psikologi identitas nasional

apa yang membuat kita merasa menjadi bagian dari satu negara

psikologi identitas nasional
I

Pernahkah kita tiba-tiba merasa begitu emosional saat menonton pertandingan bulutangkis?

Bayangkan momen ini. Pemain kebanggaan kita mencetak poin penentu. Bendera merah putih berkibar. Lagu Indonesia Raya berkumandang di arena. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, bulu kuduk kita merinding. Mata kita berkaca-kaca.

Pernahkah kita berhenti sejenak dan memikirkan betapa anehnya hal itu?

Kita sedang menangisi pencapaian seseorang yang bahkan tidak kita kenal secara personal. Kita merasa sangat terhubung dengan jutaan orang asing di warung kopi, di ruang tamu, atau di linimasa media sosial, hanya karena satu hal: kita lahir dan hidup di bawah nama negara yang sama.

Bagaimana mungkin otak kita bisa merasakan ikatan batin yang begitu kuat dengan orang-orang yang wajahnya saja belum pernah kita lihat? Mari kita bedah misteri ini bersama-sama, karena jawabannya jauh lebih menakjubkan dari sekadar pelajaran PPKn di sekolah.

II

Untuk memahami keanehan ini, kita harus mundur sedikit ke masa lalu. Jauh ke masa lalu.

Secara evolusioner, otak manusia purba kita sebenarnya dirancang hanya untuk peduli pada kelompok kecil. Ada konsep psikologi evolusioner bernama Dunbar's Number. Konsep ini menyebutkan bahwa otak manusia secara kognitif hanya mampu mengelola hubungan sosial yang stabil dengan maksimal 150 orang. Itu saja.

Lebih dari 150 orang, otak kita mulai kewalahan. Otak kita kesulitan membedakan mana kawan dan mana ancaman.

Lalu, bagaimana caranya kita—spesies yang secara biologis dirancang untuk hidup dalam suku-suku kecil—bisa merasa menjadi satu keluarga besar bernama Indonesia, yang jumlahnya mencapai 270 juta jiwa?

Seorang sejarawan bernama Benedict Anderson punya jawaban yang brilian. Ia menyebut negara sebagai imagined communities atau komunitas yang terbayang. Kita tidak akan pernah bertemu dengan sebagian besar rakyat Indonesia lainnya. Namun, di dalam pikiran kita masing-masing, ada bayangan yang hidup tentang kebersamaan kita.

Untuk melampaui batas biologis 150 orang tadi, nenek moyang kita menciptakan sebuah "retasan" atau hack untuk otak kita. Retasan itu bernama simbol dan cerita.

III

Namun, cerita dan simbol saja tidak cukup untuk mengikat emosi yang kuat. Di sinilah sains yang lebih keras ikut campur tangan.

Dalam psikologi, ada yang namanya Social Identity Theory yang dicetuskan oleh Henri Tajfel. Teorinya sederhana: manusia memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki atau sense of belonging. Kita mengidentifikasi diri kita berdasarkan kelompok kita. "Saya orang Indonesia", "Saya penggemar bola", atau "Saya anak senja".

Ketika kita masuk ke dalam sebuah kelompok, otak kita melakukan sesuatu yang menarik. Otak mulai memproduksi hormon oksitosin.

Oksitosin sering disebut sebagai hormon cinta. Hormon inilah yang membuat seorang ibu terikat dengan bayinya. Namun, dalam konteks sosial, oksitosin bertindak sebagai perekat kelompok. Hormon ini menumbuhkan rasa percaya, empati, dan keberanian untuk berkorban demi orang-orang yang memiliki identitas yang sama dengan kita. Inilah alasan ilmiah mengapa ada orang yang rela mengorbankan nyawa demi negaranya.

Tetapi, tahan dulu. Hormon ini punya sisi gelap yang sering kali luput dari perhatian kita.

Oksitosin memang membuat kita sangat mencintai kelompok kita (ingroup). Sayangnya, hormon yang sama juga bisa membuat kita lebih curiga dan agresif terhadap kelompok lain (outgroup). Ini adalah fondasi psikologis dari mengapa nasionalisme bisa berubah menjadi rasisme atau peperangan antarnegara jika tidak dijaga dengan nalar.

Otak kita, teman-teman, sedang bermain dengan pedang bermata dua.

IV

Sekarang, mari kita satukan kepingan-kepingan teka-teki ini.

Jika otak kita hanya muat untuk 150 orang, dan negara hanyalah sebuah komunitas yang dibayangkan, apa yang sebenarnya membuat kita merasa menjadi bagian dari Indonesia?

Inilah realitas terbesarnya: identitas nasional kita sebenarnya adalah ilusi kognitif bersama.

Negara bukanlah entitas fisik seperti gunung atau sungai. Negara tidak tertulis dalam untaian DNA kita. Identitas nasional murni adalah fiksi fungsional. Tapi, jangan salah sangka. Fiksi ini bukanlah kebohongan. Ini adalah mahakarya psikologis terbesar yang pernah diciptakan manusia.

Kita bisa bersatu dari Sabang sampai Merauke karena kita sepakat untuk mempercayai satu narasi besar yang sama.

Sumpah Pemuda pada tahun 1928 bukanlah sekadar peristiwa politik. Dari kacamata psikologi, itu adalah momen mass storytelling atau penceritaan massal yang paling sukses dalam sejarah kita. Di titik itulah, sekelompok orang memutuskan untuk menipu batas biologis otak mereka, menggunakan bahasa dan cita-cita yang sama, untuk menciptakan ikatan emosional buatan yang akhirnya menjadi nyata.

V

Pada akhirnya, menyadari bahwa identitas nasional adalah sebuah konstruksi psikologis seharusnya tidak membuat kita kehilangan rasa cinta pada negara. Sebaliknya, hal ini justru membuat kita lebih berempati.

Menjadi bagian dari satu negara berarti kita secara aktif dan sadar memilih untuk peduli pada jutaan orang asing setiap harinya. Kita memilih untuk percaya bahwa saudara kita di Papua, di Aceh, atau di pulau-pulau kecil, memiliki nilai hidup yang sama pentingnya dengan keluarga kita sendiri di rumah.

Identitas nasional bukanlah sesuatu yang kita terima begitu saja dan diam tak bergerak. Ia adalah taman yang harus terus dirawat oleh setiap generasinya. Kalau ceritanya berhenti kita ceritakan, atau kalau kita mulai kehilangan empati pada sesama tokoh dalam cerita ini, maka fiksi kebangsaan itu akan pelan-pelan runtuh.

Jadi, ketika nanti teman-teman melihat bendera berkibar atau mendengar lagu kebangsaan diputar, dan bulu kuduk kembali merinding, nikmatilah momen itu. Itulah bukti bahwa di dalam kepala kita yang kecil ini, ada ruang yang cukup besar untuk mencintai ratusan juta manusia lainnya.

Bukankah itu sebuah cerita yang sangat indah untuk terus kita hidupkan?