. Kita tidak sedang menjadi antisosial. Otak kita sama sekali tidak rusak. Ia hanya sedang kebingungan dan kelelahan beradaptasi dengan dunia beton yang bergerak terlalu cepat.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan bersama? Kita tentu tidak mungkin membakar kartu identitas kita lalu kembali hidup di gua. Jawabannya justru ada pada hal-hal yang sangat kecil: interaksi mikro. Manusia secara biologis dirancang untuk terhubung. Sekadar tersenyum pada barista yang membuatkan kopi kita. Mengucapkan terima kasih sambil menatap mata driver ojek online walau hanya dua detik. Interaksi singkat tanpa beban ini adalah peretas biologi. Hal-hal kecil ini mengirim sinyal ke otak bahwa kita masih bagian dari sebuah "suku". Kadang, di tengah lautan manusia yang seolah tak peduli, yang kita butuhkan untuk merasa hidup hanyalah satu sapaan hangat sekilas. Sebuah bukti sederhana bahwa kita sungguh ada, dan kita tidak sendirian.