sains tentang ketahanan mental atau resilience
membangun sistem saraf yang tangguh
Pernahkah kita mengalami hari yang begitu buruk, sampai-sampai hal sepele seperti tersandung kaki meja membuat kita ingin menangis atau malah mengamuk? Saya yakin kita semua pernah mengalaminya. Kita sering diajarkan dari kecil bahwa orang yang kuat adalah mereka yang tahan banting. Seperti pahlawan di film-film laga. Tapi di dunia nyata, kenapa ketahanan mental kita rasanya seperti rollercoaster? Kadang kita merasa bisa menaklukkan dunia, tapi di hari lain membalas satu pesan teks saja rasanya seperti harus mendaki gunung es. Mari kita sepakati satu hal dulu. Ketangguhan mental belumlah lengkap jika kita hanya menganggapnya sebagai soal seberapa pintar kita menyembunyikan kesedihan. Ini bukan sekadar kutipan motivasi yang manis di media sosial. Sejatinya, ini murni soal biologi.
Selama berabad-abad lamanya, kita terjebak pada satu mitos kuno yang berbahaya. Kita mengira ketahanan mental atau resilience bersumber dari karakter. Kalau kita mudah stres, berarti kita punya mental yang lemah. Padahal, sains modern justru berkata lain. Ketahanan mental sebenarnya bermula dari sebuah jaringan kabel listrik yang sangat rumit di dalam tubuh kita. Namanya sistem saraf otonom atau autonomic nervous system. Sistem ini ibarat alarm keamanan canggih di sebuah gedung rahasia. Tugas utamanya cuma satu: menjaga kita tetap hidup. Saat manusia dikejar harimau di zaman purba, alarm ini menyala terang. Jantung berdebar ekstra cepat, napas memburu. Mode fight or flight (lawan atau lari) langsung aktif. Masalahnya, hari ini wujud harimau itu sudah berubah. Ia menjelma menjadi tumpukan pekerjaan yang menumpuk, tagihan bulanan yang menipis, atau sekadar notifikasi pesan dari atasan di malam hari. Otak dan tubuh kita ternyata tidak bisa membedakan mana ancaman fisik yang mematikan dan mana ancaman psikologis. Alarmnya tetap menyala sama kerasnya. Lalu, coba teman-teman bayangkan, apa jadinya kalau alarm berisik ini dibiarkan menyala terus-menerus tanpa henti?
Di sinilah sejarah mencatat anomali yang sangat menarik untuk kita bedah. Coba teman-teman ingat sejenak kisah penjelajah Sir Ernest Shackleton pada tahun 1914. Kapalnya hancur perlahan karena terjepit di tengah laut es Antartika yang membeku. Ia dan seluruh krunya terdampar berbulan-bulan di tempat paling ekstrem di bumi, hampir tanpa harapan. Logikanya, mereka semua bisa saja menjadi gila karena stres, saling menyerang, atau sekadar menyerah pada cuaca dingin yang membunuh. Tapi keajaiban terjadi. Mereka semua selamat pulang hidup-hidup. Pertanyaannya, apa yang membuat sistem saraf Shackleton dan krunya tidak hancur berantakan? Apakah mereka memang terlahir dengan gen mutan yang super tenang? Atau, jangan-jangan ada sebuah tombol rahasia di dalam anatomi tubuh manusia yang tanpa sadar mereka tekan setiap hari di tengah badai es itu? Misteri kelangsungan hidup semacam ini sempat membuat para neuroilmuwan dan pakar psikologi frustrasi selama bertahun-tahun. Jika stres adalah reaksi otomatis tubuh yang tidak bisa dicegah, bisakah kita sebagai manusia "membajak" sistem otomatis tersebut?
Jawabannya akhirnya terkuak, dan ia bersembunyi di balik sebuah saraf panjang yang membentang dari pangkal otak hingga menjalar ke usus di perut kita. Ilmuwan menyebutnya vagus nerve atau saraf vagus. Di sinilah letak rahasia dari Polyvagal Theory (Teori Polivagal) yang digagas oleh Dr. Stephen Porges. Saraf vagus ini bertindak murni sebagai pedal rem utama bagi sistem saraf kita. Saat alarm stres menyala, saraf vagus-lah yang bertugas mematikan alarm tersebut dan mengembalikan tubuh ke mode rest and digest (istirahat dan cerna). Hal yang paling mengubah cara pandang kita adalah fakta bahwa saraf vagus ini bertindak layaknya sebuah otot. Semakin sering dilatih, semakin kuat ia berfungsi. Inilah keajaiban biologi yang disebut sebagai neuroplasticity. Ketahanan mental bukanlah bawaan lahir yang statis. Ia adalah struktur fisik di otak yang bisa kita bangun, bongkar, dan rancang ulang. Shackleton dan krunya bisa bertahan kewarasan karena ia rutin menciptakan rutinitas kecil setiap hari, menyanyi bersama, dan terus menjaga hubungan sosial antar krunya. Secara ilmiah, interaksi sosial yang terasa aman dan rutinitas terprediksi adalah "latihan beban" terbaik untuk memperkuat saraf vagus kita. Jadi, resilience sama sekali bukan tentang seberapa kuat kita menahan rasa sakit sampai kita mati rasa. Resilience adalah seberapa efisien dan cepat sistem saraf kita bisa kembali ke titik tenang setelah dihantam badai stres. Ketika teman-teman sengaja menarik napas panjang hingga perut mengembang, membasuh wajah dengan air dingin, atau sekadar tertawa rileks dengan sahabat, teman-teman sedang memodifikasi arsitektur saraf di dalam tubuh. Kita sedang merakit pedal rem stres yang jauh lebih pakem.
Pada akhirnya, menyadari bahwa ketangguhan kita sangat berbasis pada biologi adalah sebuah kelegaan yang luar biasa. Kalau hari ini teman-teman merasa sangat kewalahan, itu sama sekali bukan karena teman-teman lemah atau gagal menjalani hidup. Itu sekadar pertanda bahwa sistem saraf kita sedang overheating karena alarmnya menyala terlalu lama tanpa henti. Kita tidak perlu lagi menghakimi dan menyalahkan diri sendiri karena merasa cemas atau takut. Yang perlu kita lakukan saat ini hanyalah pelan-pelan mulai melatih "otot" saraf vagus kita kembali. Mulailah dari hal yang paling kecil. Tarik napas perlahan. Buang lebih perlahan lagi. Berikan sinyal yang jelas pada tubuh bahwa kita aman pada detik ini. Sistem saraf yang tangguh tidak pernah dibangun dalam semalam, melainkan perlahan lewat rasa aman yang kita berikan pada diri sendiri setiap harinya. Mari kita berhenti menuntut diri untuk selalu terlihat kuat tak tertandingi. Karena kadang-kadang, bentuk keberanian yang paling besar adalah mau mengakui bahwa kita sedang lelah, lalu mengizinkan diri mengambil jeda untuk mereset ulang kabel-kabel lelah di dalam tubuh kita.