demografi dan kriminalitas

analisis kaitan antara struktur umur pemuda dan angka kejahatan

demografi dan kriminalitas
I

Pernahkah kita berjalan sendirian di jalanan yang sepi pada malam hari, lalu dari kejauhan terlihat sekelompok pria muda sedang berkumpul? Secara instingtif, detak jantung kita mungkin akan sedikit mempercepat. Kita menggenggam tas lebih erat atau mencari jalan memutar. Bandingkan jika yang berkumpul di ujung jalan itu adalah sekelompok kakek-kakek yang sedang main catur. Tentu perasaan kita jauh lebih tenang, bukan?

Ketakutan kita tadi sering kali dianggap sekadar prasangka. Namun, bagaimana jika saya beritahu bahwa insting purba kita itu sebenarnya berakar pada sebuah fakta statistik yang sangat dingin?

Mari kita lihat sejarah sejenak. Jika kita mengamati grafik tingkat kejahatan kekerasan di hampir seluruh dunia—dari Amerika Serikat di era 1980-an, Eropa setelah Revolusi Industri, hingga berbagai negara berkembang saat ini—ada satu pola konstan yang selalu muncul. Pelaku utama sekaligus korban utama dari kekerasan jalanan dan kriminalitas bukanlah orang miskin secara absolut, bukan pula kelompok ras tertentu. Pelakunya selalu satu kelompok demografi yang sama: laki-laki berusia antara 15 hingga 29 tahun.

Ini memunculkan sebuah teka-teki yang sangat menarik untuk kita pecahkan bersama. Apakah para pemuda ini pada dasarnya memang "jahat"? Ataukah ada kekuatan lain yang jauh lebih besar, tak kasat mata, yang sedang mengendalikan mereka?

II

Untuk menjawabnya, kita harus membedah isi kepala mereka terlebih dahulu. Teman-teman, mari kita berkenalan dengan bagian otak yang bernama prefrontal cortex. Ini adalah pusat kendali rasionalitas, penimbang risiko, dan rem cakram bagi impulsivitas kita.

Masalahnya, sains modern menunjukkan bahwa prefrontal cortex manusia—terutama laki-laki—baru benar-benar matang di usia 25 tahun. Di sisi lain, pada rentang usia belasan hingga awal dua puluhan, tubuh mereka sedang dibanjiri oleh hormon testosterone tingkat tinggi. Hormon ini menuntut pengakuan, status, dan dominasi.

Bayangkan sebuah mobil sport dengan mesin jet yang pedal gasnya diinjak penuh, tetapi remnya masih terbuat dari karet tipis. Itulah otak seorang pemuda. Secara psikologis dan evolusioner, mereka memang didesain untuk mengambil risiko. Di zaman purba, keberanian mengambil risiko inilah yang membuat mereka berani berburu mamut atau menjelajah benua baru.

Namun, mari kita mainkan skala matematikanya. Bayangkan jika "mobil sport tanpa rem" ini tidak hanya berjumlah sepuluh atau seratus orang di sebuah kota. Bagaimana jika sebuah negara mengalami lonjakan angka kelahiran, lalu dua dekade kemudian, tiba-tiba populasi negara tersebut didominasi oleh jutaan pemuda berusia 15-29 tahun?

Dalam ilmu demografi, fenomena ini punya nama yang terdengar keren sekaligus menakutkan: youth bulge atau lonjakan populasi pemuda.

III

Sekarang, mari kita buka buku sejarah dunia. Teman-teman akan takjub melihat betapa youth bulge sering kali menjadi sutradara tersembunyi di balik berbagai peristiwa berdarah.

Ingat era Wild West di Amerika yang penuh dengan koboi saling tembak? Itu terjadi ketika populasi pria muda lajang membeludak di garis perbatasan. Bagaimana dengan revolusi Arab Spring di Timur Tengah pada awal 2010-an? Sebelum protes meledak, para ahli demografi sudah memperingatkan bahwa negara-negara tersebut sedang mengalami puncak youth bulge tertinggi dalam sejarah mereka.

Bahkan, turunnya angka kejahatan secara drastis di Amerika Serikat pada akhir 1990-an sering kali dikaitkan bukan hanya karena polisi yang lebih hebat, tetapi karena generasi Baby Boomers (yang sempat membuat kekacauan di tahun 60-an dan 70-an) akhirnya menua. Mereka berhenti merampok karena pinggang mereka mulai encok.

Di titik ini, kita mungkin mulai menyimpulkan sesuatu yang agak pesimis. Jika kita percaya bahwa struktur usia pemuda yang besar sama dengan tingginya kriminalitas, lalu bagaimana nasib negara kita? Indonesia saat ini sedang berada tepat di tengah bonus demografi. Jumlah pemuda kita sedang banyak-banyaknya.

Apakah ini berarti kita sedang duduk di atas bom waktu yang siap meledak menjadi gelombang kriminalitas masif? Tahan dulu. Ceritanya belum selesai, dan ada satu kepingan puzzle yang sengaja saya simpan.

IV

Inilah rahasia terbesarnya: biologi dan demografi bukanlah takdir mutlak, melainkan sekadar bahan bakar. Jutaan pemuda dengan testosterone tinggi hanyalah sebuah tumpukan mesiu. Mesiu tidak akan meledak tanpa adanya percikan api.

Lalu, apa percikan apinya? Jawabannya adalah pengangguran dan hilangnya harapan.

Mari kita kembali ke psikologi pemuda tadi. Seorang laki-laki muda secara biologis memiliki dorongan kuat untuk meraih status di mata masyarakat dan pasangannya. Dalam masyarakat modern, cara normal untuk mendapatkan status itu adalah dengan lulus sekolah, mendapat pekerjaan bergaji layak, membeli kendaraan, dan menikah.

Namun, apa yang terjadi ketika struktur demografi yang bengkak ini berbenturan dengan ekonomi yang stagnan? Pekerjaan tidak ada. Kesempatan untuk naik kelas sosial tertutup rapat. Mereka mengalami apa yang dalam psikologi sosial disebut sebagai relative deprivation—perasaan bahwa mereka berhak mendapatkan sesuatu yang lebih baik, tetapi sistem mencuranginya.

Ketika jalur legal untuk mendapatkan status itu diblokir oleh keadaan, energi yang meluap-luap tadi tidak menghilang. Energi itu akan mencari jalan keluar yang lain. Jika mereka tidak bisa mendapat kehormatan dengan menjadi karyawan teladan, mereka akan mencari kehormatan di sirkuit balap liar, di geng motor, dalam tawuran jalanan, atau di sindikat kejahatan. Bagi seorang pemuda yang merasa tidak punya masa depan, ditakuti jauh lebih baik daripada diabaikan.

V

Pada akhirnya, memahami kaitan antara demografi dan kriminalitas seharusnya mengubah cara pandang kita. Ya, fakta ilmiah menunjukkan bahwa lonjakan populasi pemuda memang membawa risiko instabilitas dan kejahatan. Namun, ini bukan alasan untuk menstigmatisasi atau membenci anak-anak muda kita.

Justru, ini adalah tamparan keras bagi kita semua sebagai sebuah sistem masyarakat. Ketika kita melihat berita tentang meningkatnya angka begal, tawuran, atau kejahatan jalanan, kita sedang melihat gejala dari penyakit yang lebih dalam. Kita sedang melihat energi besar yang gagal dikelola oleh negara.

Bagi kita, ini adalah undangan untuk berpikir lebih empatik dan kritis. Bonus demografi bisa menjadi berkah ekonomi yang luar biasa, atau bisa menjadi kutukan kriminalitas yang mengerikan. Semuanya tergantung pada satu pertanyaan sederhana: apakah kita menyediakan ruang yang cukup bagi mereka untuk bertumbuh, bekerja, dan bermimpi?

Karena jika kita tidak memberi para pemuda ini alat untuk membangun masa depan, sejarah telah membuktikan... mereka punya cukup tenaga untuk menghancurkannya.