The Long Now Foundation

membangun jam 10 ribu tahun dan perpustakaan abadi

The Long Now Foundation
I

Pernahkah kita merasa waktu berjalan terlalu cepat akhir-akhir ini?

Kita bangun tidur, mengecek notifikasi ponsel, menelusuri video pendek berdurasi lima belas detik, lalu tiba-tiba hari sudah malam. Besoknya, siklus ini berulang. Perhatian kita tersedot pada apa yang sedang trending hari ini, jam ini, atau bahkan detik ini.

Mari kita jeda sebentar. Ambil napas panjang.

Pernahkah kita mencoba membayangkan apa yang akan terjadi seratus tahun dari sekarang? Atau, mari tarik lebih ekstrem lagi. Bagaimana dengan sepuluh ribu tahun dari sekarang? Bayangkan sebuah jam raksasa. Jam ini tidak melingkar di pergelangan tangan kita. Ia bersembunyi jauh di dalam perut sebuah gunung, berdetak dengan sangat, sangat lambat. Jarum detiknya tidak bergerak setiap detik, melainkan satu tahun sekali.

Terdengar seperti fiksi ilmiah, bukan? Tapi ini bukan fiksi. Sesuatu yang sangat besar dan sunyi sedang dibangun saat kita sedang sibuk menggulir layar ponsel hari ini.

II

Secara psikologis, otak manusia memang tidak dirancang untuk memikirkan masa depan yang terlalu jauh.

Leluhur kita di padang sabana harus fokus pada short-term survival. Memikirkan cara lari dari kejaran predator atau mencari makan untuk hari ini jauh lebih penting daripada memikirkan nasib anak cucu seribu tahun ke depan. Insting ini masih melekat kuat di DNA kita.

Namun, sejarah peradaban sering kali memberi pelajaran pahit. Banyak imperium besar runtuh karena para pemimpinnya terjebak pada pemikiran jangka pendek. Mereka menebang semua pohon tanpa menanam kembali, atau menguras sumber daya demi ambisi sesaat.

Sekarang, coba kita lihat dunia modern. Kita hidup di era short-termism. Kesuksesan bisnis diukur dari laporan laba per kuartal. Kebijakan negara sering kali hanya berumur sepanjang masa jabatan lima tahunan pemilu. Kita seolah kehilangan kemampuan untuk memikirkan dampak jangka panjang.

Kecemasan akan hal inilah yang membuat sekelompok ilmuwan, insinyur, dan pemikir eksentrik berkumpul. Mereka sadar, jika kita tidak mulai mengubah cara pandang kita terhadap waktu, peradaban kita bisa berada dalam bahaya. Mereka memutuskan bahwa umat manusia membutuhkan sebuah simbol fisik. Sebuah intervensi psikologis berskala epik.

III

Bayangkan sebuah lokasi terpencil di gurun Texas bagian barat.

Di sana, di bawah tanah pegunungan kapur yang tandus, sebuah lorong vertikal sedalam ratusan meter telah digali. Di dalam poros gelap ini, sebuah mesin mekanik raksasa yang terbuat dari titanium, keramik, dan stainless steel sedang dirakit perlahan-lahan.

Syarat pembuatan mesin ini sungguh tidak masuk akal. Ia tidak boleh menggunakan listrik dari PLN. Ia tidak boleh memakai baterai lithium yang akan rusak dalam hitungan dekade. Ia harus bisa merawat dirinya sendiri, bertahan dari gempa bumi, perubahan iklim, hingga potensi pencurian oleh manusia di masa depan.

Di belahan dunia lain, kelompok yang sama juga membuat sebuah cakram kecil seukuran telapak tangan yang terbuat dari nikel murni. Jika kita melihatnya di bawah mikroskop, kita akan menemukan ribuan halaman teks berisi lebih dari seribu bahasa manusia yang dipahat secara mikro. Sebuah perpustakaan abadi yang anti-api dan anti-air.

Pertanyaannya, untuk siapa semua ini dibangun? Siapa yang mau bersusah payah merakit mesin dan perpustakaan yang baru akan membuktikan keberhasilannya saat nama kita semua sudah lama terlupakan dari sejarah?

IV

Inilah saatnya kita berkenalan dengan The Long Now Foundation.

Yayasan ini didirikan pada tahun 1996 oleh tokoh-tokoh visioner, salah satunya adalah Stewart Brand dan ahli komputer Danny Hillis. Misi mereka sederhana namun berani: mempromosikan pemikiran jangka panjang dan menjadikan memikirkan masa depan sebagai sesuatu yang lumrah.

Mesin raksasa di dalam gunung itu adalah The 10,000 Year Clock (Jam Sepuluh Ribu Tahun). Ini adalah mahakarya hard science dan teknik mekanik tingkat tinggi. Bagaimana ia bisa menyala tanpa listrik? Jam ini ditenagai oleh perbedaan suhu antara siang dan malam (thermal cycles). Panas matahari di puncak gunung diubah menjadi tenaga mekanik yang memutar beban seberat ribuan pon.

Agar komponennya tidak aus karena gesekan selama ribuan tahun, bantalan engselnya tidak memakai logam, melainkan batu safir buatan. Jam ini berdetak sekali setahun. Jarum abadnya bergerak setiap seratus tahun. Dan sebuah burung kukuk mekanik akan keluar setiap satu milenium.

Mengapa sepuluh ribu tahun? Angka ini tidak dipilih sembarangan. Secara historis, sepuluh ribu tahun yang lalu adalah momen ketika manusia pertama kali menemukan sistem pertanian. Saat itu peradaban baru saja dimulai. Jam ini dibangun untuk mengukur usia peradaban kita sepuluh ribu tahun ke depan.

Lalu, cakram nikel berisi ribuan bahasa itu adalah The Rosetta Project. Secara linguistik, ratusan bahasa manusia mati setiap tahunnya. Proyek ini adalah semacam backup data peradaban. Jika suatu saat peradaban kita mengalami kehancuran parah, generasi manusia di masa depan (atau siapa pun yang menemukannya) memiliki panduan untuk meretas kembali bahasa dan sejarah umat manusia purba—yaitu kita.

V

Mungkin teman-teman berpikir, untuk apa menghabiskan puluhan juta dolar demi jam raksasa yang tidak ada gunanya untuk kehidupan kita sekarang?

Itulah letak kejeniusan psikologisnya. Jam ini bukan sekadar alat penunjuk waktu. Ia adalah sebuah monumen. Di masa lalu, manusia membangun piramida di Mesir atau katedral megah di Eropa yang proses pembangunannya memakan waktu ratusan tahun. Pekerja yang meletakkan batu pertama tahu bahwa mereka tidak akan hidup untuk melihat atap katedral itu selesai. Konsep ini disebut cathedral thinking—kemampuan bekerja untuk visi yang melampaui usia kita sendiri.

The Long Now Foundation ingin mengembalikan pola pikir itu ke dalam masyarakat modern.

Di tengah kecemasan kita menghadapi perubahan iklim, krisis ekonomi, dan gempuran berita buruk yang membuat kita pesimis, Jam Sepuluh Ribu Tahun menawarkan sebuah empati yang dalam. Jam itu diam-diam memberi tahu kita: Tenanglah. Waktu masih sangat panjang. Umat manusia punya masa depan.

Kita tidak harus membangun jam mekanik di dalam gunung untuk ikut serta. Kita bisa memulainya dari hal sederhana. Ketika kita menanam pohon yang buahnya baru bisa dinikmati oleh anak cucu kita, kita sedang mempraktikkan cathedral thinking.

Mari kita renungkan bersama. Setelah membaca ini, ketika kita kembali melihat ponsel dan dibombardir oleh hal-hal yang terasa begitu mendesak hari ini, ingatlah bahwa jauh di dalam sebuah gunung di Texas, ada sebuah jam raksasa yang sedang menunggu untuk berdetak.

Kita adalah leluhur bagi orang-orang di masa depan. Warisan apa yang ingin kita tinggalkan untuk mereka?